Perjalanan ke Pasar Husein

Sabtu, 12-Februari-2011

Hari ini teman sekamarku Dana ulang tahun, dia berencana ingin membuat Syukuran untuk teman-teman Al-Masry[1].



Sejak pukul sebelas kita berangkat ke Husein. Aku, Dana, Hanif dan Yaqin sudah mempersiapkan barang-barang untuk belanja.



Awalnya kita berencana untuk berangkat jam sepuluh, tapi karena air di Bu’uts[2] habis sejak tadi subuh, terpaksa kita undur sampai airnya hidup.



Di perjalanan kami membeli sayur-sayuran, ada beberapa penjual sayur di sana, tapi Yaqin menuju ke tempat “langganan”, toko sayur yang penjaganya seorang gadis mesir, Hanif tertawa, targetnya selalu toko ini, kalau Yaqin beli sayur.



Gadis mesir dengan balutan Jalabiyah[3] hitam dan kerudung yang ditata sembarangan memberikan kesan aneh bagiku, bagaimana tidak? Masih terlihat olehku rambut pirang di keningnya. Tidak cantik aku pikir, karena aku pernah melihat yang jauh lebih cantik dari ini. Tapi aku yakin kalau orang lain dimintai komentar tentang dia, mereka pasti bilang, “ dia cantik ”.



Ku lihat di wajahnya begitu tebal Make-Up yang dia pakai, aku ancungi jempol gaya Make-Up para wanita mesir, setebal apapun bedak yang mereka pakai, mereka tidak kelihatan menor, malah terkesan anggun dan memperindah wajahnya.



Tanpa sengaja ku lihat jemarinya mangambil barang-barang pesanan kami, dan ku bedakan dengan wajahnya, kontras sekali. Tangan dan warna kulit wanita pedesaan di satukan dengan gaya wajah gadis metropolitan. Mmmm….jadi agak illfeel.



#######



Kami melanjutkan perjalanan, menelusuri setiap jengkal pasar Husein bagian dalam, mata kami tertuju pada satu toko, Toko ikan. Aneka ikan dipamerkan di luar toko.



Dan…sesuatu yang tak terduga terjadi, Perkelahian di Pasar, seorang pemuda datang secara tiba-tiba sambil mengomel ke arah penjual ikan, entah siapa pemuda itu, mungkin saingan bisnisnya.



Si penjual ikan pun tak mau kalah, mereka saling menarik kerah baju dan terjadi aksi hantam, aku yang berdiri di belakang pun terkena dorongan tubuh kekar mereka, Yaqin dan Hanif menghindar, aku pun juga begitu, Dana juga menghindar tapi ke arah yang berlainan, kami mengurungkan membeli ikan disana, kami ingin mencari tempat lain.



Sebelum kita melangkah jauh ke luar, mencari toko lain, sejenak aku melihat ke belakang, orang-orang di pasar ramai mengerumuni kedua pemuda tersebut, melerai dan mendinginkan aksi kekanakan itu.



Belum beberapa langkah kita menjauh, secara mendadak teman-teman kembali lagi ke tempat tersebut, aku tidak tahu ada apa, mungkin karena di tempat lain harganya mahal, atau satu-satunya penjual ikan hanya ada di sana. Karena yang benar-benar faham dengan keadaan serta tata letak kawasan Husein hanya Hanif, sebelum pindah ke Bu’uts[4], Hanif beberapa bulan tinggal di sana.



Kami lihat keadaan di sekitar, konflik terlihat sudah aman, kami berniat untuk membeli ikan dan menanyakan harga masing-masing ikan.



Adu mulut menyeruak kembali, terdengar sangat memekikkan telinga, hati pemuda penjual ikan memanas, dan mengambil pisau besar pemotong ikan, Yaqin dan Hanif melihat hal itu langsung keluar, aku dan Dana pun mengikuti mereka. Ku lihat si pemuda berdiri penuh emosi sambil menggenggam pisau yang dia sembunyikan di bawah meja.



Menuju ke tempat penjual daging, kami bepikir sejenak sebelum memutuskan membeli daging, bemusyawarah.



Memutuskan untuk kembali ke pasar ikan tersebut, kita tidak mungkin menggantinya dengan daging atau ayam, karena hampir setiap hari kita makan kedua hal itu.



Kita kembali menapakkan kaki ke penjual ikan, sambil berharap konflik tidak terjadi lagi, kita membeli ikan Tuna tiga kilogram, setiap kilonya seharga 12 Pound. Kami melanjutkan langkah kami menuju masjid Al-Azhar.



Sebelum menuju masjid Al-Azhar, Dana mentraktir kami Tha’miyah, dulu aku sering berpikir tentang komposisi Tha’miyah yang lezat dengan sensasi kriuk-nya, tapi tak juga ku temukan. tapi disini, aku menemukannya.



Di dalam toko yang sempit itu, pelayannya tidak hanya cuma menggoreng bahan yang sudah jadi layaknya di luar, tapi di dalan sini, aku melihat mereka juga menyiapkan komposisinya, sayur-sayuran yang tampak seperti Seledri, di potong kecil-kecil batangnya, sementara daunnya di buang, kemudian digiling bersama kacang kedelai dan tepung, tinggal digoreng deh.



Pantas ada sensasi kriuk-nya, ingat tempe yang di goreng kering? Bagaimana rasanya saat kamu memakannya? Ada sensasi kriuk-nya kan? Nah..!! dari sanalah sensasi kriuk di Tha’miyah, KACANG KEDELAI.



Ah…..tiba-tiba aku teringat pulang, aku bertekad untuk memasak Tha’miyah sepulangku nanti, bayangku serasa sudah sampai di rumah sambil memasak Tha’miyah untuk orang-orang rumah, ku sisakan sepiring untuk di letakkan di luar, untuk cak Ajis, cak Aly, dan cak Arif (galing) yang bekerja di bengkel.



Dan…..Tha’miyah Special kan ku buatkan untuk Afrah dan Rifky.






Zhie



[1] Nama jasa agen yang memberangkatkan kita, yang kemudian menjadi nama organisasi shilaturrahim.

[2] Sebutan asrama kita

[3] jubah

[4] Sebutan asrama kami.

»»  Baca Selengkapnya...

Tetesan Embun di Kesunyian Hati

Jum’at, 11-Februari-2011

Malam ini, di saat mega merah lenyap sudah, menggantikan kelamnya malam yang berkeinginan untuk menampakkan wajahnya, beberapa hati mulai ikut kelam.

Malam lalu , presiden Mubarak berorasi di depan publik, menyatakan dirinya tidak akan turun sampai akhir masa jabatannya, September.

Beberapa dari penghuni Bu’uts[1] yang tersisa menonton hasil orasi di ‘Imarah Thal’at[2] tadi malam, walau dengan cahaya yang remang-remang, karena memang tidak ada lampu yang menyala, entah sengaja tidak di hidupkan atau memang tidak ada fasilitas lampu.

Gemuruh riuh mulai nampak terdengar, mengganggu sebagian orang yang nampak tenang mendengarkan.

“ Yaumul Ghodhob [3]”, itu julukan teman-teman untuk hari ini, entah apa yang terjadi, mungkin masyarakat mesir marah pada hari ini mendengar keputusan sang presiden malam lalu.

Entah apa rakyat mesir benar-benar marah dan melakukan demo besar-besaran hari ini, entah aku tak tahu, aku terpenjara dalam terpurung hari ini, tidak bisa melihat kebenaran cahaya di luar.

malam ini, Mubarrak turun dari pemerintahan, entah apa yang terjadi setelah kekukuhannya tadi malam yang menyatakan tidak ingin mundur. Berita ini menggegerkan semua Masisir yang berkeinginan untuk pulang, termasuk teman sekamarku, Boris.

Berita itu mengagetkannya, bagaimana tidak, dia sudah bersiap-siap sejak jauh-jauh hari, membeli beberapa kitab, papyrus, gantungan kunci, kurma isi Almound dan buah tin sebagai oleh-oleh.

Ratusan pound sudah ia habiskan untuk membeli barang-barang itu, tapi berita yang tak terduga itu meluluh lantakkan asanya, padahal esok adalah kloternya, kloter tujuh.

Beberapa hari lalu, dia mengatakan, apa jadinya jika tak jadi pulang, uangku sudah habis disini tuk membeli oleh-oleh, mau hidup dengan apa aku?

Entah seperti apa hatinya sekarang, usai sholat Isya’ tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, memang sejak beberpa hari yang lalu dia mengatakan kepadaku tidak ingin berbuat apa-apa, karena di benaknya hanya ada “Rumah”.

Dia mengalihkan kegemuruhan hatinya dengan menyetrika, hening, tanpa suara.

Hhhhh….seperti yang lainnya, aku juga berkeinginan untuk pulang, orang miskin sepertiku mendapat kesempatan gratis untuk melihat keluarga, siapa yang tidak ingin?

Sepertinya rakyat mesir merayakan kegembiraannya di luar sana, terdengar di sampingku, Dana[4] menyalakan ponsel televisinya, rakyat mesir merayakan turunnya Mubarak, mereka bersorak-sorak sambil menyalakan kembang api.

Bahagia rasanya melihat suara gemuruh kebahagiaan mereka di luar, tapi di dalam sini, riuh kesedihan menyelimuti kami, kegelapan tangis mulai melanda hati kami, walau tak nampak dan tak terdengar, kesempatan untuk melihat keluarga tercinta…..pupus sudah….

Allah……tapi kami masih ingin berharap, berharap mendapatkan secercah cahayamu…..

Zhie



[1] Nama asrama yang kita tempati

[2] Salah satu nama gedung di Asrama

[3] Hari kemarahan

[4] Temen sekamarku

»»  Baca Selengkapnya...

Teman Itu Bernama Dzunnun

Rabu. 9 Februari 2011

Hari ini, aku termenung, membayangkan Dzunnun yang mungkin sudah sampai di Indonesia, senin lalu kami bertemu di pasar Husein, dia nampaknya sedang berbelanja bersama temannya, untuk oleh-oleh rumah.

Dzunnun, seorang teman dari Lamongan, yang juga duduk di satu organisasi denganku, Informatika. Aku mulai kenal dan menjadi sahabat dekat saat di Informatika, saat itu kita sedang kerjasama membersihkan kantor ICMI.

Tugas pertamaku sebagai Pers, aku bertugas bersamanya, Saat itu aku masih tinggal di Bawwabah Tsani, Hay ‘Ashir.sementara dia tinggal jauh di Damar Dash, dekat Ramses. Saat bertugas dia terkadang menginap di rumahku.

Pengalaman pertama wawancara yang sungguh unik, kita wawancara dengan hape IMO-ku, yang ternyata tidak Compatible untuk merekam, terpaksa hasil wawancara kita sia-sia, karena tidak ada rekaman, tapi untungnya di samping merekam, kita pun mencatat di buku saku kita.

Dan sebagai penulis Suara Mayoritas, Dzunnun di amanahi menulis dengan menggunakan Laptop Mbak Rini, haha aku buka sedikit file-filenya, ternyata Mbak Rini suka dengan film korea seperti Boys Before flower dan You’re Beautiful. Dan saat itu juga aku tertawa melihat aksi Dzunnun yang belum pernah menyentuh Laptop. hahaha

Dia sahabat baik yang aku dapatkan di Mesir, jika dahulu semasa SMA aku punya seorang sahabat bernama Yogi Galih, kini aku mempunyai Dzunnun di Mesir. Ada beberapa sifat yang mirip di antara keduanya.

Saking akrabnya kita, orang-orang mengira Dzunnun juga tinggal di Bu’uts, padahal kita tinggal di tempat yang amat berjauhan, tiap aku datang sendirian, orang-orang pasti menanyakan perihal Dzunnun kepadaku, mengira kita tinggal satu kamar.

Saat di Husein, dia mengatakan kepulangannya besok, Selasa. Sebelumnya aku menelpon akan mengunjunginya jika sudah sampai di Indonesia. Dia menantikan kedatanganku.

Aku baru menyadarinya beberapa bulan setelah kenal dengannya bahwa dia putra seorang kyai. Benar-benar tidak menyangka, anak berkacamata itu seorang Gus.

Dulu dia menceritakan kepadaku, saat anak pertama dari keluarganya berniat melangkahkan kakinya ke negeri Kinanah, orang tuanya melepaskannya dengan tangis haru, begitu juga anak keduanya, di lepaskan dengan rasa haru, tapi saat gilirannya untuk

menginjakkan kaki ke negeri Kinanah, tidak ada satu orangpun yang menangisi dia, nampaknya kedua orang tuanya sudah kebal, haha dia mengumpat-unpat sambil tertawa di dalam hati.

Saat Ramadhan menghiasi Bumi Sahara ini, Aku pernah satu kali ke rumahnya di Damar Dash, bersama Ilham dari Makassar, seorang kru Informatika juga. Kami sempat mencari Musa’adah[1] di sana, ternyata kita harus menanggung malu karena Musa’adahnya di peruntukkan oleh para ibu-ibu dan anak perempuan, pantas saja tidak ada lelaki satupun yang ikut mengantri.

Saat itu juga, aku juga sempat beradu sama Dzunnun untuk mendapatkan cewek mesir yang kebetulan menjaga tempat ‘Ashob. Perempuan muda mesir yang terbalut kerudung mesir itu terus memandang kearahku, dua kali aku berpapasan pandangan dengannya . aku bilang pada Dzunnun kalau perempuan mesir itu terus memandangiku, Dzunnun tertawa dan berdalih, kalau perempuan itu bukan memandang kearahku tetapi ke arah Dzunnun, haha terkadang pertengkaran membawa suasana keakraban. Sampai sekarang kita masih berjuang untuk berkenalan dengannya, tapi sayangnya perempuan mesir itu sudah lama tidak menjaga toko lagi, aku berkata pada Dzunnun kalau ada yang lebih cantik daripada dia, tapi dia menjelaskan kepadaku, kalau aku belum melihat dia tersenyum, belum melihat dia bersedih dan menitikkan air mata, bagai embun yang membasahi kegersangan hati.

Aku pernah bercerita dan memohon bantuan Dzunnun, Cuma dia satu-satunya sahabat di

mesir yang aku mintai bantuan seperti ini, aku minta dia agar “Keep Spy on me”, jika dia melihat suatu saat aku berpacaran di mesir, aku ingin dia memukulku sekeras-kerasnya, mengingatkan kembali kepadaku bahwa menapaki kaki di mesir ini bukan untuk mencari pasangan tetapi untuk menajamkan skill ku. Yaa…Cuma dia yang aku mintai hal seperti itu…

Suatu malam saat kami berdua meneguk Ashir ‘Ashab [2]di tengah cahaya bulan yang lirih menampakkan sinarnya, dia berkata kepadaku, “Zen, bagaimana kalau aku keluar dari Informatika?” jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat, apa jadinya jika Informatika tanpa dia, aku mempersiapkan hatiku dan bersikap tegar, kupaksakan senyum menghiasi bibirku, “ mengundurkan diri saja nun, jika memang itu yang terbaik bagimu”.

Sepertinya aku berat untuk melepaskan sahabatku itu, tanpa dia sadari, dia telah mengajariku berbagai hal disana, aku melihat karyanya, teknik wawancara, teknik menulis dan menjualnya sungguh di ancungi jempol oleh para kru lain, pemikirannya juga tanpa terduga, kata-kata yang keluar dari bibir dan tulisannya sungguh mengandung makna yang dalam, terkadang orang lain tidak memahaminya jika tanpa penjelasannya. Si jenius berkacamata.

Dia menceritakan alasan pengunduran dirinya kepadaku, dia tidak mempunyai uang, dia sangat menikmati sekali di Informatika, “wawancara, menulis, benar-benar bisa mengembangkan kemampuanku, aku sangat menikmatinya”, dia bilang, semenjak bergabung dengan Informatika, dia terkaget, saat dia menghitung total hutang-hutangnya, hutangnya mencapai seratus pound, belum pernah dalam sejarah hidupnya dia berhutang sebanyak itu di mesir. Hutang untuk bolak-balik naik bis dan sebagainya.


Semenjak itu, dia mulai memikir masak-masak untuk mengeluarkan uang satu Pund hanya untuk naik bis, dia tertawa di dalam hati, saat awal keberangkatan dia bisa dengan leluasa jajan Thojin[3]untuk sekedar mengenyangkan perutnya, tapi sekarang tidak bisa lagi seperti itu, mengeluarkan uang satu Pound untuk naik bis pun dia harus berpikir masak-masak.

Dia memohon kepadaku untuk tidak memberitahukan kabar ini kepada Bang Joe dan Mbak Rini. Iya aku tidak akan pernah memberitahukannya, biar dia sendiri yang suatu saat memberitahukannya, aku mengerti jika aku memberitahukannya langsung kepada Bang Jo dan Mbak Rini, dia akan merasa malu, aku tidak ingin mempermalukannya, dia pasti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan hal itu kepada mereka berdua.

Aku membayar minumannya, tapi dia menolak, dia berkata, selama aku masih mampu, aku tidak ingin menggantungkan orang lain, pribadi yang mengagumkan.

Di malam lain, usai sidang redaksi di Hadiqoh Dauliah[4], kami bertemu di sekertariat Gama Jatim Dzunnun mengatakan kepadaku, dia sudah mengatakan kendala yang menimpanya kepada dua pimpinan informatika itu ( Bang Joe & Mbak Rini, red ), mereka senang dengan keterbukaan krunya, hal itu yang seolah memunculkan sifat kekeluargaan di antara kru, mereka menyuruh Dzunnun untuk mencatat seluruh biaya yang di habiskan dalam melakukan wawancara yang nantinya akan di ganti oleh mereka berdua.

Pimpinan yang baik, aku benar-benar mencintai Informatika, karena suasana kekeluargaan yang aku rasakan saat berada disana, di sini orang macam apapun dan dalam organisasi apapun di terima dan bisa bekerjasama. Berbeda dengan kekeluargaan

pada umumnya, yang terkadang masih mendiskriminasikan beberapa organisasi.

Hari ini jam satu ba’da Dzuhur, ponselku bergetar dan berteriak “ Konnichiwaa…!!!”, aku melihat di layar, ada nama Dzunnun, aku terheran, memang dia bisa menelpon dari Indonesia dengan nomor mesir?, aku angkat telpon, terdengar sapaan Dzunnun, “Zen, aku wes nang pesawat”, oh….ternyata keberangkatan Dzunnun di undur hari ini, memang aku mendengar rumor, katanya keberangkatan kemarin sebagian di undur karena pesawat yang di janjikan ada dua buah ternyata cuma satu buah.

Dia melanjutkan pembicaraan, “ tak enteni nang omahku yo Zen”, aku membalasanya iya, aku terharu, dia masih menyempatkan untuk menelpon aku sebelum berangkat. Aku bertanya apa saja oleh-oleh yang dia bawa siapa tahu aku juga tertarik untuk membawanya, dia membawa Karkade, Rokok mesir dan lainnya.

Aku titp doa kepada sahabatku itu, berharap aku pun mempunyai kesempatan juga seperti dia untuk bisa mengunjungi tanah air, karena timbul keraguan dalam diriku untuk bisa menginjakkan kaki ke tempat lahirku mendengar kabar bahwa evakuasi di hentikan. Tapi dia berhasil menguatkan tekadku, dia berkata bahwa evakuasi total akan di lakukan, semua pasti akan bisa pulang…..

Iya…aku juga berharap seperti itu….aku percaya kepada Allah…

Zhie



[1] Bantuan berupa uang atau sembako yang di berikas para dermawan menjelang Ramadhan.

[2] Jus tebu

[3] Makaroni

[4] Taman International

»»  Baca Selengkapnya...

Ujian Pertamaku

Sabtu, 8 Januari 2011

Hari ini ujian pertamaku di Al-Azhar. Berdebar, pasti. Teman satu jurusanku, Alwi mengatakan kalau sejak semalam dia tidak bisa tidur. Bisa aku maklumi, karena saat ini kita berdiri di universitas paling tua di dunia. Wajar jika kita tegang dan berdebar menghadapinya. Karena kita tidak tahu soal apa yang akan di keluarkan dan proses ujian seperti apa yang akan di laksanakan universitas bergengsi itu.

Dua minggu sebelum ujian dilangsungkan, aku mati-matian belajar, di kamar, aku berusaha membuang bantalku agar aku tidak tergoda untuk berbaring dan tertidur, di masjid aku menahan dinginnya lantai masjid dan udara musim dingin yang tertiup dari sela-sela pintu dan candela. Aku harus bertahan, aku tidak ingin pengorbanan kakak dan orang tuaku sia-sia. Saat belajar di keheningan masjid dan kesunyian malam, tanpa terasa dadaku sesak, menyesal karena aku tidak menggunakan waktuku dengan baik. Aku terlalu melalaikan muqarrar[1], aku selalu berpikiran, aku akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh besok, besok, dan lusa. Sampai akhirnya Allah memberi pelajaran kepadaku, dengan semakin cepatnya waktu ujian di hadapanku. Kenapa aku selalu seperti ini? Selalu menunda-nunda. Selalu lalai, tidak bisa belajar dari pengalaman kemarin. Allah……

Aku masuk di jurusan Dirasat Islamiyah, yang sistem ujiannya paling berbeda dengan jurusan-jurusan lain. Jika di jurusan-jurusan lain antara Maddah[2] satu dan Maddah lainnya ada selang tiga sampai empat hari untuk mengulang dan belajar, tapi di Dirasat Islamiyah tidak. Antara dua Maddah hanya selang satu hari, waktu untuk mengulang terbatas.

Tapi aku bersyukur, ada sisi positif selangnya satu hari di antara dua Maddah, setelah ujian kita tidak bisa bersantai ria, kita langsung pegang Muqorror untuk ujian selanjutnya. Tidak ada waktu berleha-leha. Berbeda dengan jurusan lain yang selang waktunya lama. Seperti yang aku lihat Selesai ujian pertama mereka berleha-leha, dengan alasan istirahat, mereka kebablasan. Untuk memulainya pun sangat berat, dan tanpa mereka kira, ujian sudah di depan mata, sedangkan bekal masih minim. Tapi tidak semuanya seperti itu kawan, hanya sebagian.

Hari ini aku ujian pukul sepuluh pagi, aku berangkat bersama Hariadi, Alwi sudah berangkat duluan, karena aku yang menyuruhnya, Alwi menunggu kami di Mahattah, terminal. sekitar jam setengah sembilan Alwi menelpon aku, dia menanyakan lokasiku dimana. Dia bilang sudah ada bis di Mahattah. Aku menyuruhnya berangkat duluan, karena aku menunggu Hariadi di kamarnya. aku tidak ingin menjadi penghambatnya, apalagi kita belum tahu dimana tempat ujian kita.

Saat berjalan menuju gerbang asrama, Hariadi menanyakan kesiapanku. Barang-barang apa saja yang sudah di bawa. Saat lisannya tertuju pada satu kata, Kerneh, kartu pelajar. Ya Allah….aku lupa..!! kita tidak akan bisa ikut ujian tanpa kartu itu. Aku langsung berlari dan berkata pada Hariadi agar menungguku di Mahattah. Dengan segenap tenaga aku kerahkan untuk mencapai Gedung Sya’rowi, asramaku. Dengan desiran angin lembut musim dingin yang menerpa wajah dan setiap bagian anggota tubuhku yang terbalut sweater, aku tetap berlari. Demi mengejar waktuku, meski haus dahaga mulai menggerogoti kerongkonganku, aku terus berlari. Dan sampailah aku di gedung Sya’rowi lantai satu. Perjuanganku belum usai. Kamarku terletak di lantai empat. Aku istirahat sejenak, ku hela nafas panjang, ku mulai mendaki dengan semangat. Lantai demi lantai ku lalui. Beberapa orang kulit hitam ku jumpai menuruni tangga dan berpapasan denganku. Ku ucapkan salam saat aku berpapasan dengan mereka. Mereka menjawabnya dengan senyum yang penuh keikhlasan.

Dan akhirnya sampai juga aku di kamar. Ku buka pintu, dan terlihat teman sekamarku, Boris dari Padang sedang mengotak-atik HP. Aku yakin pasti dia sedang membuka Facebook. dia bertanya kenapa aku kembali. Aku diam tak menjawab. Aku buka satu persatu isi dalam tas, aku buka dompet yang tersembunyi di dalam tas. Dompet kenangan yang di belikan ibu saat aku mendaftar sekolah di Jogja. Iya waktu itu aku hanya mempunyai satu dompet, dompet Dagadu yang aku beli bersama bapak-ibu saat kami jalan-jalan di Surabaya, saat itu aku masih kelas 2 SD. Sampai sekarang dompet itu masih ada. Ibuku memarahiku, katanya dompetnya jelek, harus beli baru. Padahal menurutku dompetnya masih bagus, dompet ungu yang berkolaborasi dengan warna kehijauan di kedua sisinya, dengan hiasan satu mata, khas dompet Dagadu. Aku juga tidak mau menghambur-hamburkan uang. Jika dompetnya masih bagus dan bisa di pakai, kenapa harus beli lagi. Tapi ibu tetap bersikukuh membelikan aku dompet baru. Aku tidak bisa berkata-kata, hanya diam.

Aku menemukan kernehku di dalam dompet, sejenak pikiranku tertuju pada kenangan di dompet itu. Saat di jogja ibu rela menunggu aku mendaftar, tes sampai menunggu hasil pengumuman, berminggu-minggu, bayangkan. Kita hanya terdiam di kamar penginapan yang sempit, membosankan?, tentu. Aku hanya bisa melihat TV, waktu itu tiap sore ada film The Batman, serial kartun Batman yang terbaru. Dan malamnya ibu menonton sinetron religi Hidayat, waktu itu sedang gencar-gencarnya film seperti itu. Aku kasihan dan terenyuh saat itu, aku sudah banyak merepotkan ibu. Aku tidak ingin menyusahkan ibu. Aku lebih baik menyusahkan diriku sendiri daripada menyusahkan orangtuaku, karena hal itu membuatku bisa lebih tenang.

Kulitku gatal-gatal, ini sering terjadi di musim dingin. Apalagi sehabis aku lari tadi. Menurut analisaku, penyebab gatal-gatal itu karena keringat yang tidak bisa keluar melewati pori-pori, akibat udara dingin yang mempersempit pori-pori.

Aku ambil kernehku, aku bersiap kembali untuk berlari ke Mahattah depan asramaku. Aku kembali berlari. Aku cari Hariadi di setiap sudut Mahattah tapi aku tidak menemukannya. Ya Allah….benar-benar teman yang Individual, bukan teman yang cocok untuk di jadikan sahabat. Untuk kesekian kalinya aku di kecewakan seperti ini. Padahal dia yang menyuruhku berangkat bersama, dia yang menyuruhku menunggu dia mandi sejenak, Yaa Salam…..tahu begini aku berangkat bersama Alwi tanpa menunggu Hariadi. Aku terpaksa naik bis sendirian, untunglah bis yang menuju Madinatun Nasr langsung muncul, aku langsung menaikinya.

Aku turun di jembatan layang, di perjalanan menuju kuliah aku bertemu dengan orang hitam yang ternyata jurusannya sama denganku, Dirasat Islamiyah. Aly namanya. Seingatku dia dari Chad. Aku belum pernah melihatnya di kuliah, dan ternyata aku baru mengetahuinya. Dia dari Madzhab Maliki, sedangkan aku Madzhab Syafi’i. kelas kami berbeda, pantas jika aku belum pernah melihatnya.

Suasana di luar sama sekali berbeda dari biasanya. Di waktu ujian ini, banyak madam[3] dan ammu[4] menggelar dagangan mereka di depan tembok-tembok depan kuliah. Mereka berjualan berbagai macam alat tulis dan sempat aku lihat juga mereka berjualam roti yang mungkin harganya Rub[5]’ atau Nush[6]. Aku berhenti di salah satu penjual laki-laki dan membeli penggaris dua buah. Satu untukku dan satu untuk Boris. Harganya satu Pound. Saat aku berjalan sedikit, aku baru menyadari kalau di sebelahnya ada Madam yang berjualan juga, dan sepi oleh pengunjung. Rasa sesal menghinggapi hatiku. Jika tahu sejak dari awal, aku tentu lebih memilih membeli di Madam itu. Tapi……. tentu semua ada hikmahnya. Untukku, juga untuk madam itu.

Zhie



[1] Diktat kuliah

[2] Materi

[3] Sebutan ibu-ibu mesir

[4] Sebutan paman-paman mesir

[5] Seperempat pound

[6] Setengah Pound

»»  Baca Selengkapnya...

Teriakan Sunyi di Dalam Hati

Senin, 7-Feburuari-2011

Hari itu, sabtu , 5-Februari-2011, Ponselku berdering pada jam setengah sebelas malam, Ringtone khas yang sengaja aku settingpun berbunyi, Konnichiwa….!!!, Romal yang saat itu mulai memasuki kamarku yang berniat untuk mengopi film Kamen Rider Double seketika tertawa mendengar Ringtone yang berbunyi di Ponselku, aku coba raih Ponselku yang tergeletak di meja.

Aku lihat ke arah layar, nomor mbak Rini, PinUs Informatika [1]yang tertera disana. Aku angkat telepon itu, dengan suara lemah dia mengatakan bahwa dia besok akan pulang ke Indonesia, dia sudah mendapat giliran kloter, dengan nada lemah dan sedih dia bertanya tentang hutang pulsa, aku bilang santai saja mbak, hutangnya besok di bayar saat sudah kembali ke Mesir saja. Mbak Rini memberi inisiatif saat aku tiba di Indonesia, aku di sarankan untuk memberi nomorku kepadanya agar uangnya bisa di transfer, aku mengiyakan saja, aku tidak ingin menyulitkan pelangganku.

Dengan nada yang agak mulai mencerah yang mungkin di karenakan bebannya berkurang, dia mengucap salam sebagai penutup pembicaraan kami, aku pun membalasnya dan menutup ponsel itu.

Mendengar kata pulang, aku teringat kejadian kemarin Maghrib, usai melaksanakan Sholat Maghrib, aku melakukan sholat sunnah dua rakaat, aku tundukkan kepalaku, berdo’a kepada Allah, berharap kesehatan dan kelapangan Rizki untuk keluarga dan teman-temanku, dan tak lupa aku berdo’a untuk kenajahan[2] kami dalam menempuh ujian Al-Azhar dengan penuh khidmat dan dari hati yang terdalam.

Usai berdo’a, aku balikkan badanku ke belakang, berjalan menuju rak, mengambil salah satu kitab suci Allah, dan lantas mencari tempat untuk bercinta, menenggelamkan diri dengan ayat-ayat yang tersusun rapi dan indah itu, tapi malang nasibku, saat itu tempat bersandar penuh dengan orang-orang yang berniat sama denganku, menyelami ayat-ayat Allah.

Mataku menelusuri seluruh sudut masjid, semuanya penuh, kecuali satu tempat di samping sosok yang ku kenal, ismail. Aku lupa darimana dia berasal, tapi aku senang mengobrol dengan dia apalagi jika menggunakan bahasa inggris.

Aku izin untuk duduk di sampingnya, wajahnya murung, aku Tanya kapan dia akan pulang ke negerinya?, dengan suara serak dia menjawab, aku disini ingin sekali belajar, aku sudah bulatkan tekad datang kesini untuk menuntut ilmu, tapi….dengan suara yang tertahan menahan haru, dia melanjutkan “ Hasbunallah wa ni’mal wakiil “, aku mencintai Al-Azhar, aku tidak ingin pulang, tapi…..aku tidak bisa mengelak, pemerintahku menyuruh kami untuk pulang, Allah……aku yakin Allah pasti memberikan yang terbaik kepada kita.

Aku diam tak berkata, teman-teman Indonesia-ku sangat senang dan berkeinginan pulang, tapi disini, masih ada orang yang sedih meninggalkan Al-Azhar dan Mesir. iya…aku pun sedih jika nantinya tidak bisa menginjakkan kaki disini lagi.

Ismail, aku sama sekali tidak menyangka, dia beberapa kali pernah menjadi imam di masjid Bu’uts, mengimami para penghuni Bu’uts yang berasal dari berbagai Negara, menakjubkan temanku ini.

Aku termenung dan terus diam, Ismail kemudian mempersilakan aku untuk melanjutkan membaca Al-Qur’an, aku masih mendengar suara haru yang muncul dari diri Ismail, dia kemudian berdiri melakukan sholat sunnah, tenggelam dengan alunan murottal yang dia baca, menagis kepada Allah, berusaha mencari ketentraman hati, aku pun juga begitu, tenggelam dengan bait-bait ayat yang aku baca…….

Zhie



[1] Pimpinan Usaha salah satu buletin bergengsi di kalangan Masisir

[2] kesuksesan

»»  Baca Selengkapnya...

Dering Telepon dari Bapak

Rabu, 2 Februari 2011

Hari ini jaringan internet menyala sejak kematiannya jum’at lalu, bukan hanya internet, jaringan telepon pun di putus oleh pemerintah mesir. Mungkin untuk mencegah para pendemo berkomunikasi, dan untuk mencegah perekrutan masa secara besar-besaran.

Tapi untunglah diputusnya sambungan telepon tidak selama diputusnya internet. sehingga sejak dua hari yang lalu, keluargaku bisa menelponku, menanyakan kabarku, bertanya kepastian keadaan sekelilingku. Senin lalu kakak menelponku, dengan nada yang sama sekali berbeda dari biasanya. Rendah, lirih. Seolah banyak beban yang menghimpit di jiwanya. Aku katakan kepada kakak, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Disini aku tinggal di asrama. Para tentara dan pendemo Insya Allah tidak ada yang berani membuat keributan disini, Meskipun kerap kali ku lihat tawuran, dan tank yang lewat di dekat candela kamar. Kakak mengatakan juga kalau bapak menghawatirkan aku, selalu menanyakan kabarku.

Selasa, teleponku kembali berdering, nomor IM3 menelpon di HP ku, aku segera angkat telpon itu, suara bapak yang terdengar, beliau menanyakan kabarku. Ini kedua kalinya aku di telpon bapak semenjak aku tiba di mesir. Pertama sejak aku pertama kali tiba di mesir. Beliau menanyakan kabarku dan tinggal dimana? Beliau juga menyarankan aku untuk membali Magic Jar di kos2an. Saat itu aku masih tinggal di luar, di Hay Ashir, Nasr City.

Bapak menelpon, Pak Ghorib menyuruh Bapak berkali-kali untuk menelponku, menanyakan keadaanku. Aku bisa memaklumi, karena di keluarga kami jarang bahkan hampir tidak pernah melihat berita di televisi. Aku bisa memaklumi jika keluargaku terlambat mendengar berita ini.

Mendengar bahwa WNI yang berada di Kairo akan dipulangkan. Rona wajah teman-temanku berubah, sebagian merasa senang karena mendapat kesempatan berjumpa kembali dengan keluarga tercinta. Sebagian lagi merasa tidak siap. Karena kita baru setengah tahun disini. Ilmu yang mulia belum menghiasi diri kami secara sempurna. Apa kata orang di sekitar kami nanti, jika mereka begantung dan mengandalkan kami sementara kami masih belum bisa apa-apa.

Sebagian teman-teman merasa berat tuk meninggalkan kota Kairo ini, bagaimanapun juga, Kairo sudah menjadi bagian dari diri mereka, meski Cuma singgah sejenak, tapi kenangan tak terlupakan sudah terukur di hati mereka. Sedih memang, iya, aku tahu itu. Aku pun merasa demikian. Aku mendapat banyak teman disini. Teman-teman yang sulit aku tinggalkan. Reda Aly yang sudah menganggapku saudara sendiri, dia selalu melindungi aku dari anak-anak mesir yang Shoye’[1], yang selalu mengajariku pelajaran yang belum aku ketahui dari dosen, yang selalu setia menungguku sampai aku keluar di tempat ujian, yang selalu mencariku jika aku tidak hadir di kuliah.

Dan…Musthafa Atef, pemuda mesir yang mengagumkan dan begitu baik kepadaku, saat pertama kali mengenalnya, dia selalu ingat namaku. Di pertemuan kedua dia menghadiahkan aku CD Qari’nya. Suaranya begitu menggetarkan hati saat pertama kali aku mendengarnya di komputer Hariadi, tetangga kamarku. Mustafa yang sendirian tidak punya teman, yang selalu duduk di deretan paling belakang tanpa ada teman yang mengajaknya mengobrol. Aku terenyuh mendengarnya. Padahal dia anak yang paling tampan dan rapi di kelas. Tidakkah teman-teman mengetahui kalau dia imam masjid besar di Abbasiah ramadhan lalu? Tidakkah teman-teman tahu jika dia sering di undang untuk menjadi tamu di beberapa stasiun TV? Hatiku terharu jika melihat seseorang yang sendirian dan tidak mempunyai teman. Mengingatkanku pada masa laluku.

Aku mencoba mendekati Mustafa saat itu, dia bilang tidak begitu suka dengan dosen pengajar bahasa inggris. Tidak hanya dia aku rasa, tapi rata-rata teman mesir tidak menyukai dosen tersebut terbukti hanya segelintir orang yang hadir saat pelajaran bahasa inggris. Mustafa mengatakan kepadaku akan absent di pelajaran bahasa inggris dan akan hadir di pelajaran selanjutnya. Aku mempersilahkannya, setelah sholat Dzuhur aku pergi ke Mukhadoroh, tempat berlangsungnya kuliah. Aku masuk dan ternyata Mustafa mengikutiku dari belakang, dan dia duduk di sebelahku. Tapi aku merasa senang karena kehadirannya di Maddah bahasa inggris, dia mulai mempunyai beberapa teman. Aku merasa bahagia Mustafa mendapat teman. Seolah-olah melihat cerminan diriku di masa lalu, begitu bahagia mendapat teman untuk sekedar di ajak mengobrol.

Isma’il, Abdulloh, dan Sa’ad dari Afghanistan, teman satu kelas. Ali sebagai pengajarnya, tahukah kau sobat, Ali adalah orang Tanzania, bahasa inggrisnya sangat bagus, lancar dan jelas. Dia menjadi penerjemah kedutaanya jika ada tamu asing mengunjungi kedutaanya. Mereka sangat baik kepadaku. Setiap bertemu mereka di masjid mereka selalu menyapaku. Teman-teman yang ramah. Aku sangat senang jika mengobrol dengan mereka menggunakan bahasa inggris. Suasana kekeluargaan yang begitu mendalam. Kenangan yang sulit dan tidak ingin aku tinggalkan.

Haruskah aku meninggalkan mereka Ya Allah? Aku tidak ingin meninggalkan mereka. Teman-teman Informatika yang sangat aku cintai, kita sudah melewati banyak kesulitan. Mengejar Deadline wawancara dan menulis, kita berjuang di tengah teriknya matahari musim panas, di tengah rasa dahaga yang memuncak saat Ramadhan. Canda tawa saat kita kumpul di sidang redaksi. Aku menemukan keluarga kedua disini. Aku tidak ingin melepaskannya.

Rasa takut terkadang menghinggapi diriku, saat aku kembali ke Indonesia, aku takut tidak bisa kembali ke mesir, karena aku yakin pasti ibu mencegahku, kakak, ayah dan beberapa keluargaku pasti mencegahku kembali ke mesir. Aku takut mereka terlalu mengkhawatirkan keadaanku, sehingga langkahku untuk mencapai asa kian berat dan terhambat. Aku juga tidak ingin kehilangan keluarga yang sudah aku dapatkan disini, Allah…..

Aku tahu tidak cuma aku yang memikirkan hal seperti ini, teman-temanku juga. terkadang teman-teman pergi ke Sutuh, atap asrama kita, melihat pemandangan kota kairo dari atas, melepas rindu sebelum meninggalkan kota ini. Aku tahu hati mereka menangis meski tak mereka tampakkan di raut wajah mereka, menangis saat memandang luas ke angkasa, melihat deretan rumah, mobil dan bis yang melewati trotoar. Bis yang seringkali membuat kita jengkel, bis yang lama munculnya saat kita tunggu, bis yang selalu mengantarkan kita ke kampus, mengejar, berlari dan berdesakan dengan mahasiswa dari berbagai negara. Hal ini rela kami lakukan demi mendapat ilmu yang mulia. Ilmu yang tinggi derajatnya di mata Allah. Ilmu yang di sampaikan oleh dosen-dosen yang ikhlas yang rela di gaji sangat rendah.

Entah apa yang diinginka para dosen itu, dengan ilmu dan gelar doctor mereka, mereka bisa saja bekerja di tempat lain. Dengan gelar mereka tentu sangat mudah mendapat uang yang berlimpah. Tapi mereka tetap istiqomah mengajar kita, tetap istiqomah duduk di samping kita, tetap mau mengajar kita. Allah…..tentu ridha-Mu lah yang mereka inginkan.

Dilemma…entah kita bisa kembali ke kota ini atau tidak. Dan entah masih bisakah aku melihat suasana seperti ini lagi, dan bertemu dengan keluarga-keluargaku di Mesir ini.

Zhie



[1] Nakal

»»  Baca Selengkapnya...

PROLOG

Blog ini ku tulis, dengan tujuan ingin mengumpulkan kenangan yang berserakan di kepalaku, aku ingin mejaganya tetap abadi lewat tulisan, walau kurang sistematis.

Mungkin sebagian kalian bertanya-tanya kenapa ada artikel kosong di blog-ku, dulu aku memulai menulis sebelum aku menapakkan kaki di negeri ini. Beberapa minggu kemudian Allah memanggilku tuk berlayar jauh menembus samudera. Dan akhirnya aku disini. Memulai lembar baru kehidupan.

Berbulan-bulan aku tidak mempunyai media untuk menulis, tidak mempunyai komputer, tidak mempunyai sambungan internet.

Tapi kini, Allah menunjukkan aku rahmat dan ni’mat-Nya, aku tinggal di asrama dan mendapat beasiswa.

Aku kumpulkan uang beasiswa berbulan-bulan, di tambah hasil peluh ku mengais rizki di tanah ini, di tambah uang saku dari keluarga yang masih tersisa. ku belikan sebuah Laptop, mediaku untuk berkarya.

Semoga Allah melimpahkan Hidayah-Nya kepadaku, berharap kemampuanku kian berkembang dengan media ini.

Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

abcs