Selamat Tinggal.....Kakek....!

Selasa, 29-Maret-2011



Hari ini, jam sebelas siang, aku menerima pesan singkat dari Mbak Ifa. Bapak Wahab telah pulang ke Rahmatullah…..Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un…..



Sudah lebih dari satu Minggu bapak wahab dirawat di rumah sakit, sejak tanggal 18 Maret lalu, dokter bilang jantung beliau telah membesar dan hanya mu’jizat yang bisa menyembuhkannya….Allah….



Secepat itukah beliau meninggalkan kami? sesaat aku bisa bernafas lega menerima e-mail dari Mbak Wilda, sepupuku, dua hari yang lalu~27-Maret~ mengatakan bahwa beliau telah siuman setelah tiga kali diduga hampir meninggal.



Aku teringat saat aku masih kecil…..kelas empat SD, aku dirawat di rumah sakit selama berhari-hari karena “Muntaber”, beliau menjengukku, di samping tempat tidur beliau memberiku semangat untuk sembuh, beliau berkata kalau aku sembuh, kita bisa masak sate bersama saat Idul Adha. Allah…..saat itu juga dadaku sesak, aku tidak tahan untuk menangis, air mataku meleleh……



Aku tidak bisa membalas perbuatan beliau kepadaku….di saat-saat terakhir, aku ingin melakukan hal yang sama yang beliau lakukan kepadaku, duduk di sampingnya…..dan memberikan semangat kehidupan……lagi-lagi….jarak memisahkan kita.



Aku tidak mengira secepat ini beliau pergi, padahal….aku ingin beliau masih ada saat aku lulus nanti, melihat kesuksesanku, melihat aku saat menikah nanti, menimang anakku yang mungkin berambut pirang khas Mesir dan Eropa (ah…..semoga..).



Tidak ada yang bisa kulakukan, aku ingin sekali mengurus jenazah beliau bersama keluarga, dan ingin melihat pusara beliau disaat terakhir. Tapi….di jarak sejauh ini, hal itu mustahil aku lakukan, yang hanya bisa aku lakukan hanyalah berdo’a…



Aku langsung menulis pesan singkat ke teman-temanku, aku kirim pesan ke sa’ad, temanku dari Afganistan juga teman-ku dari Mesir, Mostafa Atef yang terkadang menjadi imam para penduduk muslim dari seluruh dunia di Mesir.



Aku kirim pesan ke mereka untuk ikut mendo’akan jenazah Bapak Wahab, aku ingin Bapak Wahab dido’akan oleh seluruh muslim di dunia, tidak hanya Indonesia.





Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

Manapakkan Kaki di Zagaziq

Kamis, 3-Maret-2011



Zagaziq adalah nama salah satu pedesaan di negeri Mesir. Kami menghabiskan waktu libur kami di Zagaziq selama dua hari. Ah…perjalanan yang singkat. Beberapa tahun yang lalu kita masih diizinkan untuk melanjutkan kuliah di seantero pedesaan di Mesir. Tapi saat ini ada peraturan khusus pemerintah untuk hanya kuliah di kota Kairo saja, padahal akan sangat menyenangkan jika bisa kuliah di pedesaan.



Ada perbedaan yang sangat kontras antara Kairo dan Zagaziq. Di Kairo, para wanitanya memakai riasan yang sangat tebal, padahal seharusnya wajah mereka sudah cantik tanpa menggunakan riasan, tetapi tetap saja mereka memakai riasan yang benar-benar sangat tebal. Berbeda dengan para wanita di Zagaziq, mereka hampir tidak memakai riasan sama sekali, kecantikan yang alami, banyak bunga desa yang bermekaran disini, Ahahaha….



Dari Kairo, ada tiga jalur untuk bisa berjalan menuju Zagazig, jalur pertama melewati area persawahan, jalur kedua area sungai nil, dan terakhir area gurun pasir. Saat berangkat kita melewati area persawahan, ehm…..persawahan gandum terbentang luas selama perjalanan, teman-teman merasa kembali ke tanah air, sudah lebih dari setengah tahun mereka tidak melihat sawah. Dan….pulangnya, kita melewati daerah gurun.



Orang pedesaan disini, memperbesar sesuatu yang sangat kecil, mereka menyebut sungai sebagai lautan, misal mereka ingin mengajak kita memancing di sungai, mereka berkata “ ayo kita memancing di laut “, padahal tempat kita memancing hanyalah sungai kecil.



Sangat berbeda dengan Indonesia, orang Indonesia itu memang rendah diri, mereka menganggap kecil sesuatu yang sangat besar. Seperti contoh TMII ( Taman Mini Indonesia Indah ), taman sebesar dan seluas itu masih kita sebut “Mini”. Di Kairo Taman Internasional luasnya gak ada apa-apa jika di bandingkan TMII, terlalu muluk dan berlebihan jika taman itu di sebut Taman Internasional.



Dan….aku menemukan banyak Bajai di Zagaziq, Hahahaha. Banyak sekali…!!!

Bahkan tidak hanya orang dewasa, anak-anak kelas 3 SD pun sudah bisa menarik Bajai. Disini Bajai disebut “Tuk-Tuk”. Dan Bajai disini di bagian belakang kursi penumpang di pasang speaker besar, selama perjalanan mereka menyetel musik khas untuk tari perut, Allah…..telingaku sakit mendengar suara musik yang dipasang keras-keras.



Dan di beberapa tempat di Zagaziq, orang-orang ngelihatin kita. Hahaha orang pedesaan yang jarang melihat Turis. Padahal kita juga sama-sama orang desa, hahahah . Turis desa masuk desa.



Tapi menurut pengalaman temanku yang pernah ke Dimyat ( salah satu pedesaan di Mesir juga ), Dimyat jauh lebih menyenangkan, jarang ada turis disana, jadi saat melihat orang Indonesia, mereka sangat menghargai dan mendewakan kita. Mereka meminta foto bersama kita (Hahaha kebalik, seharusnya kitalah yang ingin foto dengan mereka).



Dan kita di beri uang oleh penduduk sana, temanku satu rombongan saat bermain disana, di beri uang dua ratus Pound ( sekitar 300.000-an jika di Rupiahkan ), bahkan ada kabar ada pelajar yang sama sekali tidak punya uang berkunjung ke Dimyat dan di beri uang yang relatif banyak untuk membeli kitab. Dan lebih mengejutkan lagi ada pelajar Indonesia yang sampai di beri Saaqah (Rumah), saat berkunjung ke Dimyat.



semoga...suatu saat Allah memberikan aku kesempatan untuk melayangkan kaki di tanah Dimyat.....





Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

Bingkisan dari Indonesia

Senin, 21-Maret-2011



Miftah…..saat mendengar satu kata itu, pasti kebanyakan orang mengira seorang laki-lakilah pemilik nama itu, padahal belum tentu. Yang saat ini aku ceritakan adalah seorang sahabat perempuanku bernama Miftahul Jannah.



Dia satu-satunya sahabat perempuan yang sangat peduli kepadaku, aku sungguh tidak menyadari sejak kapan dia teramat peduli kepadaku, dia menjadi begitu akrab denganku. Dia sangat mengerti aku, bahwa aku paling tidak bisa mengobrol panjang lebar di depan perempuan, aku juga tidak bisa menerima telpon dari perempuan yang bukan Mahram-ku.



Sifat keakrabannya tidak berubah, walau saat berkumpul dan berada di hadapannya aku cuma diam membisu. Dia selalu mengirim sms-sms lucu yang terkadang membuatku tertawa.



Saat ada acara Al-Masry, dia selalu mencariku ketika aku tidak hadir, menanyakan kepada seluruh teman laki-laki ku, kenapa aku tidak datang. Dia bilang dimana shohib-ku? Tidak asyik kalau tidak ada Zie. Padahal saat aku adapun aku tidak pernah menyapanya apalagi mengobrol panjang lebar dengannya. Tapi kenapa dia selalu mencariku?



Zie….panggilan akrabnya kepadaku, cuma dia yang memanggilku seperti itu.



Saat Hari Raya kemarin, 11-September-2010, dia mengirimiku sms, sms permintaan maaf jika ada salah selama satu tahun ini, aku tidak membalasnya secara langsung, karena saat itu pulsaku habis, dan toko pulsa tutup saat Hari Raya (dan saat itu juga aku belum memulai bisnisku sebagai penjual pulsa). Kejadian ini memberi efek yang besar bagiku…..



Teman-teman kemudian berkata, Zai…..di cari Miftah, dia menanyakan keadaanmu, katanya si Zie kenapa? Dan dimana? Si Miftah menelpon teman-temanku, mengirimi mereka pesan, menanyakan perihal keadaanku.



Pernah saat aku mulai mengunjungi kamar salah satu temanku, Rijal Fikri. Miftah menelponnya, bertanya si Zie mana? Saat itulah aku kebetulan masuk ke kamar Fikri dan bilang, Nah…ini si Zai…baru masuk kamarku, mau ngomong? Teleponnya langsung dia (Miftah) matikan.



Aku jadi serba salah, karena aku belum juga membalas sms Hari Raya itu. Kejadiannya jadi seheboh ini, dan dua hari kemudian,13-September-2011, si Miftah mengirimiku pulsa, Eh….aku tersentak. Aku langsung mengiriminya sms, darimana dia mengetahui kalau aku kehabisan pulsa, dia tersenyum di dalam sms-nya, mengatakan “haha kamu kok lucu Zie, aku tidak diberitahu siapa-siapa, Cuma menebak”.



*******



Hhh…..dia satu-satunya perempuan yang mengirimiku sms saat aku terkapar lemah menahan sakit selama satu minggu, memberiku semangat dan memberiku susu.

ah……saking dekatnya dia padaku, teman-teman mengira kami ada hubungan khusus, bahkan berpacaran.



Allah…gosip miring yang membuatku segan tuk “bertatap-muka” lagi dengannya, rasa segan dan tidak enak itu juga menyebar ke teman-teman Miftah. Entah kenapa teman-teman berpikiran sependek itu. Aku tidak pernah menelponnya, aku juga tidak pernah berjalan bareng, bahkan berbicara panjang lebar pun tidak. Bagaimana mungkin kita berpacaran? Allah….



*******



Dia sering bercerita kepadaku tentang masalah keluarganya, masalah para mahasiswa baik di Indo maupun Mesir yang memaksanya untuk menikah dan masalah-masalah lain yang tidak dia di ceritakan kepada orang lain.



Orang se-terpercaya itukah aku sehingga dia menceritakan semua hal itu padaku. Ah…..masalah-masalahnya lebih pelik dari yang ku alami, Allah….semoga dia di berikan kesabaran.



*******



Rabu, 23-Februari-2011, jam sembilan pagi Miftah akan melangsungkan pernikahannya di Indonesia, malam itu juga aku tidak tidur, bersama Fikri kita mengotak-atik laptop masing-masing. Saat itu aku teringat Fikri memberiku Syibsyi, snack kripik kentang aneka rasa (khas Mesir).



Padahal….aku sudah berencana di dalam hati, jika aku pulang nanti dan dapat giliran pesawat pulang, aku akan terbang ke Lampung untuk menghadiri pernikahannya, tapi ternyata Allah belum mengizinkan aku untuk pulang.



Rasa sesal yang teramat dalam hinggap di hatiku, aku tidak bisa menghadiri acara pernikahan sahabat terdekatku. Sudah dua kali kejadian ini terulang di kehidupanku. Seperti kejadian Desember tahun lalu, aku tidak bisa menghadiri acara pernikahan sahabat paling baik dan berkesan sewaktu aku SMA, Yogi.



Ah…..aku tidak menyangka, teman-teman yang paling muda umurnya di antara kami, malah paling cepat melepaskan masa lajangnya.



Ku coba membuka kembali inbox sms-ku, aku baca kembali sms-sms yang masih tersimpan di hp-ku. 16-Juli-2010, “Zie….tadi aku makan permen karet, terus permen karet-nya ketelan, bagaimana donk……?”

Ahahaha…..dia sms aku hanya untuk masalah sesepele itu…? Haha aku tidak habis pikir.



Sms seperti itu tidak akan lagi aku terima, sekarang dia harus mengabdi kepada suaminya, semoga mereka di beri ke-istiqamah-an dalam menjalankan hidup. Amien….



*******



Senin pagi, 21-Maret 2011, Hp-ku berdering……ada sms dari nomor baru. Aku buka dan ku baca. Rupanya dari Miftah, em….ternyata dia sudah kembali ke Mesir. Dia menanyakan kabar dan ingin bertemu denganku. Aku periksa jadwal kegiatan-ku hari ini, ah….Full. dari siang sampai maghrib aku ke PMIK ( Perpustakaan Mahasiswa Indonesia-Kairo ) untuk mengembalikan sekaligus meminjam buku, malamya aku ada kursus bersama orang Tanzania. Dia meminta bertemu sebentar setelah maghrib.



*******



Usai dari PMIK, tubuhku terasa amat capek, kita terpaksa pulang dengan jalan kaki karena tidak ada bis. aku sholat Maghrib di asrama, dan istirahat sejenak, menyandarkan tubuh di tembok masjid. Aq masih ada janji kepada Miftah untuk bertemu, aku mengirim sms, dan kutunggu balasan.



Lama balasannya……aku lakukan sholat Sunnah dan ku ambil salah satu kitab suci yang ditumpuk di rak masjid, aku lantunkan ayat-ayat suci sambil menyandarkan kembali tubuhku di tembok, mengistirahatkan urat-urat syarafku.



Tak berapa lama, ponselku berdering, dari Miftah. Aku tutup kitab suciku dan memaksakan tubuhku untuk berdiri dan berjalan menuju depan Asrama. Udara dingin mulai menyelimuti kulitku, aku lihat di seberang sosok wanita berjilbab besar memanggilku.



Aku tunggu dia menyebrang ( aduuuh…..tidak sopannya….seharusnya aku yang menyebrang menghampiri dia. Hiks….maklum…aku tidak ingin malam-malam masuk ke kawasan Asrama putri, apa kata orang nanti ) dia mengahampiriku dan memberiku satu kantong benda yang terbungkus plastik hitam. Aku bertanya apa ini? Oleh-oleh dari Indonesia.



Aku ucapkan terima kasih dan aku buka bingkisan dari Miftah setibanya di Asrama.

  1. 5 buah Chocolatos
  2. 6 bungkus mini kripik pisang
  3. 1 toples mungil kacang goring
  4. 1 bungkus (berisi 20 buah) terasi udang
  5. 3 buah kapal api Mocca
  6. 2 buah Tora Bika Mocca
  7. 1 bungkus (berisi 5 buah) Milo
  8. 2 buah Energen Jahe
  9. 2 buah susu Bendera Coklat
  10. 2 buah Bumbu Rendang “Mama Suka” (Warna Coklat)
  11. 2 buah Bumbu Gulai “Mama Suka” (Warna Pink )


Ah….banyak sekali, bahkan dari Indonesia dia masih begitu baik membawakan oleh-oleh untuk-ku. Kalau aku, mungkin tidak akan membawa oleh-oleh, karena berat bawaan di Bandara diperhitungkan secara ketat.



Dia langsung mengirimiku sms usai memberikan aku bingkisan “Jangan di ketawain yaa Zie…karena isinya cuma bumbu”. Tidak kok, malah bagus di kasih bumbu, kita malah sedang pengen merasakan masakan khas Indonesia.



Tubuhku remuk redam, aku ingin segera membaringkan tubuhku di kamar, tapi ada dua hal lagi yang belum aku selesaikan. Memasak makan malam dan kursus di teman Tanzania.



Aku paksakan tubuhku, aku coba menghilangkan rasa capek yang muncul di benakku. Aku mulai memasak dan aku langkahkan kaki-ku menuju lantai tiga, menuju tempat kursus.





Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

Kesederhanaan Dalam Do'a

Kamis, 24-Februari-2011

Ponselku berdering, ibu…..suara ibu terdengar disana, Allah….

Beliau langsung menanyakan kesehatanku, aku katakana baik-baik saja, beliau menanyakan tentang dana yang di berikan pemerintah kepada kami, berapa banyak? Aku mengatakan kalau di rupiahkan sekitar lima ratus ribu rupiah, beliau senang mendegarnya, katanya lumayan, banyak. Allah…..

Aku terenyuh saat ibu mengatakan dana lima ratus ribu itu sudah banyak, menandakan sangat miskinnya kita saat ini. Dulu saat aku masih sekolah SMP, pasti ibu akan bilang, Lima ratus ribu? Kok sedikit sekali, sekarang kami tidak bisa bilang seperti itu lagi.

Manusia tidak selalu ada di atas, aku menyadarinya, maka dari itu, tidak ada perlunya kita menyombongkan diri.

Sejak lulus dari SMA, aku di tawari beberapa kali oleh keluargaku untuk kuliah di Indonesia, aku tidak mau. Melihat ekonomi keluargaku saat itu. Aku tidak ingin menguras uang keluargaku, meski demi pendidikan. Aku akan buktikan kalau kuliah di luar negeri itu lebih berkualitas dan lebih murah, meski harus menunggu lama.

Dan akhirnya, Allah memberikan secercah cahanya kepadaku. Aku bisa menapakkan kaki di negeri ini, tidak perlu membayar kos atau tempat tinggal, makanan gratis dan dapat beasiswa tiap bulan meski jauh dari cukup. Aku juga berusaha kerja part-time untuk menambal biaya kekuranganku.

Entah bisa atau tidak, aku ingin berusaha sampai akhir, sejak aku menapakkan kaki di tanah ini aku berharap tidak ada sepeser uang pun yang aku terima dari keluargaku, aku ingin mandiri, aku tidak ingin menyusahkan keluargaku lagi.

Terkadang ibu menyampaikan kata-kata kakak-ku, yang mengatakan aku disini niat belajar atau kerja? Aku katakan, keduanya. Aku disini tidak ingin mencari harta benda semata. Aku pilih kerja sambilan yang tidak mengganggu pelajaranku. Ini juga pembelajaran bagiku. Aku menyadari, setelah aku lulus nanti, aku pasti menikah dan memberi nafkah pada keluargaku. Jika tidak dimulai dari sekarang, selamanya aku tidak akan mandiri, dan aku tidak mau terus tergantung kepada keluargaku. Memalukan jika sebagai kepala keluarga, kita bersandar kepada orang lain, seharusnya kitalah yang menjadi sandaran.

*******

Ibu melanjutkan bicaranya lewat telepon, memberitahukan kepadaku Ayah mas Agus meninggal Senin lalu. Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un……..

Ayah beliau meninggal di pembaringan, usai mengimami sholat Isya’. Meninggal dengan tenang, sempat beliau mengucapkan dzikir sebelum beliau berbaring. Allah….. aku yakin beliau Khusnul Khotimah. Semoga….Amiiin….

Dan….berita menyedihkan lagi, dua keponakan kecilku, Rifky dan Afra jatuh sakit, Allah……amat berat cobaan yang di alami keluargaku di Indonesia, berikan mereka ketegaran dan kesabaran ya Allah….

Dan seuntai do’a aku lantunkan untuk dua mutiara kecilku, aku sangat berharap mereka bisa tersenyum kembali, berlari dan mengeluarkan celotehan lucu mereka, menerangi hati-hati yang tengah kelam.

Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

Salsabila

Kamis/Jum’at, 18/19-November-2010

Hey sobat, sebelumnya aku akan cerita tentang profil temanku yang bernama Salsabila, dia adalah perempuan yang duduk di satu organisasi denganku, Informatika[1]. Aku dengar dia di sukai beberapa orang di luar, bahkan tiga[2] orang kru informatika juga menyukai dia, kata mereka sih, Salsabila itu cantik, putih, tinggi, hidungnya mancung, tapi menurutku biasa-biasa saja, mungkin selera kita berbeda bro, iya bisa ku maklumi.

Kamis

Kamis pagi aku piket di Hotel Graha, saat berjalan di tangga menuju kamar tamu, aku menanyakan kepada Zulfikar, Direktur Graha, tentang perihal tamu kita, dia bilang tamu kita berasal dari Indonesia, seorang ibu yang menjenguk anaknya di mesir sepulangnya dari menunaikan ibadah haji.

Mendengar pernyataan Zulfikar aku berpikir sejenak di dalam hati, mungkin yang menginap di hotel ibunya Salsabila, karena sejak kemarin berita kedatangannya sudah bersua di telingaku.

Saat ku mulai memasuki hotel, ku lihat suasana lebih kotor dari biasanya, dan sesuatu yang janggal akhirnya kutemukan, Buletin Infirmatika tergelatak di sofa ruang tamu, aku yakin sekali kalau yang menginap Bila[3] dan Ibunya.

Ku bersihkan sampah-sampah makanan yang berserakan di lantai, ku cuci piring-piring kotor yang menumpuk di dapur, dan ku hisap debu-debu menggunakan Vacum Cleaner[4].

Suara bising mulai menggema di ruang hotel itu saat Vacum Cleaner mulai ku nyalakan, terkadang hatiku panas secara tiba-tiba, suara bising yang memekakkan telinga, gagang Vacum Cleaner yang sering copot, kabel yang melilit kakiku, Hhhh….mengurangi rasa ikhlasku dalam membersihkan.

Usai ku bersihkan segalanya, sosok ke-ibu-an muncul di hadapanku, dia memintaku untuk mem-Vacum kamarnya, saat aku mulai memasuki kamarnya, aku sempatkan bertanya kepada sosok ibu itu, “ ibu , ibunya Salsabila ya? “, seketika wajahnya cerah dan menyunggingkan senyum, “ adik, temannya Salsabila ya? “? Aku membalas dengan senyum dan aggukan kepala.

Aku lupa nama ibu itu, karena cara mengejanya sulit bagiku, aku dengar dia seorang Single Parent, ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang silam. Wanita yang hebat aku pikir, membesarkan beberapa anak sendirian. Beliau mempunyai kepribadian bagus, selalu mengucapkan “ Subhanallah “.

Aku keluar dari kamar, ku temukan sosok Salsabila yang duduk membaca bulletin Informatika di sofa, aku tegur dia, “ hey Bil, kamarnya dah ku bersihkan “, dia menutup Bulletin itu dan memandang kearahku “ sudah ya? “, aku berjalan menuju dapur sambil menjawab pertanyaanya dengan bahasa jawa, “wes”, entah dia mengerti atau tidak.

Selepas dzuhur, Salsabila dan ibunya berjalan-jalan dengan mobil jemputan. Aku pulang ke Gami’ dan mulai mengeluarkan ponselku, jari-jemariku menari-nari di keyboard, menyusun kata demi kata, Membentuk suatu kalimat yang segera aku kirim ke Salsabila.

Aku mengatakan kepadanya, aku piket hari ini dan esok, jika ada suatu hal yang di perlukan, tinggal mengobrol saja ke aku, karena ku pikir dia akan lebih leluasa dan terbuka jika meminta bantuanku, karena aku temannya, satu kru dengannya.

Aku ingin tamu-tamuku merasa nyaman tinggal disana, aku tidak ingin hanya karena perasaan segan dan malu, mereka merasa tidak nyaman.

Malamnya, aku ada di sekertariat Gamajatim[5] yang berlokasi di Bawwabah Tsaniah, mengecewakan sekali aku pikir, rencana untuk LPJ gagal, percuma aku menerobos dinginnya malam untuk sampai di sana. Ketua penyelenggara yang kurang professional dan acaranya jauh berbeda dari apa yang di rencanakan karena kurangnya koordinasi. Tapi aku bisa maklumi, karena kita sama-sama sedang belajar, banyak kesalahan adalah proses menuju kesempurnaan.

Saat aku mulai Online, datang Jauhar dan Umar yang berencana untuk meminjam fasilitas Internet Gamajatim untuk mencari informasi, mereka berdua berencana untuk mewawancarai ibu Salsabila.

Ponselku berdering, Salsabila menelponku, “ Zai, pintunya terkunci “, aku langsung keluar dari sekertariat, berlari menuju Gami’ untuk mengambil kunci, aku tidak bisa membayangkan wajah lelah mereka usai perjalanan, keinginan untuk istirahat pun tertunda karena pintu terkunci. Aku semakin mempercepat langkahku.

Di tengah perjalanan dua kali aku menelpon balik, manyarankan dia untuk mengetuk pintu kamar, karena di hari itu juga ada sepasang keluarga Singapore berwajah India menginap disana. Tetapi Salsabila tidak berani mengetuk pintu itu, segan, takut mengganggu tamu yang sedang beristirahat.

Setibanya di Gami’, aku periksa ponselku, ada miscall lagi dari Bila, aku langsung menelponnya balik, “ Zai, Dimana?”, “ iya, sebentar, lagi nyari kunci ”, jawabku.

Aku berangkat dengan Zulfikar yang saat itu tengah membaca Muqorror[6]-nya, saat mulai memasuki gerbang pintu kaca, kami temukan Jauhar dan Umar yang tengah duduk di lantai, mereka bersiap mewawancarai ibunya Bila, menurut kabar, ibunya bekerja di Asuransi Syari’ah Prudential. Awalnya mereka kira beliau sebagai Direktur, setelah wawancara baru di ketahui kalau beliau adalah Agen.

Saat kami menuju lantai dua, ternyata pintunya sudah bisa terbuka, ibu bilang kepada kami kalau awalnya mereka ketuk dan tidak ada jawaban. Dan baru di bukakan saat itu oleh tamu dari Singapore itu.

Aku duduk bersama Zulfikar sejenak sebelum berpamitan, ibu memandangku, “ Masya Allah..!! Zainuddin sampai datang kesini, maaf ya Zainuddin, dan terima kasih sudah jauh-jauh datang kesini. ”

Salsabila pun mendekatiku dan berkata, “ makasih ya Zhie “, umar yang duduk tak jauh dari tempatku menoleh, merasa iri dan cemburu, mendengar namaku di sebut kedua pasangan ibu dan anak itu. Salsabila menoleh lagi dan mengatakan terimakasihnya kepadaku, “ Terima kasih Zainuddin “, aku menjawabnya dengan senyum dan tundukkan kepala.

Jum’at

Pagi ini aku tidak lagi piket dengan Zulfikar, kali ini Agus yang menemaniku piket, kami menyiapkan Breakfast[7] dan membersihkan ringan.

Saat kami mulai membuka pintu, pemandangan berbeda dan ganjil tampak di mata kami berdua, tercengang?, tentu. Teman perempuan Bila banyak yang di bawa main ke Hotel yang mengakibatkan kotor dan keruh suasana, sampah berserakan si Ruang Tamu, tumpukan piring dan gelas kotor yang menggunung. Mereka perempuan tapi kurang bisa menjaga kebersihan, ah….aku tidak mau menikah dengan wanita seperti itu Ya Allah…bagaimana nanti kalau sudah mempunyai anak? Allah….

Zulfikar pernah cerita, Rabu lalu dia giliran piket, saat itu ibunya tengah memasak, dari dapur ibunya meminta bantuan Bila untuk memasak air, Bila menjawab dari ruang tamu, “ suruh mas-nya saja bu yang masak air “ , haha mungkin semenjak itu awal kemarahan Zulfikar pada anak dan temannya. Dia menasehatiku, “ Zein, jangan cari istri yang seperti itu “.

Sorenya, aku kembali piket bersama Agus, memang kita piket dua kali, pagi dan siang/sore. Saat kami tiba di tempat tujuan, ruangan yang sudah kami tata dan bersihkan pagi tadi kembali amburadul layaknya di hantam badai.

Kami fokus membersihkan ruangan, aku lihat beberapa temannya Bila sedang izin memasak dapur, aku lupa kalau sampahnya belum aku beri plastik, aku ketuk pintu dapur, aku izin dan melihat sampah, ah…untunglah sudah di beri plastic oleh mereka, tapi benar-benar tidak rapi, aku dekati sampah dan ku rapikan plastic itu, mereka bertanya “ salah ya? “ aku diam tak berkata, mungkin mereka mengira aku angkuh karena aku tidak menjawab pertanyaan, tapi memang seperti itulah aku, aku tidak bisa leluasa mengobrol dengan perempuan, aku ingin menjaga diri.

Di dapur saat kami fokus membersihkan piring dan gelas yang kotor, terdengar suara mereka sedang bersiap-siap. Terdengar suara koper yang berderet, dari balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Salsabila berpamitan dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepadaku, “ Terima kasih ya Zainudin..! “ aku menjawabnya pelan.

Saat semua sudah berada di bawah untuk bersiap menuju mobil, Agus teringat kalau belum foto perpisahan, ah…momen yang tak sempat di abadikan.

Kamipun turun mengantar kepergian ibu dan Salsabila, sebelum masuk ke Mobil ibunya berpesan kepada kita yang laki-laki, “di jaga yaa akhwat-akhwat ini, jangan sampai Ikhtilat dengan kalian “.

Salsabila masuk mobil duluan di susul ibu dan teman-teman perempuannya, saat gemuruh mesin mobil mulai terdengar, Salsabila melambaikan tangan kepadaku. Mengucapkan kata terima kasih kepadaku untuk yang terakhir kalinya di hari ini, “ Terima Kasih Zainuddin “, aku kembali tersenyum dan membalas lirih, ibunya langsung menegur perbuatan Salsabila kepadaku.

Zhie



[1] Organisasi pers Masisir

[2] Ilham, Mrd, dan Umar

[3] Nama panggilan Salsabila

[4] Mesin Penyedot Debu

[5] Keluarga Masyarakat Jawatimur

[6] Diktat Kuliah

[7] sarapan

»»  Baca Selengkapnya...

Seseorang yang Menguatkan Langkahku

Sabtu, 15-Februari-2011

Hari ini ujian ke-empatku, ilmu Arudh wa Qafiah. Tiga jam kami di beri waktu untuk mengerjakan soal, aku menghabiskan waktu dua jamku dengan mencari dan menimbang Bahr[1], tapi tetap tidak menemukan wazan dan jenis Buhur[2] tersebut. Saat penjaga ujian berkata bahwa waktu tinggal satu jam lagi, aku terpojok, aku mulai memeriksa jawaban-jawabanku yang ku tulis di lembar jawaban, dan ternyata lebih dari lima puluh persen soal belum aku jawab, jantungku berdebar, tangan dan seluruh tubuhku mulai bergetar, bulu kudukku berdiri. Ya Allah akankah aku Rosib[3] di pelajaran ini?

Aku berteriak di dalam hati, Ya Allah….aku tidak ingin Rosib Ya Allah, aku tidak ingin Rosib, kata-kata itu terulang di dalam hatiku, berkali-kali. Dalam waktu satu jam ini, aku tidak mungkin mengerjakan semua yang kosong. Tapi aku tidak mau menyerah, Allah masih ada, aku tetap berteriak di dalam hati, aku tidak ingin Rosib, dan tanpa sadar doa-doa pun melantun di dalam bibir dan hatiku, mengiringi aktifitasku menjawab soal.

Aku buka kembali lembar soal dan aku coba mencari wazan dan jenis Bahr, dan ternyata Allah membimbingku, Allah memberi aku petunjuk, soal-soal Bahr yang aku pelototi selama dua jam, akhirnya terpecahkan atas izin Allah, satu persatu soal berhasil aku pecahkan, meskipun aku belum tahu jawabannya bnar atau salah, tapi aku lega, karena aku mengerahkan semua apa yang aku pelajari tiga hari ini.

Satu persatu mahasiswa keluar dari ruang ujian, tinggal aku sendiri yang Mahasiswa Indonesia. Terkadang aku sedih, saat aku menyelesaikan ujian dengan cepat, aku menunggu teman-teman sampai mereka benar-benar keluar semua dari ruang ujian. Aku berpura-pura tetap duduk di bangku agar terkesan masih mengerjakan soal di mata para pengawas, demi teman-temanku, karena aku tahu, beberapa temanku menjadi panik saat melihat teman-teman lain sudah keluar dari ruang ujian, aku tetap menunggu, berharap agar kosentrasi mereka tidak buyar. Agar mereka berpikir, masih ada aku, mereka tidak sendirian di dalam ruang ujian. Tapi, saat aku masih berkutat dengan soal, mereka meninggalkanku. Aku berusaha tidak mengeluh, aku juga berusaha memaklumi.

Sebagian besar soal sudah aku jawab, aku sendiri tidak mempercayainya, aku ucapkan rasa syukuruku berkali-kali kepada Allah. Aku angkat pergelangan tanganku, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, jam tangan yang di berikan bapak kepadaku, di jam itu masih tertera waktu Indonesia, aku sengaja tidak merubahnya, sebagai kenang-kenangan, tanda awal keberangkatanku. Aku lirik kedua jarum jam, masih ada waktu untuk melanjutkan soal. Aku ucapkan kembali rasa syukurku kepada Allah. Aku hamper tidak mempercayainya, soal sebanyak itu berhasil aku selesaikan dalam waktu kurang dari satu jam.

Aku tidak menjawab asal-asalan soal-soal itu, entah bagaimana cara aku mnjelaskan kepada kalian. Tiba-tiba pikiranku terbuka, dan aku bisa menerapkan Kaidah-kaidah yang awalnya sulit aku terapkan, ini benar-benar kuasamu Ya Allah. Terima kasih Ya Allah, amat besar kuasa yang Engkau berikan kpadaku.

Waktu telah habis, aku kumpulkan naskah ujianku, aku meminta doa ke-najah-an kepada penjaga ujianku, dia menjawab Insya Allah Taufiq, jawaban yang melegakan hatiku. Aku benar-benar senang bukan kepalang, semakin banyak orang yang bersedia mendoakanku. Alhamdilillah…

Aku langkahi anak tangga satu persatu, memang, kelas dan ruang ujian kita terletak di lantai paling dasar, lantai bawah tanah. Saat anak tangga terakhir mulai aku lewati, cahaya matahari yang menyongsong mulai membunarkan mataku. Aku lihat di seberang sana, tepat didepan ruang ujianku, berdiri sesosok mahasiswa mesir yang setia menungguku, aku terharu, masih ada orang yang mau menungguku, sahabat sekaligus saudaraku, Reda Aly dari mesir.

Saat aku tengok sekelilingnya, tidak ada seorangpun, semua mahasiswa sudah pulang, hanya dia yang berdiri menungguku, dia menyapaku, bagaimana ujiannya? Dia mengatakan ujiannya mudah, hanya soal pertama yang tidak pernah dia baca, karena pengalaman beberapa tahun terakhir, soal Ta’rif, pengertian tidak pernah di keluarkan. Ilmu Arudl wa Qafiah itu langsung praktek.

Reda Aly, aku harus berterima kasih kepadanya. Dia yang mengajariku saat aku tidak faham tentang penjelasan dosen, dia yang melindungiku saat teman-teman nakal mengejekku. Teman yang sulit di temukan, dia menganggapku sebagai saudara, dia mengerti kekurangan-kekuranganku, dia berhasil menutupi kekuranganku di depan teman-teman mesir lainnya.

Aku pernah mengotak-atik Ponselnya, disana ada nama yang menghubunginya terakhir kali, namanya Batthah[4], aku bertanya ini nama laki-laki atau perempuan? Dia menjawab itu nama perempuan, dan aku beru menyadarinya kalau itu kekasih Reda Aly, dia bilang akan menikahi Battah setelah menyelesaikan kuliah, aku bertanya tentang maharnya, dia menjawab sepuluh ribu Pound[5], aku berkata itu mahal sekali, dia menjawab kalau itu sudah standar, aku bandingkan dengan dengan mahar di Indonesia, Reda Aly tercengang, kaget karena begitu murahnya mahar di Indonesia.

Besoknya Reda menceritakan tentang aku kepada Battah, Battahpun akhirnya mengenal aku, dia ingin bertemu denganku, orang Indonesia yang menjadi sahabat kekasihnya, dia pun menawarkan agar aku di kenalkan dengan teman mesir perempuannya, dia cantik juga kaya, tapi aku kurang tertarik, karenasaat aku Tanya kepada Reda tentang keshalihannya, dia bilang dia bukan berasal dari Al-Azhar, bukan berarti aku hanya tertarik Azhary[6], tapi keraguanku muncul saat Reda belum memberi kepastian tentang keshalihannya.

Benar-benar teman sejati aku pikir, saat teman terdekatku dari Indonesia meninggalkanku sendirian di ruang ujian, Reda Aly berbeda, dia tetap menungguku, walaupun dia sendirian di tengah dinginnya musim dingin, padahal dia orang Mesir, sama sekali berbeda dari segi adat dan jauh dari segi tempat tinggal, tetapi dia mau mengerti, hal yang sangat sulit di temui di zaman seperti ini, mengerti dan memahami orang lain.

Zhie



[1] Sya’ir arab

[2] Jama’ dari Bahr

[3] Gagal, nilai pelajaran di bawah lima

[4] Bebek

[5] Satu Pound sekitar 1700 rupiah

[6] Sebutan para mahasiswa yang kuliah di Al-Azhar

»»  Baca Selengkapnya...

Perbedaan di Dalam Asrama

Senin, 14-Februari-2011

Hari ini ada pengumuman yang di tempel di Mat’am[1], pengumuman untuk menghadiri acara Maulid Nabi, emm….menurut berita memang tiap tahun orang Pakistan selalu merayakan ini di bu’uts.

Kebetulan sekali, empat belas Rabi’ul Awal bertepatan dengan empat belas Februari, sama-sama tanggal empat belas. Sebagian orang muslim merayakan Maulid Nabi, orang non muslim malah merayakan Valentine’s Day.

Selesai sholat Ashar ku lihat orang Pakistan mulai menghiasi masjid dengan hiasan aneka warna di atas langit-langit, beberapa spanduk dan lampu kerlap-kerlip yang membuat masjid tampak lebih anggun.

Mega merah mulai menyelimuti awan, ku mulai melangkah kembali ke masjid untuk menjawab panggilan Allah, sholat Maghrib pun sudah selesai ku jalani, aku mulai bangkit kembali tuk melaksanakan sholat Sunnah, tunduk, dan penuh keta’dziman.

Dalam heningku, ku dengar sayup-sayup orang mengumumkan sebuah undangan lewat mikrofon masjid, ah….mengganggu kekhusyu’anku.

Undangan untuk menghadiri Maulid Nabi usai sholat Isya’, itu yang aku tangkap, kemudian ada lagi satu orang yang berbicara, aku tidak memperdulikannya, aku ingin meneruskan Sholat Sunnah-ku dengan khusyu’, aku tidak ingin suara-suara itu menggangguku lagi.

Aku mngakhiri sholat Sunnah-ku dengan dua salam, aku berdo’a sejenak di dalam hati, kemudian aku tengadahkan kepalaku, ada sesuatu yang ganjil, orang-orang hitam berdiri dan menyerbu ke depan, tidak cuma itu, beberapa orang dari Negara lain juga ikut menyerbu ke depan.

Apa yang mereka lakukan di masjid suci ini?, ah….ku lihat orang tua berjenggot tebal yang sebagian memutih itu diserang massa, tapi untunglah sebagian orang melindungi dia dari keroyokan, sampai di luar masjid sebagian orang masih tetap mengejarnya.

Apa yang terjadi? Aku bertanya kepada salah satu senior yang kebetulan aku jumpai disana, dia mengatakan, bapak tua tadi berusaha mengingatkan kepada kita, apa ada dalil hukum yang membolehkan merayakan Maulid Nabi?

Pantas banyak orang yang berdiri dan menyerangnya, waktunya kurang tepat kami rasa, orang-orang sudah capek-capek menghias dan membuat acara, ternyata langsung diingatkan seperti itu, coba kalau di ingatkan jauh-jauh hari, mungkin tidak seperti ini jadinya.

Dan orang-orang yang melindungi bapak tua itu sepertinya pemuda dari golongan Salafi yang pro dengannya.

Sholat Isya’pun kami lakukan, seorang pemuda mengumumkan lewat mikofon, Maulid Nabi akan di laksanakan usai Sholat Sunnah, ku bangkitkan tubuhku tuk melaksanakan sholat sunnah.

Ku diam dan tetap di masjid, sekedar ingin tahu seperti apa perayaan Maulid Nabi yang di laksanakan orang Pakistan di mesir ini.

Ah….pikiranku kembali teringat dua tahun terakhir ini, dua tahun ini aku selalu di undang menjadi bagian dari anggota panitia Maulid Nabi di desa Manyarejo, tahun 2009 aku di jadikan MC ( Master of Ceremony ).

Tahun berikutnya, 2010. aku tidak di undang, lebih tepatnya aku di undang tapi tidak bisa datang, karena saat itu aku ada di Ponorogo mengikuti tes masuk Universitas di Madinah.

Ku lihat sekeliling masjid asrama, tidak banyak yang hadir dalam acara ini, masjid tidak sampai penuh terisi. Orang Pakistan mulai menjalankan acara yang sudah mereka susun secara sistematis.

Acara di tutup oleh seorang mahasiswa S2 yang entah dari Oman atau Rumania, penampilannya biasa, dan terkesan berbeda dengan yang lainnya, mayoritas para hadirin memakai jubah, gamis dan baju taqwa, tapi beliau cuma menggunakan jaket kulit coklat, kacamata hitam dan penutup kepala.

Penampilannya sekilas mungkin kurang meyakinkan jika berada di luar, tapi jangan lihat dari penampilannya sobat, tapi lihat isi yang ada di kepalanya. Dia mampu menyihir para hadirin dengan kata dan dalil yang dia ucapkan.

Acara pun usai dengan di tutupnya doa yang di panjatkan mahasiswa S2 itu, ku beranjak dari dudukku, ku perhatikan sekeliling, semua pintu masjid di tutup kecuali satu pintu. Aneh ku rasa, aku pun melewati pintu yang terbuka itu.

Saat mulai menapakkan kaki ke luar pintu, orang-orang dari Pakistan menyalamiku, berterima kasih atas kehadiranku, dan memberiku sebuah kotak berisi Halawah[2], Ruz bil Laban[3], dan Ashir Tuffakh[4].

Mmm…perutku kembali terisi malam ini, ku sibakkan selimut tuk menutupi malamku, ku ucap seuntai doa di hatiku, tuk menjaga di kala diam-ku. Ku terlelap……

Zhie



[1] Dapur

[2] Manisan

[3] Nasi bubur yang di campur susu

[4] Jus Apel

»»  Baca Selengkapnya...

abcs