Gadis Berjiwa Malaikat

24-April-2011


hari ini Ultah Mbak Rini, bertepatan sekali dengan acara "Quick Training" yang di ketuai oleh sahabatku, Kurniawan. sebenarnya sejak jauh-jauh hari pimpinan redaksi selalu menunjukku untuk memegang acara "Quick training" ini. tapi aku menolak keras, aku tidak ingin menjadi ketua dalam organisasi, karena hal yang paling aku takutkan adalah memberi sambutan.


memang ada beberapa kabar burung kalau mbak Rini ultah hari ini, aku mencoba memastikannya dengan bertanya ke beberapa orang, dan ternyata benar. aku tidak ingin hanya hadir dengan tangan hampa di depan mbak Rini. Mbak Rini adalah salah satu keluarga terpenting dalam kehidupanku di Mesir.


Mbak Rini adalah pimpinan usaha di Informatika, meski beliau agak bermasalah dalam berat badan, tapi Mbak Rini mempunyai paras wajah yang cantik, putih, dan kalem. dan suaranya sangaaaat lembut, di tambah hati se-emas malaikat, tidak heran jika banyak para laki-laki yang ingin meminangnya.


salah satu ke-emasaan hatinya adalah saat Rahmat, temanku dari sulawesi jatuh sakit, Rahmat bercerita kepadaku, saat itu dia dititipi uang oleh mbak Rini. entah apa jadinya jika tidak ada mbak Rini.


dan lagi, Mbak Rini juga membantu sahabat terdekatku, Dzunnun untuk tetap berada di Informatika. sungguh aku sangat berterimakasih kepada mbak Rini, kalau tidak ada Dzunnun, apa jadinya aku.


dan.....aku baru mengetahuinya, fakta yang mencengangkan hatiku, dahulu kami diberi kabar, setiap bulan kita diberi subsidi untuk menerbitkan Informatika, tapi...ternyata hanya beberapa bulan pertama kita diberi, selanjutnya sama sekali tidak ada dana yang turun. lantas, darimana uang penerbitan selama ini? lagi-lagi, mbak Rini yang rela mengorbankan uangnya untuk kami.


dan di akhir kepengurusan terbuka hampir semua hal yang ditutupi, mbak Rini ternyata menderita suatu penyakit yang entah apa, beliau tidak ingin menceritakannya kepada kami, aku mendengar hal ini dari orang lain, dan aku yakin teman-teman lain belum mendengarnya, beberapa kali mbak Rini pingsan dan setiap ditanya sakit apa beliau tidak menceritakannya kepada kami, karena takut kami terlalu mengkhawatirkannya.


hari ini, kita akan kumpul setelah Ashar untuk persiapan "Quick Training" yang akan dilaksanakan esok. aku sengaja datang agak terlambat, karena ingin membeli hadiah untuk mbak Rini, aku pergi ke "Darussalam", toko buku yang cetakan dan penjilidannya paling bagus di mesir, meski agak mahal harganya di banding toko buku dan percetakan lain.


lebih dari 30 menit aku memilih buku yang cocok, dan akhirnya aku menemukan buku yang bagus menurutku dan semoga menurut mbak Rini juga, buku berbahasa arab yang berjudul "Bagaimana Memahami Segala Sesuatu di Sekitar Kita", buku yang di kemas dengan kover cantik dan di hiasi warna ke-ungu-an di setiap lembarnya.


aku bergegas menuju terminal, menuju ke tempat yang dijanjikan, aku buka plastik yang menutupi buku itu, aku tulis beberapa kata untuk mbak Rini, aku berpikir keras kata apa yang cocok untuk mbak Rini, dan tanpa kusadari dua gadis mesir yang duduk di belakangku memperhatikanku, memperhatikan buku yang aku bawa.


saat aku turun dari bis, kedua gadis mesir itu mengikutiku dari belakang. dengan bahasa Arab Fushah mereka memanggilku, "Permisi...." aku menoleh ke belakang, ku hentikan langkahku. "darimana anda membeli buku itu dan harganya berapa?". "aku membelinya di Darussalam, seharga dua puluh dua Pound" jawabku singkat. lantas aku lanjutkan perjalananku yang belum usai.


aku tiba satu sampai dua jam setelah ashar, tetapi belum aku lihat sosok mbak Rini. kami membahas acara yang kita selenggarakan esok.


dan setelah Isya' mbak Rini datang bersama rombongannya membawa nasi Fried Chicken di tambah roti ulang tahun berwarna kecoklatan. roti-nya enak, aku sangat menyukainya. berbeda dengan roti ulang tahun di Indonesia yang rasanya enek.


aku berikan hadiah yang sudah sejak siang aku persiapkan, semua menyorakiku, berbisik ‘menggunjing’ku, yang sayup-sayup sempat aku dengar, “eh..ternyata Zainuddin romantis juga yaa^^.” kita foto bersama dengan foto canggih nan mahal milik ICMI (Ikatan Cendekia Muslim Indonesia), ah.....sampai sekarang aku belum meminta foto-foto itu, semoga belum dihapus.


tak lupa aku tulis sebuah tulisan kenangan untuk mbak Rini di buku itu :


"Kian lama....umur kita semakin terkikis....

tanpa kita duga...Allah akan mengutus Cahaya-Nya untuk menjemput kita...."

"Hiasi umur yang tersisa dengan kebaikan..."

"Allah melihat...juga mendengar...tetesan kebaikan yang kita persembahkan untuk-Nya..."




Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

Di Balik Sosok Pendiam

18-Maret-2011


hari ini, aku bersama sahabatku Rais, berniat untuk menelpon orang tua, kerabat dan teman lewat internet di lokasi Madrosah, Hay asyir.


lokasinya jauh dari asrama kami, selain itu, kami sudah berkali-kali pergi kesana tetapi selalu mengantri, satu orang yang mengantri bisa sampai 2 jam-an.


terkadang sudah hampir 4 jam aku mengantri tetap tidak mendapat bagian, akhirnya aku urungkan, dan meninggalkan tempat itu, karena percuma....di Indonesia pasti sangat larut, dan tidak akan ada yang mengangkat telepon.


berkali-kali aku dikecewakan karena lamanya menunggu tetapi nampaknya Allah memberiku jalan hari ini, untuk mendengar suara keluargaku.


Rifky dan Afra yang malu-malu bertelponan denganku, ibu yang bahagia mendengar suaraku, Mbak Ifa yang tertawa mendengar cerita-ceritaku, ah......senangnya....^^


aku mendengar cerita tentang Rifky dari mbak Ifa, kalau dia mirip denganku, penyendiri, suka membaca majalah dan selalu makan telur mata sapi. kata penduduk rumah tidak ada aku, Rifky sebagai penggantinya ^^.


Rifky jadi benar-benar mirip denganku, mungkin ini karena aku dan Mbak Ifa sering bertengkar saat Mbak Ifa mengandung Rifky. memang ada mitos kalau kita membenci seseorang saat dalam masa kehamilan, anak kita akan terlahir persis sama dengan orang yang kita benci. ah.....sekali lagi aku bilang....itu cuma mitos......


dan sejenak aku sempat terheran, sebelum berangkat ke Mesir Rifky dan Afra alergi dengan telur, dan terucap dari bibirku lafad "Alhamdulillah" saat mendengar langsung dari Mbak Ifa, kesembuhan Rifky dari alergi telur.


dan...pendiam bukan menjadi masalah, aku baru mengetahuinya setelah lulus dari SMA. orang pendiam pikirannya lebih tajam daripada orang yang pandai bergaul.


aku mengakui hal itu, karena aku bisa mengetahui secara cepat masalah di dalam keluargaku tanpa seorang pun yang memberitahuku.


aku juga bisa mengetahui saat ibu berbohong kepadaku saat masih kecil, dari gaya berbicaranya, suaranya, mimik wajahnya, berbeda dari sikap ibu yang biasanya. tetapi aku pura-pura mengikuti kebohongan ibu. karena ibu ingin aku percaya akan kebohongannya. dan aku tidak ingin mempermalukan ibu saat itu.


dan alangkah sakit hatinya aku, saat bapak mengajariku tentang adab sewaktu masih kecil, tetapi bapak sendiri melanggarnya. meskipun saat itu aku masih SD, tapi aku bukan anak kecil yang mudah dibodohi. pikiranku tajam, hanya saja aku seorang anak yang pendiam, tidak berani protes.


dan berkali-kali aku menemukan kesalahan yang dipaparkan oleh guruku saat mengajar, sangat berbeda dari buku-buku yang aku baca selama ini. dan guru-guru ku pun takjub mengetahui keilmuanku. bahkan saat duduk di bangku Sekolah Dasar. aku hafal rumusan hukum-hukum yang bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa menghafalnya. dan semua hal itu tidak pernah diajarkan di Sekolah.


bisa dibilang aku pintar dan cerdas bukan karena sekolah, tetapi membaca buku-buku yang tidak ada di sekolah. terkadang bapak selalu salah kaprah, mengira sekolah itu segalanya, menyindirku yang terus-terusan membaca buku. padahal bisa dibilang hampir aku tidak mendapatkan apapun dari Sekolah, pengajar yang kurang berkompeten, dan tidak jarang mereka absen karena Flu ringan dan alasan-alasan lain yang ‘sepele’, ah...para pemakan gaji buta.


jika kita lihat seorang Buya Hamka, yang kabarnya dikeluarkan dari sekolah (belum aku klarifikasi). terus darimana dia mendapat pengetahuan yang begitu dahsyatnya? dari membaca buku yang ada di perpustakaan ayahnya.


dan sekarang....ketajaman pikiranku berangsur-angsur hilang seiring mulai pandainya aku dalam bergaul. fenomena yang sangat unik. aku kira jika ketajaman pikiran bisa terus bersamaku, ternyata tidak. memang terbukti buku Psikologi yang telah aku baca. orang yang pandai bergaul hanya bisa melihat situasi dari luarnya saja, meskipun sudah berkali-kali mendalami hal itu. berbeda dengan para pendiam dan penyendiri. otaknya jauh lebih tajam dan mendalam, hanya saja mereka tidak mampu mengungkapkannya.



Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

'Berbagi Kebahagiaan' untuk Rifky

Ahad, 15-Mei-2011


usai menyelenggarakan tes penyeleksian kru baru di kantor Informatika, aku mengajak beberapa temanku untuk makan malam di restoran Malaysia, aku ingin berbagi kebahagian kepada mereka atas diterimanya Rifky di SD Pongangan, bahasa Jawanya "Bancaan".


dan Kurniawan sebagai penunjuk jalannya, karena dia satu-satunya yang hafal Rumah Makan di sekitar sini. awalnya kami ingin memilih restoran Thailand, tapi karena letaknya jauh dan harus ditempuh dengan bis, terpaksa kami memilih yang lebih dekat. kami takutkan kita sudah menempuh jarak yang jauh tapi ternyata restoran-nya tutup.


empat orang yang aku undang, karena memang hanya mereka yang tersisa di kantor Informatika. Kurniawan, Ayu, Dana, dan Eka. Ayu berkata kepadaku kalau dia hanya ingin pesan minuman, karena takut menghabiskan uangku. aku melarangnya,"harus pesan makanan Yu..! masa kita semua makan sementara kamu cuma minum? kita yang gak enak. santai saja Yu, aku bawa uang banyak kok" sambil mengeluarkan uang 100 Pound yang ada di sakuku. Alhamdulillah akhirnya dia mau. ini adalah momen yang sangat penting bagiku, Syukuran untuk keponakanku, semuanya harus mendapat kebahagiaan ini.


*******


aku membaca kembali sms dari dua keponakanku, ahaha lucu. "Om lagi ngapain? om ini Afra, aku sama mas Rifky kemarin habis kartinian" (30/4/2011)


dan....tanggal 7-Mei-2011, Rifky sudah resmi diterima di SD Pongangan, Alhamdulillah. aku senang sekali. lewat sms mereka memberitahuku.


pelayan Restoran menyodorkan secarik kertas dan sebuah pena kepada kita, kami tulis pesanan di atas sehelai kertas putih itu. aku serahkan semuanya kepada kurniawan. karena aku tidak tahu makanan mana yang bisa meluluhkan lidah.


kurniawan membisik, "Nasi Goreng Ayam aja, Ayamnya besar lho, satu ekor penuh" wuuiiih..!! tanpa pikir panjang aku langsung pesan menu itu. Dana memesan Nasi Goreng Hailam, entah masakan apa itu, namanya aneh....makanya Dana tertarik untuk mencobanya, hal yang aneh-aneh pasti Dana yang pesan, sedangkan Ayu memesan Mie Goreng Biasa. Ah....dia masih memikirkan uangku. Timbul rasa seganku kepada dirinya. tiga orang sisanya memesan Nasi Goreng Ayam.


lama kita menunggu....perut kami semakin berontak, berteriak dan berdemo. Restoran-nya sempit. di dalam Resto kita diwajibkan melepas sandal/sepatu. teringat Kurniawan yang langsung nyelonong memakai sandal di dalam resto langsung ditegur oleh penjaganya.


di iringi dendang lagu Nasyid Malaysia, menambah sedu suasana malam ini.


lama kita menanti, akhirnya datang juga menu yang kita tunggu, Nasi Goreng Ayam, memang besar ayamnya, dan nasi gorengnya unik, berwarna merah pudar tanpa rasa, yang memberi citarasa unik adalah saus merah yang di tabur disekeliling nasi, saus sup dengan potongan sayuran kecil-kecil. di tambah lagi Ayamnya lembuuuuut...banget. aku terkejut saat memotongnya dengan sendok, "Ya Ampun....lembut banget nie ayam, lembut dan empuk"


dan tiba giliran Nasi Goreng Hailam pesanan Dana. nasi goreng dengan warna kecoklatan seperti nasi Kebuli tapi tanpa rasa, lagi-lagi yang memberi citarasa unik adalah sausnya yang di taburi di sekeliling nasi. kalau Nasi Goreng Ayam milik kami semuanya serba Kemerahan, di Nasi Goreng Hailam semuanya serba kecoklatan, ada potongan daging yang entah Daging apa itu.


dan aku tutup acara makanku dengan segelas Es Bandung. entah siapa yang pertama kali menamakan Es Bandung. aku kira hanya di resto Indonesia yang menyediakan es ini, ternyata di resto Malaysia juga. es susu dengan campuran sirup strawberry, itulah Es Bandung.



Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

Cerpen Sederhana di Keheningan Malam

satu bulan yang lalu, tepatnya Jum'at tanggal 8-April-2011 pukul satu dini hari, aku menikmati keheningan malam sendirian, tenggelam dalam kesunyian Tahajjud, ku lihat sekeliling, teman-teman sudah terlelap. usai aku panjatkan do'a kepada Sang Maha Pencipta Seni di dunia ini, aku kembali ke Laptopku.

jemariku menari di Keyboard, membuat sebuah cerpen sederhana, inspirasi dari kejadian beberapa hari yang lalu. kemudian cerpen itu aku terbitkan di akun Paperdrink ku. dan tidak aku sangka beberapa memberi komentar di cerpen yang aku buat. salah satu orang bilang sangat menyukai cerpenku karena menggetarkan hati usai membacanya, aku sungguh terharu, cerpen sesederhana itu bisa menggetarkan hati orang lain.aku sungguh...sungguh terharu.

dan....inilah cerpen sederhana yang aku buat

*******

*******

Ku langkahkan kaki menuju pintu gerbang, udara masih dingin menusuk pori-pori kulitku, sisa-sisa musim dingin masih terasa di negeri ini, padahal sudah beberapa bulan ini musim semi memasuki hari-hari ku.

Aku pulang bersama teman satu kampusku, Ammar, pemuda berkacamata berkebangsaan Rusia, aku dengar dia Hafal Al-Qur’an 30 juz, Masya Allah..! seharusnya pemuda seperti dia kuliah di Mesir, Yaman, Libya atau di Saudi, itu lebih baik baginya, pikirku. Tapi dia lebih memilih kuliah di Harvard University. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia mengambil jurusan Hukum.

Terkadang saat dia tengah sendirian, aku mencoba mendekatinya, rasa penasaranku menjadi-jadi, aku bertanya kenapa dia memilih kuliah di Harvard, kenapa memilih lingkungan seperti ini? Lingkungan yang mungkin akan menjerumuskannya, banyak orang-orang barat yang melakukan tindakan tidak senonoh di jalanan yang mungkin akan merusak hafalan Al-Qur’annya. Dengan enteng dia menjawab, “seseorang akan jauh lebih berkembang jika bertemu dengan banyak rintangan”, Jawaban yang membungkam mulutku.

Pemuda berbola-mata biru itu pernah bercerita kepadaku, dia ingin menjadi Hakim dan Pengacara yang menjunjung tinggi ajaran Islam, karena hampir semua pelaksana hukum di Negara-nya telah di butakan oleh kesemuan.

*******

Tiga lapis baju hangat sudah aku pakai, tetapi udara dingin masih saja merayap di setiap bagian tubuhku, aku melihat ke arah Ammar, dia santai saja menggunakan baju satu lapisnya, ah…..memang berbeda antara orang tropis dan orang yang terbiasa hidup di tempat bersalju.

Di tengah perjalanan pulang, seorang lelaki berumur 40-an berdiri di samping tembok luar kampus, menawari kami Tissue yang dia bawa, kami menolaknya, saat ini kami tidak membutuhkanya, dari belakang dia terus mengikuti kami, aku tidak peduli dan acuh, kejadian ini sering terjadi di sini, penjual yang memaksa pembeli.

Di tengah keacuhanku, Ammar berbalik, sekilas kulihat lelaki berwajah ke-bapak-an itu menangis sesenggukan di hadapan Ammar, tangan kekar temanku itu memberikan uang satu Euro, bapak itu sangat berterimakasih dan memberikan beberapa kotak Tissue sebagai balas budi, tetapi dia menolak.

Ammar kembali mendekatiku,

“Sieg…Bapak tadi kecopetan di bis”

“600 Euro”

“Padahal itu gaji pertamanya“

Langkahku terhenti mendengar pernyataan sahabat Rusia-ku itu, juga karena mendengar lirik lagu MP3 Maher Zain yang saat ini sedang ku dengar,

Tell me when did we become,

So cold and empty inside

Lost a way long time ago

Did we really turn out blind

Aku tidak kuat lagi menahan jiwaku yang bergejolak di dalam dada, aku mencoba mundur dan berbalik tanpa sepengetahuan Ammar, dengan Lagu Maher Zain-Hold My Hand yang masih terngiang di telingaku.

How could we ignore , heartbreaking crying sounds

Aku langkahkan kaki menuju Bapak penjual Tissue itu…

And we’re still going on

Aku raih kedua tangannya…

Like nobody really cares

Aku masukkan tanganku ke dalam tas…

And we just stopped feeling all the pain because

Aku ambil selembaran kertas yang ada di dalamnya…

Like it’s a daily basic affair

Aku berikan kertas-kertas itu ke tangan bapak penjual Tissue tanpa mengatakan satu kata pun.

Aku kembali berlari mengejar Ammar, punggung Ammar yang sulit aku raih….

Now we share the same bright sun,

The same round moon

Why don’t we share the same love

Tell me why not

Life is shorter than most have thought

Hold my hand

There are many ways to do it right

ZHIE

»»  Baca Selengkapnya...

Alexandria yang Belum Bisa Ku Gapai

20-Mei-2011


pagi ini Gamajatim (Keluarga Masyarakat Jawa Timur) mengadakan jalan-jalan ke Alexandria, perjalanan sebelum menghadapi ujian, menghilangkan penat sejenak setelah berjuang sepanjang hari membaca dan mendalami Muqarrar[1] .


tapi...sayangnya…..aku tidak bisa mengikutinya, dengan berbagai pertimbangan yang aku lakukan.


pertama jalan-jalan kali ini membayar uang 40 Pound dan hanya untuk satu hari, rugi sekali aku pikir. meski teman-teman memaksa aku untuk ikut, ada yang bersedia meminjami aku uang, ada yang bilang perjalanan tidak akan seru jika tidak ada aku, tapi...aku tidak bergeming.


Yaa sebenarnya aku juga ingin ikut, tetapi...mengingat aku sudah mendaftar Rihlah[2] ke Alex selama 7-10 hari setelah ujian dengan biaya perjalanan, penginapan dan tempat tinggal gratis, membuat aku semakin mantab untuk menolak tawaran Rihlah bersama Gamajatim.


dan lagi...jikalau aku ikut Rihlah bersama Gamajatim, aku pun akan mengalami penyesalan yang teramat dalam dikarenakan alasan kedua, yaitu tidak bisa bertemu dengan sahabat perempuanku, Dila.


Dila adalah satu-satunya mahasiswi al-Azhar asing yang aku kenal, aku memang banyak kenal beberapa pelajar perempuan dari berbagai negara, tapi dari al-Azhar cuma dia yang aku kenal.


gadis kelahiran Singapore ini tinggal di Alexandria, pertama kali aku jumpai saat aku masih bekerja di Hotel, kata teman-temanku Dila mempunyai wajah yang manis dan ramah. yaa bisa ku lihat saat awal pertemuanku dengannya, dia selalu melempar senyum kepada kami yang tengah menyiapkan sarapan dan bersih-bersih ruangan.


dan....hubungan kami berlanjut sampai ke e-mail, lama kami ber E-mail ria tanpa terasa kami menjadi amat dekat, meski kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris , tapi kami bisa mengerti satu sama lain (waw...terlalu lebay kata-katanya) bahkan aku pikir, dia yang lebih mengerti aku.


Terkadang aku tertawa membaca candaannya, aku sangat terhibur membaca pesan-pesan yang dia kirim. saat dia menceritakan kesusahan dan rasa capeknya aku merasakan kesusahan dan rasa capek itu (weew....kok semakin lebay perkataanku, sok mengerti orang lain).


19 April 2011, Dila menceritakan kesan pertamanya bertemu denganku “ kamu seperti saudaraku Zhie...pemalu. sering aku melihat ke arahmu, tetapi kamu selalu memalingkan muka, Well.....That’s okay.. mungkin itu sikapmu saat bertemu orang baru dalam kehidupanmu, aku hargai itu, kamu tidak harus berubah.”


“Dan menurut pandangan pribadiku kamu pemakai pakaian yang bagus/ selera pakaianmu bagus Zhie...”(karena saat aku berjumpa dengannya, aku selalu memakai kemeja dengan dihiasai rompi jas, terkadang juga rompi rajutan, karena untuk bekerja di Hotel, kita harus tampil sempurna di depan tamu kan? ^^).


dia melanjutkan kata-katanya......”saat lama kita saling berkirim E-mail, ternyata kamu teman yang sangat mengagumkan, dan aku berharap kamu akan selalu seperti itu.” ahahaha aku tersipu malu membaca pesan itu.


jauh-jauh pergi ke Alexandria tanpa bertemu Dila akan terasa Hambar bagiku, mengunjungi beberapa tempat bersejarah sekaligus dalam satu hari......uh..aku yakin aku tidak akan merasa puas jika aku mengikutinya, ada perasaan di kejar waktu dan tidak bisa puas berfoto dan berpose narsis.


dan lagi....akan sulit mencari waktu bebas untuk bertemu dengan Dila. aku tidak ingin pertemuanku dengan Dila menjadi sesuatu yang mengecewakan karena aku dikejar waktu.



Zhie



[1] Buku/Diktat kuliah.

[2] jalan-jalan.

»»  Baca Selengkapnya...

Keputusan yang Membuat Bimbang

Selasa, 5-April-2011



Bingung…apa yang bergejolak di hatiku saat ini sebuah penyesalan atau kelegaan…



Di mulai dari pagi ini, sekitar jam 8 pagi aku tengah mengerjakan tugas. Aku mempunyai janji dengan gadis Amerika bernama Julia, dia datang ke Mesir untuk melakukan riset kepada MASISIR (Mahasiswa Indonesia di Mesir), aku dengar dia mendapat dana dari The Asia Foundation untuk melakukan riset itu.



Menakjubkan aku pikir, perempuan muda itu mendapat kepercayaan dari TAF untuk melakukan riset? Padahal dari wajahnya masih jelas terlihat dia masih muda, mungkin baru memasuki awal 20-an. Di samping itu, wanita berambut pirang itu bisa berbicara bahasa Indonesia bahkan bahasa Arab, meskipun cuma sedikit.



Aku coba letakkan alat-alat tulisku sejenak dan mulai menghubungi nomornya, mencari kepastian dimana dan kapan aku bisa mewawancarainya, mungkin inilah keuntungan menjadi seorang pers, bisa mendapatkan nomor orang-orang penting.



Dia mengangkat teleponku…menyapaku, “ hey…Zain ^^, (sejenak aku merasa senang karena namaku diingat) I’m running around now, call me back a few hours ”[1]


Aku menyanggupi…..padahal..satu jam lagi aku akan berangkat kuliah, dengan sangat terpaksa aku tidak masuk kuliah hari ini, dengan pertimbangan, aku bisa meminjam catatan Dosen dari teman-teman.



Dan hari ini juga ada acara seminar di ACC (Al-Azhar Conference Center), yang dihadiri oleh Syaikh Ahmad Thayyib (Grand Syaikh Al-Azhar) dan Syaikh Ali Jumu’ah (Mufti Mesir).



Beberapa temanku mulai bimbang, dan terpecah menjadi dua bagian, sebagian berangkat kuliah, sebagian lagi berangkat ke ACC dan bergegas menuju depan asrama untuk menaiki bis jemputan, sementara aku……terdiam bosan menunggu waktu.



Jam sepuluh, aku berencana menelpon kembali Julia, saat mulai kuraih HP-ku dari meja, Ponselku berdering mengeluarkan instrument IRIS “Sad Love”. Rio menelponku…..dia sudah tiba dari Indonesia, aku angkat dan ku sapa… “Hey Rio….apa kabar?”, dia meminta bantuanku, dia menungguku di depan Gedung Sya’rawi. aku segera ke kamar merapikan diri, bergegas menuruni tangga lantai empat.



Hari ini dia diminta Cek Darah[2] dari pihak asrama, dia mengaku lemas, dan ingin aku menemaninya ke Rumah Sakit Tahrir, padahal sebentar lagi aku ada janji menelpon Julia, tapi aku tidak tega, dengan sigap kami mencari Taxi menuju Tahrir.



Di rumah sakit, kami menunggu antrian, yang memeriksa seorang perempuan Mesir yang masih terlihat muda, jika dilihat dari paras wajahnya mungkin seumuran denganku, dengan balutan jilbab khas mesir dipadu dengan seragam dokter berwarna putih semakin menambah keanggunanya. Sikap dan suaranya lembut membuat pasien manapun betah dia periksa.



Aku coba memberanikan diri untuk bertanya namanya dengan bahasa halus, “Ismak Karim eh?” ternyata dia tidak faham, akhirnya aku bertanya dengan bahasa pergaulan, “Ismak eh?”, dengan halus dan sedikit menundukkan pandangan dia menjawab, “Samha”.



Oh….ternyata gadis ini bernama Samha…! Aku coba beranikan diri untuk meminta alamat E-Mail-nya, tapi kuurungkan, aku berpikir ke depan memikirkan resiko yang terjadi nantinya, aku takut Samha dimarahi oleh para seniornya, memberikan E-mail di saat sedang bekerja.



Jam sebelas kami sudah kembali ke Asrama. Aku segera bergegas menelpon Julia, ternyata tidak diangkat, mungkin dia sedang istirahat. Aku mengiriminya SMS.



Jam dua siang belum juga ada balasan dari Julia, teman-temanku mulai berdatangan, mereka mengatakan seminar hari ini sangat seru, banyak perdebatan yang memanaskan ruangan, sangat rugi jika tidak ikut.



Allah…..rasa penyesalan hinggap di hatiku, karena tidak ikut seminar dan wawancara dengan Julia juga tertunda, tapi rasa penyesalan itu bercampur dengan sedikit kelegaan, karena jika aku hadir di seminar, aku tidak bisa membantu temanku, Rio, yang sangat membutuhkan bantuanku………semua kejadian ada hikmah di baliknya, meskipun kita belum menyadarinya sekarang.




Zhie



[1] Saya sedang jalan-jalan sekarang, hubungi aku kembali beberapa jam lagi.

[2] Setiap orang yang baru saja pulang dari negaranya, wajib cek darah.

»»  Baca Selengkapnya...

Selamat Tinggal.....Kakek....!

Selasa, 29-Maret-2011



Hari ini, jam sebelas siang, aku menerima pesan singkat dari Mbak Ifa. Bapak Wahab telah pulang ke Rahmatullah…..Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un…..



Sudah lebih dari satu Minggu bapak wahab dirawat di rumah sakit, sejak tanggal 18 Maret lalu, dokter bilang jantung beliau telah membesar dan hanya mu’jizat yang bisa menyembuhkannya….Allah….



Secepat itukah beliau meninggalkan kami? sesaat aku bisa bernafas lega menerima e-mail dari Mbak Wilda, sepupuku, dua hari yang lalu~27-Maret~ mengatakan bahwa beliau telah siuman setelah tiga kali diduga hampir meninggal.



Aku teringat saat aku masih kecil…..kelas empat SD, aku dirawat di rumah sakit selama berhari-hari karena “Muntaber”, beliau menjengukku, di samping tempat tidur beliau memberiku semangat untuk sembuh, beliau berkata kalau aku sembuh, kita bisa masak sate bersama saat Idul Adha. Allah…..saat itu juga dadaku sesak, aku tidak tahan untuk menangis, air mataku meleleh……



Aku tidak bisa membalas perbuatan beliau kepadaku….di saat-saat terakhir, aku ingin melakukan hal yang sama yang beliau lakukan kepadaku, duduk di sampingnya…..dan memberikan semangat kehidupan……lagi-lagi….jarak memisahkan kita.



Aku tidak mengira secepat ini beliau pergi, padahal….aku ingin beliau masih ada saat aku lulus nanti, melihat kesuksesanku, melihat aku saat menikah nanti, menimang anakku yang mungkin berambut pirang khas Mesir dan Eropa (ah…..semoga..).



Tidak ada yang bisa kulakukan, aku ingin sekali mengurus jenazah beliau bersama keluarga, dan ingin melihat pusara beliau disaat terakhir. Tapi….di jarak sejauh ini, hal itu mustahil aku lakukan, yang hanya bisa aku lakukan hanyalah berdo’a…



Aku langsung menulis pesan singkat ke teman-temanku, aku kirim pesan ke sa’ad, temanku dari Afganistan juga teman-ku dari Mesir, Mostafa Atef yang terkadang menjadi imam para penduduk muslim dari seluruh dunia di Mesir.



Aku kirim pesan ke mereka untuk ikut mendo’akan jenazah Bapak Wahab, aku ingin Bapak Wahab dido’akan oleh seluruh muslim di dunia, tidak hanya Indonesia.





Zhie

»»  Baca Selengkapnya...

abcs