Dosaku Sebagai Seorang Lelaki Muslim


Kamis, 12 Juli 2012

Hari ini… aku melakukan perbuatan yang tak layak dilakukan seorang muslim laki-laki. Mengenai hubunganku dengan seorang perempuan. Dosakah aku Ya Allah? Aku yakin Engkau pasti bilang, “iya”.

Saat itu, Rabu menjelang tengah malam (pukul setengah dua belas malam) Kheloud mengirimiku SMS.
“Zein… bisakah kamu hadir di acara presentasi akhirku di kuliah jam 10 pagi?”
Hhhh… aku tak mungkin bisa menolaknya. Aku sudah beberapa kali mengecewakannya. Minimal, aku ingin melakukan sesuatu untuknya. Aku mengatakan iya.

*******

Aku mengunjungi kamar temanku, Sifrul. Berniat meminjam kemeja. Sudah beberapa hari ini air di asrama mati-hidup, aku tak mempunyai kesempatan mencuci bajuku, yang tersisa di lemariku hanya beberapa helai kaos. Mana mungkin aku pergi ke acara formal dengan pakaian kaos?

*******

Pagi menjelang jam sembilan aku sudah sampai di tepat yang kita janjikan. Aku telepon Kheloud dan dia menjemputku dengan membawa kertas karton putih besar. Hari ini dia memakai pakaian yang serba putih.

Bisa dibilang ini pertama kalinya aku memasuki universitas Helwan. Seperti yang aku duga, aku menjadi pusat perhatian. Karena aku satu-satunya orang Indonesia di sana. Namun ada juga yang menganggapku sebagai orang Mesir. Saat aku berjalan berdua dengan Kheloud… beberapa temannya menyapa. “Hey Kheloud? Siapa dia? Saudaranu? Kalian mirip.”

*******
Aku dikenalkan oleh beberapa teman Kheloud, ternyata sebagian dari mereka sudah tahu siapa aku.

Untuk sidang akhir kuliah, universitas Helway mengundang Doktor-doktor dari seluruh penjuru Mesir. Ada Doktor dari Alexandria, Kairo, Aswan dan lain lain. Seingatku ada total dua puluh tiga Doktor yang akan menguji masing-masing mahasiswa.

Kheloud berusaha merapikan jilbab putihnya. Dia bertanya kepadaku apa jilbabnya sudah rapi? Aku berkata bagian depan sudah rapi namun bagian belakang agak terselip kerah baju, jadi terkadang masih terlihat lehernya. Dia memintaku merapikan kerudung bagian belakang, Hhh…pertama kalinya aku merapikan kerudung perempuan. Dan dia bertanya kenapa rambutmu kamu ke ataskan? (model spike). Kemudian tanpa aku sadari tangan-tangan mungil Kheloud menurunkan helai demi helai rambutku, seketika itu juga… aku berdebar.

“Ya Ampun Zein… kenapa rambutmu begitu ringan dan lembut?” aku tertawa dalam hati. Aku rasa, mungkin ini pertama kalinya dia menyentuh rambut orang Asia. Rambut yang awalnya spike, kini terurai menutupi dahi.
“Zein… kamu terlihat sangat imut sekarang”

*******

Aku lihat dari wajah gadis berhidung mancung itu tergambar perasaan gugup. Dan berkali-kali meminta doaku. “Zein… tetaplah di sisiku, dan doakan aku.” Aku mengangguk dan dia kembali bertanya, “Zein… kamu berdo’a apa untukku? Aku ingin tahu…”

Ah… mesra sekali kami berdua. Aku tak lagi menjawab pertanyaan Kheloud. Aku malu dengan orang-orang lain di ruangan itu. Malu percakapan kami didengarkan orang lain. Seolah ruangan itu hanya milik kita berdua. Yang lainnya hanya diam mencoba mendengar perkataan-perkataan kami.
“Zein… kenapa kamu tidak menjawab?”
“Kheloud… nanti aku jawab di luar ruangan. Setelah semuanya selesai.”

*******

Sinar Matahari sudah menampakkan kilaunya. Kilau hangatnya kini berubah menjadi panas dan menyengat. Para Doktor sudah memeriksa hasil kerja keras para mahasiswa, tinggal menunggu hasil. Aku dan Kheloud berencana untuk keluar dan mencari makan. Dia menawarkan aku Pizza. Aku menurut saja, aku tahu dia tidak suka makan berdaging, dia lebih suka memakan buah-buahan dan sayur-sayuran, itu sebabnya dia berbeda dengan perempuan Mesir kebanyakan yang cenderung berisi. Dia mungil jika berada di antara orang-orang Mesir. Namun jika dia berada di antara perempuan Indo dia terlihat setara.

Dan itulah salah satu alasannya dia memakai sepatu hak tinggi hari ini. Dia berkata beberapa hari yang lalu salah satu Doktornya berkata, “Hey… aku tak bisa melihatmu.” Oleh sebab itu dia memakai sepatu hak tinggi, minimal agar aku bisa terlihat lebih tinggi dan Doktor bisa melihatku.

Terkadang aku heran, apa Kheloud terlihat mungil? Aku kira tidak. Mbak Ayu pun berkata demikian. Pernah suatu hari Mbak Ayu berkata kepadaku. “Zai… siapa nama perempuan Mesir yang kamu bawa dulu ke kantor ICMI? Dia tinggi, putih, cantik dan terlihat begitu berpendidikan.” Tinggi… ya semua orang Indonesia pasti akan bilang kalau Kheloud mempunyai perawakan yang tinggi.

*******

Ruangan Pizza begitu sunyi. Seperti benar-benar disiapkan untuk kami berdua. Hembusan udara yang begitu sejuk dari AC membuat kita betah duduk berlama-lama di sini. Kheloud… bertanya ingin pesan apa, aku berkata aku bisa makan apapun, pesankan makanan yang sama denganmu.

Saat melihat pemuda yang begitu pendiam menyajikan makanan, tiba-tiba perasaan sedih menyelimutiku. Pemuda itu seolah mengingatkan aku kepada diriku sendiri. Di umur semuda itu menikmati betapa kerasnya bekerja. Aku bisamerasakannya, begitu letihnya bekerja. Dan lagi-lagi hati emas perempuan berjilbab putih itu kembali Nampak. Dia menyelipkan uang lima pound pada pemuda itu sebelum pergi.

Suasana hening menyelimuti restoran itu, seolah waktu yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu yang masih terganjal di hati. Dengan suara lirihnya gadis Mesir itu berkata… “Zein… aku berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik untuk teman-temanku. Namun saat aku membutuhkan mereka, seolah mereka semua adalah  tipuan dan angan-angan. Saat itu aku benar-benar membutuhkanmu, aku telpon berkali-kali namun kamu tidak menjawabnya.

Saat itu, aku hanya bisa terdiam… aku akui itu. Ponselku rusak, dan hampir semua nomor hilang. Aku terpaksa menitipkan sim card-ku kepada ponsel teman yang dual sim. Banyak nomor yang menelponku. Aku tak bisa mengetahui nomor siapakah itu, karena semuanya tak bernama, nomor simpananku lenyap. Aku juga malas harus menelpon satu-satu. Dan saat mereka menelponku ponselnya tentu saja dibawa temanku. Aku merasa kurang nyaman jika itu bukan ponselku. Aku menjadi egois. Aku tiba-tiba ingin ketenangan, tak ingin ditelpon siapapun. Tak ingin menjawab panggilan telepon siapapun.

Aku hanya terdiam saat itu. Dia kembali bertanya kepadaku tentang sikapku yang mengupload foto-fotonya di fb kakak perempuanku. Memang kebanyakan orang Mesir tidak ingin foto-fotonya diupload di fb. Aku melanggar adat mereka. Dan yang aku heran… darimana Kheloud tahu kalau aku mengupload fotonya? Dan kemudian foto itu aku privasi segera.

Dan… lagi-lagi aku terdiam. Percuma menjelaskan alasan-alasannya. Aku tak ingin menambah rumit permasalahan. Yang harus aku lakukan saat itu hanyalah mengakui kesalahanku dan meminta maaf.

“Zein… karena kamu mengupload foto itu, aku jadi berpikiran lain tentang dirimu. Aku mungkin akan memaafkanmu, tapi aku tidak akan pernah lupa. Ingat kata pepatah ‘kamu bisa memaafkan kesalahan orang lain, namun kamu tidak akan pernah melupakannya.’”

“Dan untuk teleponku yang berkali-kali tidak kamu angkat, aku tidak akan memafkanmu. Saat itu aku benar-benar butuh kamu, namun kamu tidak ada untukku. Aku tidak akan memaafkanmu Zein. Aku akan memaafkanmu jika kamu melakukan sesuatu yang bisa membuatku memaafkanmu.

Saat itu, meski dalam suasana yang menegangkan, aku kembali bisa membuatnya mencair. Canda tawa kembali menghiasi diri kami berdua. Dan saat itu entah bagaimana, tangan kami tanpa sengaja berpegangan. Hal yang tak mestinya dilakukan oleh lelaki muslim. Aku tiba-tiba gugup, dan debaran jantungku tak terkontrol, aku tarik tanganku dengan segera. Allah… dosaku semakin bertumpuk-tumpuk.

*******

Saat adzan Ashar berkumandang, kami kembali ke Universitas Helwan. Bertemu dengan teman-teman Kheloud di jalan. Lagi-lagi mereka bertanya. “Kheloud… itu saudaramu? Kalian mirip.”

Aku terlihat para mahasiswa sedang membereskan proyeknya, rata-rata mereka dibantu keluarganya. Ada ibu, saudara laki-laki dan lainnya. Cuma Kheloud yang sendirian, tidak ada keluarganya yang datang.

Aku membantunya membeli plastik besar di luar universitas, kita naik-turun tangga lantai lima. Membawa kayu yang berat. Aku kasihan melihat wajah letih Kheloud yang selalu bilang, “Zein… aku tidak bisa… aku tidak bisa lagi menaiki tangga.” Aku sebagai seorang lelaki saja mengakui naik-turun tangga lantai lima berkali-kali sungguh meletihkan. Apalagi Kheloud adalah seorang gadis yang lemah ditambah sepatu hak tingginya yang mengganggu.

Aku berusaha sekuat tenaga membantunya hari ini. Karena mungkin aku tidak bisa lagi menemuinya untuk waktu yang lama. Aku akan banyak kegiatan setelah ini yang akan mencuri waktuku bertemu Kheloud. Aku rasa aku tak bisa lagi memenuhi permintaan Kheloud di restoran Pizza tadi siang. Dia berkata, “Zein… minggu depan aku ingin memakan menu ini (menunjuk makaroni seharga 13 Pound).” (kita sama-sama memutuskan untuk tidak saling membayar makanan satu sama lain. Kalau kita makan, kita bayar sendiri-sendiri)
“tapi… Kheloud…mungkin aku tidak bisa… karena…”
“kamu pasti bisa menemuiku minggu depan, Zein…” tatapan matanya membuatku tak bisa lagi mengelak. Saat itu aku terdiam. Yaa hanya terdiam. Tak ingin mengecewakan tatapan mata itu.

*******


aku berkali-kali lipat lebih keras dalam bekerja. Aku lihat di sisi lain, minimal ada dua-tiga orang Mesir berperawakan kekar membantu satu orang. Sementara aku, hanya sendirian membantu Kheloud. Aku tak tega lagi melihat ekspresi wajahnya yang keletihan.

*******

Sejak pukul empat sore, temanku, Sifrul menelpon. Menanyakan keberadaanku. Hari ini ada acara interview para pendaftar baru. aku berkata untuk menunggunya satu jam lagi, karena kita masih beres-beres.

Satu jam telah berlalu, dan kami baru saja menyelesaikan pekerjaan kami. Kheloud masih terlihat begitu lemah. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia berkata lirih kepadaku…
“Zein… keluargaku tidak ada yang mengerti kerja kerasku. Aku berjuang keras untuk proyek akhirku di kuliah. Berangkat pagi dan pulang jam 11 malam untuk menyelesaikan tugas akhir. Seharian aku tidak makan, aku tidak bisa makan jika tugasku belum selesai. Kakak dan ayahku bahkan tidak ada yang menjemputku saat malam hari.”

“Selama dua puluh hari ini selalu seperti itu… pulang malam dan pulang untuk istirahat. Paginya harus berangkat lagi dan

“Saat presentasi tadi, ayah dan kakakku tidak hadir. Ibuku hanya mengunjungi sebentar kemudian pulang.”

Seketika itu, hatiku tersentuh. Kheloud pasti iri, melihat teman-teman lain. Merasa cemburu melihat kebahagiaan sahabat-sahabatnya. Ibu dan keluarga-keluarga temannya menunggu sampai akhir.

Aku sebenarnya tak ingin berkata-kata lebay, tapi aku kira saat ini Kheloud benar-benar membutuhkannya. Dalam desah lirihnya, aku membalas, “Kheloud… di hari penting ini kamu tidak sendirian lagi. Ada aku yang saat ini di sisimu.”

Hhhh… pelajaran buatku jika menjadi seorang ayah nantinya. Sesibuk apapun aku harus bisa meluangkan waktuku untuk menghadiri acara penting anak-anakku. Aku tak ingin membuat anakku bersedih seperti yang dialami Kheloud saat ini. Mau tidak mau aku harus menjadi pengusaha jika ingin impianku tercapai. Seorang pengusaha bisa meninggalkan tokonya kapanpun dia mau. Berbeda dengan karyawan yang terikat peraturan bos.

Masih dengan suara lirihnya… dia melanjutkan kata-kata, “Zein… dua puluh hari ini aku sangat kesepian.” Kemudian kedua tangannya menggenggam erat lenganku. Seolah berkata kalau dia ingin selalu berada di sisiku dan tidak mau membiarkan kau pergi.

Ingin aku melepasnya, karena posisi kita sudah seperti pasangan suami-istri bagi adat Mesir. Berjalan berdua dan si perempuan menggenggam erat lengan si lelaki. Ingin aku melepasnya karena tak ingin orang lain salah paham. Namun… kenapa aku tidak bisa? Kenapa aku tak bisa melepaskan genggaman kedua tangannya? Apa karena aku merasa kasihan karena melihat begitu letih dirinya? Atau… karena aku sudah benar-benar jatuh hati kepadanya?
Dan beberapa kali dia mengulang perkataannya, “Zein… aku merasa sangat kesepian…sangat kesepian…”

Kheloud pergi ke toilet, dan aku ke masjid untuk sholat Ashar. Kami bertemu kembali dan menunggu bis bersama. Hari ini Kheloud datang bulan. Mungkin itu lasannya terlihat begitu lemah. Aku tahu hal itu karena aku bertanya kenapa memakai benang yang diikat di pergelangan tangan? Dia berkata untuk menambah kekuatan bagi wanita yang Haid. Semua gadis melakukan hal itu. “Kamu tahu orang-orang Jepang dan Cina yang terkadang mengenakan gelang giok atau semacamnya? Mereka menggunakan itu untuk kesehatan, hanya saja aku memakai cara tradisional dari nenekku.”

Lama kami menunggu mobil, tiba-tiba Kheloud berlari mencari pohon, dan dia muntah. Allah… aku langsung memijit leher dan pundaknya. Tiga kali dia muntah aku sibakkan kerudung putihnya agar tidak terkena muntahannya. Tiba-tiba dia menangis sesenggukan, matanya basah. Aku langsung berlari mencari pembeli tissue. Aku mencari ibu penjual tissue yang duduk di bawah jembatan pagi tadi, namun aku tak lagi menemukan sosoknya. Aku kembali berlari ke kios terdekat dan beruntungnya ada tissue. Aku memberikannya tissue dan memberikannya susu strawberry.

Aku berusaha mengusap air matanya dan dia berkata. “Zein… aku sebenarnya tidak mau melakukan hal itu.  Aku sudah menahannya beberapa kali, aku tak ingin melakukannya di hadapanmu. Namun tadi aku sudah mencapai batasnya. Aku tak bisa lagi menahannya. Maafkan aku Zein… dan terima kasih… terima kasih banyak…kamu tidak lari… terima kasih kamu ada di sisiku saat itu.”
“Tidak apa-apa Kheloud… tidak apa-apa” saat itu… mata kami dalam bertatapan… kacamata Kheloud terlepas. Aku tak mengira kenapa bola mata Kheloud begitu indah? Kecoklatan.

*******

Kami mendapat bis, meski beberapa rute aku berdiri, namun karena rahmat Allah akhirnya aku bisa duduk di samping Kheloud. Dia begitu letih. Aku membayangkan gadis ini pagi tadi begitu ceria dan enerjik, namun sekarang lemah terkulai.

Aku melihat Kheloud yang begitu letih namun tak ada ruang untuk beristirahat. “Kheloud… tidurlah di pundakku.”
“Zein… tadi aku tertidur di pundak seorang wanita dan dia membangunkan aku dan menyuruhku tidur di bantalan kursi.” Dan seketika itu dia tertidur di pundakku. Begitu imutnya cara dia tertidur, kakinya merapat dan kedua telapak tangannya saling menggenggam, kepalanya dia sandarkan ke pundakku yang ada di sebelah kanannya.

Beberapa orang Mesir melihat kami. Aku tahu mereka tidak setuju dengan perbuatanku, sejujurnya akupun begitu, sebagai seorang lelaki muslim yang menjaga jarak kepada perempuan… tak selayaknya aku berbuat seperti ini. Namun aku tak bisa membiarkan gadis letih dan lemah ada di hadapanku. Allah… dosakah aku Ya Allah. Aku rasa Engkau akan menjawab “Iya.”

Zhie
»»  Baca Selengkapnya...

E-mail dari Sahabat Singapore


Senin, 21 Mei 2012

Bulan ini, lagi-lagi aku harus bersyukur kepada Allah. Orang-orang yang hampir lenyap dari kehidupanku, kini satu persatu bermunculan mengisi kembali ruas kehidupanku.

Selain pertemuan kembali dengan Dovi, kini aku bertemu kembali dengan Dila, teman Singaporeku. Tadi malam, tetangga kamarku merayakan ulang tahunnya, tentu kami sibuk membantunya. Mulai merapikan, sampai memilih instrument yang pas. Di tengah kesibukanku, tanpa aku sadari tiga buah SMS sudah menetap di Inbox ponselku.

Aku menyadarinya saat tengah malam, usai semua urusan terselesaikan. Nama yang sudah lama tak muncul di ponselku “My Neechan”, Hhh aku menamai Dila seperti itu.

Dia adalah gadis Singapore yang kuliah di al-Azhar Alexandria, berbeda denganku yang kuliah di Kairo. Bisa dibilang, penduduk Singapore yang menetap di sini bisa dihitung dengan jari, penduduk langka, dan sangat langka juga mendapat teman Singapore di bumi Kinanah ini.

Saat ber-SMS dan berkirim E-mail dengannya, dia terlihat begitu dewasa, seolah mengetahui seluk beluk kehidupan, dan yang pastinya… dia selalu menggantungkan diri kepada Allah.

Namun aku harus tertawa terpingkal saat bertemu langsung di Alexandria, begitu kekanakan, asyik, aneh, gila bercampur menjadi satu. Dan gaya bicaranya begitu imut, aku belum pernah bertemu perempuan dengan nada bicara seimut itu.

Hari-hari di Alexandria begitu berkesan. Pertama kali bertemu dengannya, dia membelikan aku coklat Snickers. Menciptakan memori yang melekat tanpa kusadari. Membuat otak ini kembali mengingatnya saat melihat bungkus coklat Snickers di toko-toko terdekat.

Malam-malam terakhir di Alexandria aku habiskan beberapa jam berkunjung di rumahnya, sisanya  kami menyusuri tepi pantai Alexandria. Angin berhembus sangat kencang saat itu, disertai melodi desiran ombak dan suara pemuda-pemudi yang masih berenang di pinggiran pantai.

Di malam itu, aku melihat beberapa koper sudah tertata rapi di rumahnya. Dia akan kembali ke Singapore. Meninggalkan teman-temannya untuk sementara waktu. Gadis itu unik dan begitu peduli dengan keluarganya, sampai di akun FB dan Skypenya hanya berisi keluarga, tak lebih.

Sejak perpisahan itu, kita mulai kehilangan kontak. Dan sedikit demi sedikit permasalahan menjadi rumit. Perbedaan adat Negara mulai nampak, dan persahabatan kita mulai renggang untuk beberapa waktu.

Aku mencoba menelpon, mengiriminya SMS dan mengirim E-mail, namun tak penah ada balsan. Dan beberapa minggu sebelum ujian aku kembali mengiriminya Email, bercerita panjang lebar tentang keadaanku selama ini. Meski E-mail itu tidak dibalas nantinya. Aku hanya ingin memberi kabar bahwa aku baik-baik saja di Kairo.


Dan… hubungan kami berangsur-angsur membaik sejak (sebelum) ujian semester ini, kita mulai suka ber-SMS-an kembali. Saat aku buka inbox e-mailku, aku terkejut, mendapat sebuah e-mail dari Dila. Sudah lebih dari satu tahun aku tidak menerima e-mail darinya…

Salam padamu juga, Zhie ~ :)
Alhamdulillah, semuanya baik-baik di sini ~
Saya berharap kamu juga dalam keadaan sehat ...
Saya minta maaf untuk balasan saya
yang terlambat ..
Karena internet saya
sedang mati di rumah ...
Saya telah membaca e-mail
mu minggu lalu ...
Tapi tidak bisa menjawab
segera karena matinya internet ... Pffftttt ... * Wajah Marah *
Maaf membuat Anda menunggu ...
Dan maaf saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengatakan 'Good Luck' kepada Anda untuk
ujian lisan Anda ...
Sebelum
nya, Good Luck untuk ujian mendatang .. :)

Sebenarnya, tepat sebelum saya membuka email saya,
Aku teringat padamu, ketika saya membuka email ...
Email Anda
sudah berada di sini .. ;)

PERTAMA DARI SEMUA ...
*
Tepuk Tangan dengan Berdiri *
Alf Mabruk, Ya Akhi ~: D
Untuk
launching buku pertama Anda ...
Saya sangat senang .. :)
Semoga Anda men
jadi penulis besar nantinya ..
Insyaallah, Amin. :)

Alhamdulillah …
Sangat senang mendengar hal yang baik dari teman sendiri ...
Dan senang ketika mendengar hal besar dari teman ... :)
Saya senang bahwa
keadaan Anda baik .. Dan bahagia untuk Anda juga ... :)
Alhamdulillah ~ :)

Dear, Zhie ...
Lebih dari satu tahun kita telah berteman ...
Tahu bahwa aku tidak pernah membuang Anda
dalam persahabatan ini ...
Tapi ya, saya akui terkadang aku mengabaikan Anda ...
HANYA karena keadaan
DIRI SENDIRI SAYA ...
Bukan karena tindakan Anda ...
Ya, pernah ada ...
Tetapi segalanya
berubah ketika hal-hal tertentu terjadi padaku ...
Aku m
endiamkan semua orang .. Bahkan aku mengabaikan teman terbaik saya sendiri  dan keluarga saya sendiri ...
Dan sekarang, segala sesuatu dalam situasi yang ru
mit ...
Tapi insyaallah saya bisa mengelola dengan bantuan NYA ... :)

Saya minta maaf jika Anda terlalu masuk ke dalam situasi seperti ini juga ...
Jadi sekarang, aku perlahan-lahan kembali ke
jalan yang seharusya ku tempuh, namun dalam kecepatan lambat ...
Ingat
SMS yang saya kirim ke Anda sekali sebelumnya ...
Apapun yang terjadi, Anda
adalah teman saya ... :)
Which i hope i am .. : S

Saya lebih suka mengatakan ...
Itu karena saya benar-benar
tidak bisa menangani situasi saya dengan baik ..
Itu sebabnya ... Semuanya
berjalan salah ... : (
Tapi tetap ... Aku punya DIA ... ;)

Saya rasa ini adalah pertama kalinya Anda mengalami jenis persahabatan
seperti ini ..
Ya ada kalanya saya rindu berbicara dengan Anda dan kadang-kadang saya bertanya pada diri sendiri ...
Seperti
apa yang Anda lakukan sekarang ...
Dan berdoa dalam hati
kepada siapa pun yang saya pikirkan, berdoa agar dia akan baik-baik saja di tangan NYA .. :)
Anda mendapatkan gambaran bagaimana saya sekarang ...?!?!
Tapi mungkin jika Anda masih tidak dapat menerima bagaimana saya ..
Saya minta maaf ...


Saya sendiri tidak ingin kehilangan teman seperti Anda juga .. :)
Ok
ay, Chingu-ya? :)

Terakhir, saya minta maaf atas tindakan konyol saya ...
Saya akan mencoba yang terbaik untuk persahabatan
kita .. Okay :)
Jadi, setelah e-mail
ini ...
Mari kita berhenti mengatakan maaf lagi dan lagi
Okay .. haha ...
Secara praktis kita sudah mengatakan maaf setiap kali kita mengirim e-mail satu sama lain ... haha .. -__-"


Karena ujian dan musim panas yang datang ...
Jaga diri Anda ..
Minum banyak air putih ...
Istirahat sebanyak Anda bisa .. :)

Sertakan aku dalam do’amu
Ad-doa 'bi-doa' ~ :)
Wassalam.

P.S.
No ponsel anda masih sama kan? Nomor ponselku masih sama.

»»  Baca Selengkapnya...

Buah Sedekah


Senin, 2 Juli 2012

Hari ini aku terserang demam secara tiba-tiba. Ini karena kesalahanku sendiri, sepulang dari Alexandria (pukul 1 dini hari) aku langsung tidur di lantai tanpa memperhatikan begitu lemahnya tubuh ini. berjalan dari pagi sampai malam mengelilingi kota Alex, dilanjutkan perjalanan pulang sampai dini hari tanpa ditemani sesuap makananpun sejaksiang hari, begitu lemahnya kondisi tubuhku saat itu, rasa capek mulai menghilangkan akal sehatku. Aku tertidur di depan laptop. Di atas dinginnya lantai yang hanya tertutupi selembar karpet abu-abu.

Paginya tubuhku terasa berat, perut begitu sakit, badan terasa panas dan kepala begitu berat. Keadaan ini aku rasakan setahun yang lalu, penyakit yang tidak akan sembuh Cuma dalam waktu satu minggu. Aku tak ingin berdiam diri berbaring terus di dalam kamar, aku tak ingin kian hari tubuhku semakin melemah. Aku juga tak ingin periksa ke dokter maupun minum obat-obatan, karena obat kimia akan menambah penyakit baru nantinya. Kalau dihitung-hitung, sudah lima tahun ini aku tak meminum obat kimia. Meski sakit parah, aku berusaha keras untuk tak meminum obat-obatan kimia.

Saat tubuh ini dalam titik nadir, aku teringat sesuatu hal, hal yang bisa menjadi obat bagi diriku. Sedekah. Aku tidak membual, aku tidak sedang menceramahi para pembaca. Namun ini benar adanya. Sedekah itu obat.

Teringat kisah temanku, Wahid, dia terserang demam hebat saat itu. dan pada hari itu juga dia memberi sebungkus nasi goring untuk temannya, dan esoknya dia langsung sembuh. Begitu juga denganku, beberapa kali aku merasa tidak sehat, dan saat itulah aku paksakan tubuhku untuk keluar asrama, mencari pengemis yang menengadahkan tangannya di pinggiran tembok asrama. Sekeping uang Pound aku letakkan di tangan renta itu dan dalam waktu singkat, rasa sakitku lenyap.

Sore ini teman-teman mengajakku ke pasar rakyat Attaba, tuk membeli sepatu dan beberapa kebutuhan lainnya. Kebetulan aku ingin menggandakan kunci kamarku yang hilang saat berlibur ke Alex, juga aku ingin bersedakah pada pengemis Attabah.

Meski hari ini begitu berangin, membuat tubuh demamku semakin menggigil dan menampah berat kepala dan memudarkan pandanganku, aku tetap berusaha memaksakan kakiku tuk terus melangkah. Aku ingin lekas sembuh, aku ingin bersedekah, aku ingin membagi uangku kepada para pengemis di Attabah.

Lama aku mencari-cari orang yang tepat, namun tak juga aku temukan. Aku mencari orang-orang yang butuh uang. Dan satu orang kutemukan. Seorang ibu berparas letih, berjalan berdesakan dengan membawa sekotak tissue untuk dijual.

Dalam suasana yang penuh sesak, kujulurkan tanganku ke dalam kotak tissue yang dia bawa, memasukkan beberapa kepingan uang logam tanpa sepengetahuan dia, juga tanpa sepengetahuan orang-orang di sekitarnya. Dan… saat kepingan-kepingan itu lepas dari tanganku, saat itu juga kepalaku terasa sangat ringan, seolah satu beban berat telah lepas dari kepalaku.

Aku kembali menelusuri pasar rakyat Attabah, meski kepalaku terasa sedikit ringan, namun tubuhku masih terasa lemah. Saat itu juga aku bertemu seorang kakek-kakek dengan wajah kesulitan di pojok tikungan. Aku sedikit lupa benda apa yang tengah ia jual, namun wajah sedihnya membuatku trenyuh dan kuletakkan uang satu Pound di atas dagangannya. Seketika itu, satu beban di kepalaku lenyap lagi. Dan tanpa aku sadari demamku sudah lenyap, yang tersisa hanyalah pusing di kepalaku.

Saat diri ini menginjakkan kaki di asrama, kembali kutemukan pengemis duduk di dinding asrama, kuberikan beberapa kepingan uang logam pada tangan yang sudah mulai mengeras itu. Dan esoknya… rasa sakitku hilang, demamku lenyap dan pusingku berangsur-angsur mereda. Alhamdulillah.

Obat yang sungguh menjanjikan __Sedekah__

Zhie
»»  Baca Selengkapnya...

Sekilas Kisah Mahkotaku

Beberapa hari yang lalu… aku memotong rambutku… pendek…sangat pendek sekali. Mungkin ini pertama kalinya aku memotong rambutku sependek ini di Mesir. Aku tak lagi mirip actor Korea maupun Jepang lagi. Namun aku sangaaaaaaat suka dengan gaya rambut ini (meski karena kecelakaan. Salah milih pemangkas rambut :p).

Terkadang, aku mulai bosan mendengar orang-orang memanggilku F4 Mesir, bosan dipanggil orang Korea, bosan dipanggil orang Jepang. Hhhh....

Mungkin awal-awal aku senang dipanggil seperti itu, seolah menjadi orang Indonesia paling tampan di negeri ini (ceilee). Namun lama-lama bosan juga.

Tiba-tiba pikiranku flashback pada kejadian semester lalu, saat aku dan Kheloud duduk berdiskusi berdua di taman al-Azhar. Di kursi panjang itu… Kheloud tak henti-hentinya memandang foto kartu pelajarku.
“Zein… ini foto siapa? Yang rambut pendek ini…?”
“Fotoku”
“yang benar…?”
Dengan tetap memandang tak percaya dan mencoba membandingkan antara fotoku dan diriku yang tengah duduk di hadapannya. (Tingkahnya sangat lucu, aku tertawa)
“Zein… aku masih belum percaya… perlihatkan dahi dan kedua telingamu…”
Dengan kedua tanganku, aku sisir rambutku ke belakang dan memperlihatkan kedua telinga dan dahiku.
“Zein… kamu terlihat jaaaaaauuuuuuhhh lebih tampan saat rambutmu pendek”
“Dan… kamu terlihat begitu teguh, kokoh dan… sempurna di foto itu.”
“Bolehkah aku memiliki foto ini?”
Aku langsung mengambil kartu pelajarku cepat-cepat, tak ingin dimasukkan ke dalam tas Kheloud. Aku juga ingin mengoleksi kartu pelajarku dari tahun ke tahun.

Entah… apa reaksi gadis Mesir itu melihatku dengan tampilan yang sekarang ini…

*****
24-Juni-2012
Pukul 12:17
Satu SMS aku terima dari mbak Ayu…
“Zaaaai. Aitakute, aitakute, nomu nomu nomu pogoshippo yo.
Miss u so so sooo badly”

Aku langsung menelponnya, memarahinya karena mengirim SMS gak jelas. Dan bergaya sok muntah di telepon karena menerima kata “kangen” dari mbak Ayu. Dan seperti biasa… dia tertawa.

Pembicaraan terus mengalir dan aku beritahukan keadaanku sekarang terutama aku dengan potongan rambutku.

“Ya Allah Zai… coba kamu lebih tua dari aku, aku pasti suka padamu”

Hhhh… baik rambut pendek maupun rambut panjang tetap aja ada yang suka. Memang sulit jadi orang ganteng (Gubraaak…Jedeeer…!! )

Zhie
»»  Baca Selengkapnya...

abcs