Liburan Bersama Keluarga

Karena Facebook kakakku tiba-tiba terblokir... terpaksa foto-foto ini aku upload di blog.
sebelumnya mohon maaf kalau di sini wajahku kucel...
kemarin aku mengalami dehidrasi berat, begitu menyengat terik matahari di Piramid dan saat itu aku sedang berpuasa Syawal, dan tidak sahur sebelumnya (bangun-bangun sudah subuh, hehehe). jadi belum ada setetes air pun yang masuk ke dalam tubuhku saat itu.


Bersama adik dan sepupu (Dari kiri : Sundus (adik), Salma (adik), Muhammad (sepupu), Mariam (adik), Muhammad (sepupu. btw, namanya sama-sama Muhammad), Umar (sepupu), Aku, Ali (Adik).
Mariam dan Sundus menaiki unta
Aku dan Kuda
Aku dan Salma
Bersama adik adik tercintaku *^_^*
Di dalam Museum bersama adik dan sepupu
Bersama adik dan sepupu
Salma dan Piramid
Mariam dan Piramid
Aku dan Mariam di museum kapal
Salma (15th) dan Mariam (21th)
»»  Baca Selengkapnya...

Hilangnya Kesempatan


Ahad, 19 Agustus 2012

Aku terbangun oleh suara Wahid yang memanggilku, saat itu juga suara takbir menggema seluruh isi kamar, kesadaranku sedikit demi sedikit mulai kembali. Aku bergegas mandi dan merapikan diri untuk sholat Eid di masjid sebelah asramaku.

Aku duduk dengan khidmat mendengar khutbah sang imam. Si imam sempat lupa tidak melakukan lima takbir di rakaat ke dua sehingga dia menggantinya dengan sujud sahwi.

Di tengah khutbah aku sempatkan diriku membnalas SMS dari Maria. Aku baru menyadarinya ada pesan singkat darinya yang dikirim sejak pukul 4 :34 pagi.
« Salam Zain ! maaf kita tidak bisa bertemu denganmu saat Ramadan lagi. Kita semua sangat merindukanmu ! Selamat Eid ! apa rencanamu hari ini ? jika kamu punya waktu senggang, kami ingin melihatmu J .. »

Ada rasa penyesalan yang menghinggapi diri ini. Andai saat itu aku mengetahui ada SMS dari Maria, aku akan segera membalasnya. Aku baru mengetahui kalau tujuan dia mengirimiku SMS untuk mengajakku ke kota Fayoum, kota tempat tinggal neneknya. Hari ini keluarga Maria ingin mengunjungi nenek sehari penuh.

Sudah bertahun-tahun aku tinggal di Mesir, namun belum pernah sekalipun pergi ke kota Fayoum. Andaikan jadi, mungkin aku bisa berwisata sekaligus bershilaturrahim.

Aku mulai menyalahkan diriku sendiri, aku begadang kemarin malam menyelesaikan tugas-tugasuku, dua hari berturut-turut mencetak warna dan hitam-putih untuk bulletin edisi lebaran. Kita tidak ingin mengecewakan para pelanggan yang beriklan di bulletin kami. Dan kami baru saja tiba di asrama saat fajar menyingsing.

Andai malam itu aku tidak begadang mungkin aku mendengar suara ponselku dan dengan segera membalas SMS Maria, namun aku mencoba berpikir positif. Toh ada untungnya aku tidak pergi bersama mereka. Jika aku pergi bersama mereka, akulah yang malu nantinya karena aku pasti tertidur sepanjang perjalanan, karena hari ini aku hanya tidur 1-2 jam. Tentu memalukan bukan jika hal itu terjadi?

Hhh… pikiran positif membuat kita bersyukur terhadap kesempatan yang hilang di depan mata karena kesalahan-kesalahan kita.
Tidak ada gunanya merenungi nasib yang sudah terlewat.
Zhie


»»  Baca Selengkapnya...

Cinta-Nya


Senin, 13 Agustus 2012 (25 Ramadhan )

Saat itu, aku tak menyadari kalau Mariam mengirimiku sebuah pesan. Aku terlambat, terlambat membuka pesan itu…

Salam Zain! Bagaimana kabarmu? Alhamdulillah keadaanku baik-baik saja. Keluargaku sangaaat menyukaimu. Mereka bercerita pada anggota keluargaku yang lain kalau ada seorang pemuda Indonesia yang sangat sopan, baik dan agamis.
Kami ingin bertemu denganmu lagi Zain! Bisakah kamu berbuka puasa di sini lagi, sholat Tarawih dan Tahajjud di sini ?
Bisakah kamu tinggal bersama kami sepanjang malam di sini ? apa tidak apa-apa kamu tinggal jauh dari asrama dan temanmu ?

Aku baru membukanya satu hari setelahnya, dan baru membalasnya dua hari setelahnya (15 Agustus). Banyaknya kegiatan membuatku tidak bisa membuka e-mail setiap hari. dan sampai akhir Ramadhan aku tidak bisa bertemu Mariam kembali…

Aku membaca pesan itu berkali-kali. Tak bosan-bosannya aku memandang tulisan itu.  Keluarga Mariam menyukaiku, sampai mereka begitu antusias menceritakan sosok diriku. Hatiku luluh.

Namun satu sisi aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Kepribadian sopan, baik dan agamis itu ? apa itu sungguh kepribadianku? Atau hanya topeng yang aku pasang saat berada di depan mereka?

aku tak ingin jika kepribadian itu hanyalah topeng, aku tak ingin topeng itu selalu aku pakai di depan mereka. Aku juga tak ingin tersiksa karena selalu berusaha menjadi orang lain. Aku ingin nyaman bersama mereka dengan diriku seutuhnya.

Tahukah kamu kawan, pertemuanku dengan Mariam sedikit merubah jalan hidupku, seolah dia mampu mendekatkan aku kepada Allah. Tidak hanya Mariam namun keluarganya juga. Padahal mereka tidak pernah menceramahiku juga tidak pernah memberiku tausiah maupun sebagainya.

Hanya dengan memikirkan mereka, seolah aku ingin berlama-lama tenggelam dalam lembaran ayat al-Qur’an, ingin berlama-lama duduk di masjid, ingin berlama-lama berdiri menunaikan sholat sunnah.

Dan sepertinya Allah pun turut meluruskan langkah kita. Saat kita pergi ke kajian dan berjanji bertemu berdua usai kajian, ada saja yang menghambat kita untuk berduaan. Entah ponsel kita rusak dan tidak bisa menentukan ke tempat mana kita akan bertemu. Dan akhirnya kita pulang sendiri-sendiri tanpa bertemu sebelumnya.

Namun saat Mariam mengajak Salma, adiknya untuk ikut kajian, akhirnya kita bisa bertemu bertiga. Allah menjaga kami, DIA tidak ingin kami berduaan, karena jika dua orang yang bukan mahram bertemu, akan muncul orang ketiga yaitu Syaitan (hadits nabi).

Dan aku berpikir apakah itu arti cinta sesungguhnya? Cinta yang yang mampu mendekatkan seorang hamba kepada PenciptaNya?

Zhie
»»  Baca Selengkapnya...

Ujian Dua Pound


Sabtu, 4 Agustus 2012

Malam mulai menggelayuti angkasa, aku berjalan melewati suasana Ramses yang riuh. Terlihat begitu ramai meski malam sudah menampakkan wajahnya. Jalanan hampir dipenuhi angkutan umum. Orang-orang masih memadati jalanan Ramses, mebeli dan menawar barang, atau sekedar membeli makanan.

Aku menyebrang jalan yang dipenuhi sesak mobil angkutan umum. Tanpa aku sadari, sosok keibuan muncul mendekatiku, memelas dengan suara lirihnya, “Nak… aku ingin pulang tapi aku tidak mempunyai uang untu menaiki angkutan umum, bisakah aku meminta uang 2 pound?”

Saat itu juga aku menyadari bahwa Allah sedang mengujiku. Pas sekali uang yang tersisa di kantongku dua pound. Aku pun sangat membutuhkan uang itu untuk naik angkutan umum. Aku juga belum sholat Isya dan Tarawih, aku ingin cepat-cepat pulang untuk melaksanakan sholat dan segera istirahat.

Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin memberikan uang itu ke ibu itu dan aku yang pulang berjalan kaki. Namun masalahnya, aku tidak tahu rute jalan dari Ramses ke asramaku. Aku buta arah. Dan lagi jaraknya sangat jauh sekali.

Peristiwa ini sangat mirip dengan pak Jalal di film Para Pencari Tuhan. Saat itu pak Jalal kehabisan harta, yang tersisa hanyalah 500.000 ribu rupiah. Dan saat yang bersamaan, ada orang yang benar-benar membutuhkan uang dengan jumlah yang sama. Aku benar-benar yakin saat itu Allah sedang mengujiku.

Hari ini memang aku sengaja tidak membawa uang banyak, hanya belasan pound. Aku sengaja, karena jika aku membawa uang banyak aku pasti boros.

Hari ini aku ke pengajian di Ma’adi dan berbuka puasa di sana. Menu buka puasa yang paling enak yang pernah aku rasakan. Nasi kuning dengan beberapa potongan nugget dan kufta dengan rasa bakso ikan. Aku bertemu Mariam dan Salma di sana.

Kami pulang bersama dengan naik taksi, karena sangat jarang kita menemukan angkutan umum, dan kalaupun ada pasti sudah penuh duluan.

saat memasuki taxi, si sopir menyalakan musik keras-keras. Aku duduk di depan, Mariam dan Salma duduk di belakang. Dengan senyumnya Mariam membisikiku dari belakang, “Zain… Stupid Egyptian Song.” Aku tertawa mendengarnya.

Di tengah perjalanan Mariam bertanya kepada ada sopir, “apa ada kembaliannya kalau aku membayar dengan pecahan 50 Pound?” si sopir bilang tidak ada dan terpaksa Mariam turun di pom bensin untuk menukarkan uang.

Ini tidak bisa dibiarkan. Mau ditaruh dimana mukaku. Masa naik taxi dibayarin cewek. Tapi bagaimanapun aku hanya membawa uang belasan pound. Aku berharap harga taxinya tidak sampai sepuluh pound, dengan begitu aku bisa membayarnya.

Lagu yang di putar supir taxi berubah. Dari musik yang bising menjadi musik bayati. Musik kesukaan Mariam. Dan dia begitu antusias  dengan lagu itu dan bertanya kepada supir lagu siapakah itu. Dan akupun begitu antusias, melototin argo taxi tanpa henti berharap argometer itu berhenti dan tidak melebihi sepuluh pound.

Dan do’aku terkabul! Argo taxi Cuma mencapai 7,25 pound! Aku membayarnya 8 pound. “Zain! Kenapa membayar taxi itu? Aku tadi berencana membayarnya.” Aku hanya tersenyum tanpa kata.

“Kalau begitu giliranku yang membayar Metro untukmu.” Dan lagi-lagi aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi, aku yang membayar Metro itu. Lagian Metro murah banget Cuma 1 pound. Masa 1 pound saja minta dibayarin sama perempuan…

Dan itulah salah satu alasanku kehabisan uang. Uang yang tersisa hanyalah dua pound. Sejumlah uang yang sangat aku butuhkan untuk pulang. Dan sejumlah uang yang sangat dibutuhkan sesosok ibu yang memelas di hadapanku.

Zhie
»»  Baca Selengkapnya...

Khitbah



Rabu, 8 Agustus 2012

Saat membaca judul ini, mungkin sebagian orang akan berpikir aku sudah mengkhitbah atau melamar Mariam. Sebelum rasa kecewa menghinggapi diri pembaca, aku katakan bahwa tulisan ini bukan bercerita tentang hal itu.

Aku hanya ingin menumpahkan kekecewaanku kepada orang-orang terdekatku yang terkadang belum mengerti aku. Saat aku berbicara lewat telepon salah satu keluargaku berkata, “Bagaimana Mariam? Sudah ditembak?” seketika itu juga aku muak dan jijik mendengar kata-kata itu(maaf).

Hal itu pun terjadi sebelumnya, saat aku dekat dengan Kheloud tiba-tiba ada sms dari salah seorang keluargaku, “Kheloud sudah ditembak?” aku langsung melempar ponselku ke kasur dan aku hapus segera. Kata-kata itu sungguh membuatku jijik(maaf). Bagaimana mungkin prinsip keluargaku sudah seperti ini? Bukan prinsip islami yang kini menghiasi kami.

Mereka menghalalkan pacaran yang sudah jelas-jelas dilarang agama. Bukankah ayat al-qur’an dan hadits nabi melarang keras untuk berpacaran? Jika kedua hal itu saja mereka tinggalkan, kepada apa lagi mereka berpedoman menjalankan agama ini.

Aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat aku masih di Indonesia. Ibu berkata,” ini dari siapa, dari pacarmu ya din?” Astaghfirullah..!! ingin rasanya aku menegur orang yang membesarkanku itu, namun kenapa aku tak mampu?

Ibu seolah-olah menghalalkan pacaran dan begitu senang jika aku mempunyai pacar. Aku sedih. Bahkan ibu pun mempunyai pikiran seperti itu. Seolah perjuanganku untuk tidak pacaran tiada artinya.

Jika aku mau, aku sudah pacaran berkali-kali dan mantanku sudah tersebar dimana-mana. Sudah banyak perempuan yang PDKT denganku mulai mengirimi salam sampai secara terang-terangan mengatakan suka lewat sms dan surat. Namun aku tetap teguh menjaga prinsipku, aku tidak ingin pacaran sekalipun. aku tidak ingin melawan syariat Allah.

Aku akui sungguh berat untuk tidak pacaran. Saat melihat orang pacaran kita juga ingin merasakannya. Saat mengetahui perempuan-perempuan dihadapan kita secara terang-terangan menyatakan suka. Tinggal satu langkah lagi kita bisa pacaran namun aku menolak dengan alasan syariat. Rasa menyesal ini… pasti akan digantikan oleh Allah nantinya dengan keindahan.

Apa yang membuatku bertahan untuk tidak berpacaran sampai saat ini? Tentu saja karena istri masa depanku. Aku ingin orang yang menjadi kekasih pertamaku adalah istriku, aku ingin menyerahkan seluruh diriku hanya untuk istriku.

Aku tak ingin suatu hari nanti tiba-tiba aku mulai merindukan mantan, dan membanding-bandingkan  antara istri dan mantan-mantanku. Kalian tahu? Hal itu sungguh menyakitkan hati perempuan. Aku tak ingin melakukannya. Maka satu-satunya cara menghindari hal itu adalah TIDAK PACARAN. Jika kita tidak pernah pacaran bagaimana mungkin kita membanding-bandingkan istri kita dengan mantan-mantan kita?

*******

“Lha terus kalau belum ditembak statusnya belum jelas donk?” lagi-lagi pertanyaan membuat diriku muak.

Di dalam agama kita status itu ada tiga: Lajang, menikah, dan duda/janda. Tidak ada dalam kamus agama kita status berpacaran.

Jika mereka berpikir tanpa adanya status, orang yang kita kasihi akan lenyap atau lari ke pelukan orang lain, toh meski dengan pacaran tidak menutup kemungkinan pasangan kita akan lari ke pelukan orang lain bukan?

Perasaan cinta kepada Mariam ini, aku tak ingin menodainya. Aku tak ingin mengotorinya dengan pacaran, dengan sesuatu yang dilarang al-qur’an dan hadits. Aku ingin mensucikan rasa cinta ini. Aku ingin mencintainya dengan cara benar, dengan cara yang dihalalkan oleh Allah, yaitu dengan mengkhitbahnya dan menikahinya.

*******

Sekarang aku baru mengetahui bagaimana rasanya menjadi seorang lelaki yang ingin melamar perempuan. Selalu terbayang wajah “mengerikan” kedua orang tuanya. Dan selalu terbayang penolakan dari kedua orang tuanya. Hal ini yang membuat si lelaki selalu menunda berkunjung ke rumah orang tua si perempuan.

Dan beruntungnya Mariam memperkenalkan aku dengan keluarganya. Sehingga rasa takut menghadapi orang tua lenyap sudah. Aku tidak tahu secara mendetail bagaimana kronologi keluarganya sampai mau meluangkan waktunya untukku. Apa mungkin Mariam cerita panjang lebar tentang diriku kepada orang tuanya? Sehingga mereka penasaran dengan sosokku?

Untuk cuprit (jika membaca tulisan ini), mungkin S juga mengalami apa yang aku rasakan. Takut membayangkan sikap dan penolakan dari orang tuamu, padahal belum tentu kan orang tuamu seperti itu.

Mungkin kamu bisa memakai cara Mariam. Kamu cerita tentang S kepada orang tuamu. Sedikit banyaknya orang tuamu pasti penasaran dan ingin melihat sosok S.

ini salah satu cara untuk menanamkan kepercaya diri kepada S dan cukup membantu S menentukan langkah selanjutnya dengan segera. Kalau rasa nyaman sudah terjalin antara S dan keluargamu, dia akan semakin  mudah menentukan langkah. Insha Allah.

*******
Dan… saat satu keraguan musnah, timbul keraguan yang lain. Saat bayang wajah dan penolakan dari orang tua Mariam lenyap di benakku, timbul keraguan yang lain. Apakah orang tuanya rela melepas anaknya kepadaku?

Meski mereka begitu ramah kepadaku dan mereka menganggapku sebagai anak mereka, namun apakah mereka rela menjadikan aku sebagai suami Mariam? Orang seperti aku yang pengetahuan agamanya masih rendah, yang menghidupi diri sendiri saja masih sulit. Mereka pasti tidak tega melihat Mariam hidup dalam kemiskinan. Apalagi Mariam adalah seorang calon dokter gigi, tentu aku sebagai seorang suami harus mensupport dia, harus bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, harus menyekolahkan dia sampai jenjang yang paling tinggi.

Rasa percaya diriku sedikit memudar, namun aku tetap pasrah kepada Allah. Dia yang maha membolak-balikkan hati. Dia yang Maha Pemberi Rizky. Jika Mariam adalah perempuan yang terbaik menurutMu Ya Allah, jika dia perempuan yang membuatku dekat kepadaMu Ya Allah. Jadikanlah dia pasangan hidupku ya Allah… terangilah jalan pernikahan kami. Amiin.

Zhie
»»  Baca Selengkapnya...

Hati yang Tak Menentu


Senin, 16 Juli 2012

Ini mengenai kisah perjalananku dengan Mariam. Gadis Mesir yang membuat pandanganku teralih. Aku tenang saat melihat wajahnya, aku terhanyut menatap kesopanannya, aku terpesona memandang kedewasaannya.



Aku mengirim undangan “International Student Show” kepada teman-teman Mesirku pagi ini.  Sebuah acara pagelaran seni dari berbagai belahan dunia, persatuan pelajar Indonesia yang menyelenggarakannya. Sebenarnya aku terlambat menyebarkannya karena aku baru mengetahui berita itu beberapa jam yang lalu.

Seperti yang telah kuduga sebelumnya, tak ada respon, terlalu mendadak. Sebenarnya aku sudah bilang ke salah satu panitia untuk memberikan undangan kepadaku jauh-jauh hari, untuk bisa kusebar. Namun karena kesibukanku, aku tidak menyadari undangan itu telah tersebar. Hhh… cerobohnya aku.

Aku sempat putus asa tak ada teman Mesirku yang hadir, kecuali… Mariam.

Setelah dzuhur berkumandang. Aku menyempatkan waktu sejenak, dan aku melihat Mariam pun sedang online. Entah saat itu siapa yang mengawali pembicaraan. Yang aku ingat gadis yang kuliah di jurusan dokter gigi itu menyapaku dan bertanya kepadaku apakah aku akan ikut ISS (International Student Show)?

Tentu aku mengatakan iya. Dan aku balik bertanya. Gadis berkulit putih itu pun ingin pergi ke sana namun belum tahu lokasinya. Dan aku menawarkan untuk pergi bersama. Dia meminta izin ke orang tuanya terlebih dahulu, dan mereka mengizinkan. Alhamdulillah.

Dan setelah mengobrol beberapa menit, aku menarik kesimpulan, dia anak rumahan yang hanya tahu jalan ke rumah dan kuliah. Universitas al-Azhar pun belum pernah dia kunjungi dan pasar Husein, pusat souvenirs bagi turis dan penduduk sekitar pun jarang dia kunjungi, terakhir kali dia mengunjunginya saat dia masih kecil (seingatku). Padahal, aku mengunjungi pasar husein hampir setiap hari.

Dia ibarat katak dalam tempurung. Selalu terkurung di dalam rumah, tak bisa melihat keindahan negerinya sendiri. Mengingatkan diriku yang selalu terkurung di dalam rumah dan tak tahu apa-apa tentang kotaku sendiri. Aku yakin banyak tempat bagus di Kairo yang belum pernah dia kunjungi, dan aku berencana mengajaknya ke tempat-tempat itu suatu hari nanti..
Mariam: “Hey… siapa turis di sini?”
Perkataannya membuatku tertawa, aku memang pengunjung di sini, dan bukan penduduk asli. Namun  aku sedikit tahu lebih banyak tempat-tempat di Kairo daripada dia (mungkin).
Aku : “Haha saat ini aku pemilik Kairo dan kamu turisnya”
Mariam : “Oke, Tuan guide… tunjukkan aku tempat-tempat itu ^_^ ”

*******

Udara panas kembali menyengat, hari ini suhu udara mencapai 41 derajat celcius. Aku bergegas mencari tangga menuju masjid el-Fath usai turun dari Metro Shohada. Kami berjanji bertemu di sana. Sebelumnya aku mengiriminya SMS, memberitahukan kalau aku sedikit terlambat karena sampai jam 3 sore[1] belum mendapatkan bis, dan jalanan macet.

‘’ Zain… Zain… “

Aku sempat tak mendengarkan suara lirih itu, namun saat kedua kalinya suara itu memanggilku, aku menoleh ke belakang dan kutemukan sosok Mariam menunggu di belakangku.

Suaranya lebih tegas daripada Kheloud. Karena seringnya mendengar suara Kheloud, suara Mariam sedikit agak asing dan mulai membuatku canggung. Kita sudah lama tidak bertemu, dan kecanggungan mulai menguasai kami. Namun aku berusaha membuatnya mencair dan berhasil. Kini aku bisa membiasakan diri dengan Mariam.

Kami sempat tersesat, sekali lagi itu karena penyakit buta arahku yang belum juga hilang. Aku tak ingin mengecewakan Mariam, tak ingin juga menghabiskan energi Mariam, karena gadis berhidung mancung itu tengah berpuasa. Dia lebih relijius daripada yang aku kira.

Namun, rahmat Allah masih menaungi kami, mini bis melewati kami dan segera meluncur ke Sholah Kamil, tempat acara diselenggarakan. Sepanjang perjalanan Mariam selalu melihat jam. Perasaan was-was mulai menyelimutinya. “Zain… kita terlambat…” aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Dia belum tahu kalau orang Indonesia memiliki jam karet. Acara yang diselenggarakan pada jam 4 sore bisa molor beberapa jam.

*******

Kami memasuki ruangan. Lantunan indah lagu Maher Zain terdengar memenuhi ruangan. “Zain aku suka lagu Maher Zain.” Ungkap Mariam. “aku juga.” ungkapku.
“Namun aku lebih suka lagu Maher Zain yang memakai musik Bayati”. Aku terbengong. “Musik Bayati itu musik ketimuran. Saya kurang begitu suka dengan lagunya yang bermusik kebaratan.”

“Zain… kenapa begitu sepi?” sudah aku duga sebelumnya, acaranya pasti molor. Aku malu jika menjelaskan kalau itu sudah kebisaaan mahasiswa Indonesia di sini. Aku mencoba mengalihkan perhatian dan menjawab, “ ini baru di luar, masih ada lagi tempat di atas untuk pertunjukkan, seperti di geduang teater.”

Dan di dalam, terdapa beberapa stand yang menunjukkan beberapa ke-khas-an Negara. Mulai dari makanan, benda-benda, pakaian dan lain lain. Dan ada beberapa stand yang masih kosong dan belum terisi seperti Stand Thailand, Marocco, dan lain-lain. Dan aku menggunakan kesempatan itu untuk mengalihkan pembicaraan, agar Mariam tidak menyadari keburukan budaya kami dalam hal waktu. “Emmm… sebenarnya panitia “mungkin” ingin segera memulainya, namun beberapa utusan dari Negara lain belum datang, jadi kita menunggu mereka.”

“Ah… aku lega, aku kira aku akan terlambat. Ternyata belum dimulai. Ini lebih baik daripada terlambat.” Ungkap Mariam.

Gadis berhidung mancung itu berkeliling melihat stand demi stand. Bertanya hal-hal yang baru. Dia berkata belum pernah melihat orang-orang Afrika dan Asia sebanyak ini. Dia berfoto dengan mereka satu persatu. Dari stand demi stand pasti tidak ketinggalan foto Mariam dengan mereka. Aku hanya bisa tertawa. Mariam begitu imut dengan tingkahnya. Gaya berfotonya juga lucu. Terkadang seperti seorang model, terkadang seperti orang lugu dll. Kalau aku membandingkan dengan Kheloud, kebanyakan dia begaya Victory dan senyumnya mengambang lebar.





Dan aku baru tahu kenapa dia begitu bahagia berfoto dengan orang-orang Asia dan Afrika. Di universitasnya hanya ada orang Arab. orang Asia dan Afrika tidak ditemukan di sana. Dan Mariam begitu terkejut saat aku mengatakan kalau aku tinggal seatap dengan orang Rusia, Cina, Afrika, Bangladesh dll.

Beberapa teman Indonesiaku menyapa, namun aku hanya bertanya kabar dan tidak ingin berbicara lama, karena aku tak ingin membuat Mariam menunggu. Aku tak ingin melihat Mariam hanya terdiam melihat aku dan teman-teman Indonesiaku berbicara satu sama lainnya.

Dan respon yang sama sekali berbeda jika aku berjalan dengan Kheloud. Mariam berkata kepadaku,” Zain… kalau ingin berbicara dengan teman-temanmu, berbicaralah, tidak apa-apa.” Nampaknya dia tahu kalau aku meminimalisir bicaraku dengan teman-teman demi Mariam. Berbeda dengan Kheloud, dia pasti berkata, “ Zain… kamu kok gak gaul sama teman-temanmu sih?” Hhhh… Kheloud tidak mengerti aku, dia tidak tahu kalau aku berbuat demikian semata-mata untuknya, karena tak ingin membuatnya sendirian.” Terkadang aku kecewa karena dia tidak bisa mengerti diriku. 

*******

Adzan Maghrib mulai terdengar di telinga. Kami tunaikan kebutuhan kami, sholat berjamaah. Kemudian mulai memasuki gedung.

Kami harus kecewa karena tulisan di atas pintu. Ruangan bawah hanya untuk para undangan. Ruangan untuk non-undangan ada di atas. Aku sempat melihat wajah kecewa Mariam. “maafkan aku Mariam, kamu sudah menunggu lama sejak sore dan kita tidak bisa memasuki ruangan yang kita suka.” ungkapku dalam hati.

Kami berjalan menaiki tangga, dan kekecewaan Mariam lenyap seketika, “Hai Zain… tempat ini lebih bagus dan lebih nyaman untuk menonton. Kita bisa melihat jelas dari atas!” paras wajahnya begitu bahagia, aku lega dan bahagia mendengarnya. Terima kasih Ya Allah Engkau memberi kebahagian kepada Mariam.

Di sela-sela sambutan yang membosankan, dia berkata alangkah terkejutnya dengan imam perempuan di mushala tadi. Suaranya bergitu merdu dan seolah mudah sekali membacanya, tajwidnya begitu tepat.

Dia bertanya beberapa hal tentang pembelajaran Islam di Indonesia, tentang pembelajaran al-Qur’an yang ditanamkan sejak kecil. Dia sangat menyukai hal-hal yang berbau da’wah. Dia berkata akan masuk kuliah da’wah usai kelulusannya di kuliah kedokteran gigi.

Sejak sore tadi, dia bercerita berbagai macam hal kepadaku. Tentang keluarganya, tentang hal-hal yang disukainya. Aku pun senang mendengarnya. Hasil riset mengatakan, jika perempuan sudah berbicara panjang lebar mengenai dirinya kepada seorang lelaki, artinya dia sudah merasa nyaman berada di dekat lelaki itu.

*******

Acara sudah di mulai, kedua pembawa acara keluar dengan gaya kocaknya. Kata-kata Amiyah[2] yang diucapkan sungguh meledakkan tawa orang-orang hadir. Aku lihat di sampingku, Mariam juga sedang tertawa, namun aku sangaaat suka gaya tertawanya, mirip dengan diriku.

Saat aku tertawa aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak tertawa terbahak, aku tahan sebisa mungkin sehingga hanya membentuk senyum simpul. Aku ingin menjaga kesopananku dan itupun yang dilakukan Mariam saat ini. Aku sungguh sangat menyukai caranya menjaga kehormatannya. Sangat berbeda dengan Kheloud jika tertawa tidak ditahan sama sekali. Namun menurutku itu bagus, menunjukkan ekspresi aslinya, jujur dalam berekspresi. Masing-masing mempunya gaya dalam tertawa, namun di antara keduanya aku lebih suka dengan cara Mariam.

Berkali-kali aku memandang wajah Mariam yang duduk di sampingku. Ekspresi terkejut, takjub, tersenyum, tergambar indah menghiasi wajahnya yang putih. Dan seringkali mata kita bertatapan dan saling melempar senyum.

Kalau dipikirkan lebih jauh, Mariam penyabar dan lebih dewasa daripada Kheloud. Meskipun dari segi umur Kheloud lebih tua dua tahun daripada Mariam. Dari caranya berbicara yang tenang dan lembut terpancar kesabaran dan kedewasaan. Aku belum pernah sekalipun melihat Mariam marah. Kalau Kheloud, sudah beberapa kali aku melihat ekspresi marahnya.

Terkadang aku berpikir bagaimana nanti jika aku menikah dengan Kheloud? Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku tak ingin menikahinya. Sikapnya yang terkadang tempramen mungkin akan sedikit menyulitkanku nantinya.

Sensasi saat berjalan dengan mereka berdua pun berbeda. Saat aku berjalan dengan Kheloud, seolah banyak kecacatan yang muncul dari dalam dirinya, namun aku berusaha menutupinya dengan kesempurnaan. Aku belajar darinya bagaimana menutupi kekurangan orang lain.

Saat aku berjalan dengan Mariam, kesempurnaan yang selalu nampak. Caranya bersabar, caranya menjaga kehormatan dan kesopanan, dan yang paling penting, dia memahamiku. Tak henti-hentinya diri ini bersyukur kepada Allah saat berada di dekatnya. Aku belajar banyak darinya.

*******

Acara selesai pukul sebelas malam, sebenarnya ada tiga Negara lagi yang belum menampilkan budayanya; Turki, Filipina dan Indonesia. Namun karena sudah terlalu larut terpaksa tidak ditampilkan.

Aku menawari Maria untuk makan, karena hari ini dia puasa dan belum ada secuil makanan pun yang mengisi perutnya, dia hanya minum air dan jus Guava[3] hari ini. Dia berkata tidak lapar, namun kalau ada makanan Indonesia dia ingin mencoba.

Kami turun ke bawah untuk mencari masakan Indonesia, namun kami kurang beruntung hari ini. Semua makanan sudah habis.

*******

Kami berjalan di bawah naungan malam. “Cuaca malam hari tidak begitu panas ya Zain… juga tidak dingin.” Aku mengiyakan perkataan Mariam, malam ini tidak bagitu panas, namun juga tidak begitu dingin. Tidak ada angin malam yang berhembus.

Dari pinggir jalan, teman-teman berteriak dari dalam Tramco (mini bus) , “Jay..! mau pulang ke bu’uts tidak? Bareng!”
“Tidak bro..! ane mau mengantar ‘dia’ dulu!” teriakku.

“Zain… itu temanmu kan? Pulang saja bersama mereka.”
“sudah aku bilang kan… aku akan mengantarmu pulang?”
“Oh.. Zain. Kamu tidak usah mengantarku, aku bisa pulang sendiri.”
“eh… kamu daerah sini saja tidak tahu, bagaimana kamu akan pulang?”
“aku bisa tanya Zain…”
Saat kami beradu argumen, mobil yang ditumpangi teman-teman sudah berjalan meninggalkan kami.
“Zain… mobilnya sudah berangkat. Kamu membuatku mencaci diriku sendiri, kamu ditinggal teman-temanmu.”
“aku lebih akan mencaci diriku sendiri jika membuat seorang perempuan pulang sendirian di tengah malam.”

Akhirnya Mariam luluh dan aku mengantarnya pulang. Namun aku tak mengantarnya sampai di depan rumahnya. Kami berpisah di Shohada. Mariam memaksa aku, dia tak ingin lebih merepotkan aku.  Minimal dia sudah sampai di Metro, karena setelah ini perjalanan akan lebih mudah.

Selama perjalanan di dalam mini bus, dia berbicara dan bertanya panjang lebar. Aku sempat melihat senyumnya sekilas yang diiringi gerakan tangan. Gerakan tak sadar yang dilakukan perempuan saat menemukan seseorang yang membuatnya nyaman.

*******

Pagi pukul enam aku kembali online. Dan kulihat Mariam sedang online juga.
“Salam Zain… bagaimana tidurmu? Nyenyak kah?”
“tentu saja. Bagaimana denganmu?”
“aku belum tidur. Belum bisa tidur.”
“sejak tadi malam, sudahkah kamu makan, Mariam?”
“belum, bagaimana denganmu?”
“aku belum makan juga, karena kebanyakan minum, jadinya tidak lapar. Kemarin kamu pulang jam berapa?”
“12:40 . Ayah marah.”
“kasihan kamu, Maryam. *Wajah Menangis*”
“Namun tidak begitu marah. Zain… aku ingin bertemu kamu segera saat Ramadhan. Kita sahur bersama.”
“sahur bersama? Berarti usai tarawih kita berjalan sampai pagi?”
“Haha kamu ke rumahku, aku sudah bilang kepada ibu”
Hhhh… sekali lagi perbedaan Mariam dan Kheloud. Aku tak pernah di ajak masuk ke rumahnya dan bahkan aku belum pernah berkenalan dengan kedua orang tuanya. Berbeda dengan Mariam. Aku sungguh nyaman bersamanya.

“aku sedikit malu, Mariam”
“tidak apa-apa, Zain.”
“aku ke sana jam berapa? menjelang subuh?”
“bisa juga. Atau kamu datang ke rumah kami Maghrib. Nanti kita tarawih bersama ke tempat yang aku katakan.”
Saat perjalanan pulang menaiki mini bus malam itu, dia berkata kepadaku kalau sangat suka Ramadhan. Terutama karena suasana tarawihnya. Ada masjid favoritnya, yang diimami imam kesukaannya. Memang sholatnya lama karena membaca satu juz tiap harinya, namun dia sangat suka sholat di sana.
“oke, aku akan kesana. Mungkin saat pertengahan Ramadhan.”
“oke, karena awal Ramadhan kami akan ke rumah nenek. Aku akan memberitahumu jika kami sudah datang.”
“aku pamit dulu ya Mariam. Semoga Allah menjaga kesehatanmu. Salam”
“terima kasih. Doakan untuk si kasihan Mariam ini ya Zain. Aku juga ingin istirahat. Salam.”



Zhie



Kamu tahu kawan… aku menulis tulisan ini dengan perasaan yang masih bergejolak di dada. Sudah beberapa hari ini, sejak pertemuan terakhirku dengan Mariam. Perasaan ini belum pudar. Perasaan yang belum pernah kurasakan saat aku bersama Kheloud. Saat bersama dengan Kheloud… mungkin tidak ada rasa sebesar dan sekuat ini, dan akan hilang sehari setelah pertemuan terakhir dengannya. Namun saat dengan Mariam berbeda.

Saat itu, aku hanya bisa berdo’a jika Allah sengaja membuat perasaan ini condong ke Mariam, ikatlah kami dengan ikatan suciMu Ya Allah. Aku tak ingin memendam dosa karena terlalu sering memikirkannya.


[1] Acara dimulai jam 4 sore dan kita berjanji untuk bertemu pada jam 3 sore di Metro Shohada.
[2] Bahasa Mesir
[3] Jambu
»»  Baca Selengkapnya...

Air Mata Penyesalan


Senin, 9 Juli 2012

Hari ini mungkinkah dia sedang menangis Ya Allah…? Sejak tiga hari lalu(6 Juli) dia mengirimi sebuah pesan. “Zein… aku akan menunjukkan proyek akhirku hari Senin kepada dosen… sebelumnya… aku ingin bertemu kamu dan ingin menunjukkan hasil karyaku…”

Satu hari setelahnya(7 Juli), aku baru menyadari jika ada E-mail dari Kheloud. Aku membalas segera, meminta maaf dan berkata aku akan ke Sakia el-Sawy untuk menghadiri undangan. Namun tak ada balasan… tak ada sosok Kheloud di tempat itu… mungkinkah dia kecewa kepadaku?

Aku menyesal membuatnya kecewa. Sikap Kheloud mengingatkan aku kepada drama Taiyou no Uta. Akulah orang pertama yang ingin diperlihatkan oleh Kheloud karya-karyanya. Dia ingin menunjukkan kepadaku sebelum dilihat oleh dosen. Namun dengan angkuhnya aku tak bisa memenuhi harapannya.

Hari ini proyek Kheloud dikumpulkan. Dari lubuk hatiku yang paling dalam ingin aku melihatnya sebelum dilihat oleh orang lain, namun aku harus berkata apa? Aku telah mengecewakannya.

*******

Pagi sampai sore aku terus berada di Japan Foundation. Pertama kalinya aku mempunyai partner dalam menggambar. Dia mengajariku beberapa hal dalam menyempurnakan teknik menggambarku. Aku juga berkenalan dengan seorang pemuda Jepang yang baru masuk islam satu minggu yang lalu (2 Juli). Aku senang dengan mereka. Aku bahagia bersama mereka.

Namun… tetap ada lubang di hatiku yang membuat kegembiraanku tak sempurna. Kesedihan Kheloud, kekecewaan Kheloud…

Saat ini, sedihkah dia karena tak bisa menemuiku? Tak bisa memperlihatkan karyanya dan tidak bisa mendengarkan pujianku. Aku tahu sangat sulit dan letih bekerja siang-malam membuatnya. Dia butuh seseorang, butuh seuntai kata manis yang bisa mengembalikan kekuatan dan semangatnya…

Namun… aku tidak ada di sana… aku tidak ada di saat dia membutuhkanku. Sepanjang hari aku terselimuti perasaan sesal, terkekang oleh rasa haru. Bertanya-tanya kepada benakku sendiri, “apa kamu tengah menangis karenaku… Kheloud?”

Zhie
»»  Baca Selengkapnya...

abcs