Sebutir Cahaya di Ruang Ujian


Ahad, 12 Mei 2013


"Permisi, tahukah dimana tempat ujian takhalluf?" seorang pria berkulit hitam berkaos putih bertanya. saat itu aku tengah duduk di bawah tangga, bergumul dengan buku diktat kuliahku. aku memberhentikan bacaanku dan menggelengkan kepala pada pemuda itu.

di sinlah aku bersama pelajar lainnya. melaksanakan ujian. yang kami hadapi saat ini bukan ujian formal. namun ujian ulang mata kuliah yang bernilai di bawah standar. tahun kemarin aku tertinggal dua mata kuliah. hampir saja. kalau aku tertinggal tiga mata kuliah, aku harus mengulang di tahun yang sama.

entah apa yang terjadi waktu itu kenapa sampai nilaiku serendah itu. sakitkah? sehingga tak mampu belajar dengan baik. ataukah karena aku terlalu melalaikan waktuku?

di mata kuliah itu, dosenku  hanya memberi kelululusan pada 15% mahasiswanya. keren dan serem bukan? dan akulah salah satu korbannya. dan hanya empat orang mahasiswa Indonesia yang lolos. orang Mesirpun banyak yang tak lulus di mata kuliah itu.

dan di sinilah untuk pertama kalinya berada di tempat ujian takhalluf. sebelumnya aku tak pernah merasakan hal seperti ini. duduk bersama orang-orang yang sama-sama mengalami kegagalan. jika di ujian formal, ruang antara pelajar Mesir dan pelajar asing dipisah. namun kali ini, aku duduk di antara para pelajar Mesir.

dan aku mendapat pengalaman baru saat duduk bersama orang Mesir. saat aku khusyuk mengerjakan ujianku, aku sempat melirik lembar jawaban pelajar yang duduk di samping kiriku. bukan untuk menyontek lho, aku anti dengan menyontek. sejak TK sampai ke bangku kuliah, sekali pun aku tak pernah menyontek. orang tuaku menanamkan paham anti-menyontek itu sejak kecil, sehingga terbawa sampai sekarang.

aku melirik dari jauh lembar jawaban pemuda di sampingku. aku ingin tahu sudah berapa lembar dia mengerjakan soal. karena hal itu bisa memberi motivasi padaku. jika aku merasa tertinggal jauh, otakku akan berpikir semakin cepat untuk tak mau ketinggalan. dan aku terkaget, pemuda itu baru menulis beberapa baris, sementara aku hampir menyelesaikan essay satu halaman besar. aku melirik pelajar Mesir di depanku ternyata lebih parah dari orang di sebelahku. lembar jawabannya diloncati satu baris dengan tulisan besar berjarak renggang. memberi kesan tidak niat menulis dan ingin lembar jawabannya terlihat penuh.

awalnya aku kira, orang Mesir lebih bagus dalam mengerjakan ujian. karena bahasa Arab adalah bahasa mereka sehari-hari. namun ternyata tidak. justru pelajar asing lah yang lebih bagus.

aku kira, para pemuda Mesir begitu baik dalam hal Nahwu Sharaf (ilmu tata bahasa dalam bahasa Arab). namun ternyata tidak. terkadang pertanyataan-pernyataan mudah (tingkat anak SMP di Indo) mereka tak tahu dan bertanya pada dosen. membaca kitab gundul pun mereka masih belepotan (aku juga sih sebenarnya, Ahahaha). para pelajar Mesir malah sering bertanya Nahwu-Sharaf kepada kita.

dan aku kira tulisan orang Mesir begitu bagus karena sudah terbiasa menulis bahasa Arab. ternyata tidak. tulisan mereka seperti cakar ayam. para dosen terkejut melihat tulisan sederhana kami. "Wah! tulisannya bagus sekali? seperti tulisan keyboard komputer!" kami tersenyum.


*******


seorang pemuda berwajah ke-Arab-an masuk. ada seseorang memeganginya. aku terheran. dia selalu memendang ke atas. dia selalu tersenyum.

awalnya dia duduk di belakangku, namun tanpa kau sadari dia sudah duduk di depanku di kursi khusus ditemani seorang pemuda. saat pertama kali, aku tak begitu mempedulikannya, karena perhatianku terfokus pada lembar ujianku. namun di saat terakhir, saat lembar jawabanku hampir semua terisi, aku menyadari bahwa pemuda itu buta. pemuda yang duduk di sampingnya membacakan soal. dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian ditulis oleh si pembaca soal.

pemuda itu memiliki keinginan yang begitu kuat. ingin tetap menghadiri ujian walau dengan keadaan itu. selalu memandang gelap tiap harinya. dan selalu merindukan cahaya. namun tak pernah mengutuk keadaan. dan selalu tersenyum.

»»  Baca Selengkapnya...

Kesetiaan yang Rapuh



Senin, 8 Maret 2013

                Seorang teman datang mengunjungi asrama kami. Wajahnya kini lebih ceria dari biasanya. Tak ada beban berat tergambar di sana. Istrinya telah pulang di Indonesia. Aku dengar istrinya hamil 3 bulan, aku dengar juga karena si istri ingin kuliah di Indonesia, karena di Mesir dia tidak bisa kuliah.
                Saat itu ada tiga orang di kamar. Dengan ringannya dia berbicara kepadaku, “Zai, carikan aku seorang gadis Mesir yang mau dengan orang Indonesia sepertiku.”
                Aku langsung naik pitam,”Terus mau dikemanain istrimu!!!”
                “Itu kan istri pertama, yang Mesir mau aku jadikan istri kedua.”
                Gila, orang seperti dia kenapa harus ada di Mesir! Aku sudah tidak nyaman saat mengetahui seringai serigalanya. Meski dia teman sedaerahku, meski dia teman yang berangkat satu pesawat denganku, aku tak suka dengan sifatnya.
                Aku tahu wajahnya tampan, aku tahu gaya bicaranya begitu pelan dan bijak. Aku tahu orangnya lumayan cerdas. Orang-orang akan jatuh hati saat pertama kali mengobrol dengannya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada seringai serigala yang patut dihindari.
                Aku mengetahui sejak di Indonesia kalau dia sudah menikah. Namun, saat pertama kali tiba di Mesir, dia mendekati dan merayu tiap perempuan yang terlihat cantik di matanya. Matanya berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat kecantikan mereka. Matanya membundar.
                Aku mengatakan kepada teman-teman bahwa dia sudah menikah. Dan dia marah kepadaku sesampainya di rumah. Ya, saat itu kami masih tinggal seatap, “Zai, kenapa kamu bilang ke semua orang aku sudah menikah!!!”
                Ente gak nyadar apa sudah memiliki istri?! Lihat perbuatanmu, seenaknya merayu gadis. Apa ente gak kasihan sama istrimu yang menanti di Indonesia? Dia mempercayai kesetiaanmu!!” dan saat itu juga persahabatan kami merenggang.
                Beberapa bulan setelah kejadian itu, istrinya datang ke Mesir. Entah karena alasan apa. Namun, ada kabar gelagatnya tercium oleh istrinya dan mulai meragukan kesetiaannya. Dan aku lihat wajah temanku hampir tak pernah ceria, seolah ada beban berat menggantung di wajahnya. Aku berprasangka bahwa kini dia sudah dewasa. Menanggung beban rumah tangga memang berat. Namun, saat dia datang kepadaku meminta dikenalin seorang gadis Mesir, ternyata aku terlalu berprasangka baik kepadanya. Ternyata kehadiran istrinya mengekang kebebasannya untuk mendekati perempuan lain. Saat istrinya tinggal kembali di Indonesia, wajahnya kembali ceria, kebebasannya kembali dia dapatkan.
                Wajah indahnya tak mencerminkan hatinya. Dan aku baru menyadarinya, dalam kepanitiaaan dia juga mendekati para gadis Singapore. Pantas, beberapa waktu lalu dia menyebut-nyebut Singapore. Aku baru sadar.
                Aku berdo’a semoga tidak ada perempuan yang jatuh ke tanganmu lagi, sobat. Ini demi kebaikanmu. Juga kebaikan istrimu. Tidakkah kau sadar dia sedang mengandung anakmu kini?
                Untuk para pembaca, jangan langsung terhanyut dengan seorang lulusan al-Azhar. Tidak semuanya memiliki perangai yang baik. Terkadang mereka menggunakan title al-Azhar untuk mendekati perempuan, menggunakan title itu untuk mendapat segala yang dia inginkan. Gelar itu sungguh ujian dari Allah.
»»  Baca Selengkapnya...

Suara Merpati



Selasa, 9 Maret 2013

                Setiap dedaunan yang jatuh memiliki alasan, tiap tetes air hujan yang jatuh pun memiliki alasan, tiap mimpi yang tergambar dan terbangunnya kita di pagi yang buta pun memiliki alasan.
                Pagi ini aku terbangun sebelum subuh, yang sebelumnya aku memimpikan Hadeel (baca:Hadil). Aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi, padahal sebelumnya aku tak memikirkannya, kenapa wajahnya harus muncul dibenakku?
                Pernah sesekali memikirkan wajahnya, namun seolah aku dihimpit rasa dosa, dan sanubariku memaksa untuk beristighfar. Seolah Allah berbicara, “Mariam lebih layak untukmu, Aku memilihkan Mariam untukmu.” Dan saat itu juga, aku tak pernah memikirkan Hadeel.
                Namun, saat aku benar-benar melupakannya, kenapa dia muncul di mimpiku? Bahkan tiga hari yang lalu dia juga hadir dalam mimpiku. Kenapa harus dua kali dalam seminggu ini? Dua kali muncul di mimpi, apakah suatu kebetulan?
                Mimpi adalah rahasia ilahi, dan mimpi yang tergambar memiliki alasan. Dan kini, aku terbangun sebelum subuh karena mimpi itu. Padahal beberapa hari ini aku terbangun saat adzan subuh berkumandang, dan melewatkan tahajjud.
                Saat kita terbangun sebelum fajar, berarti Allah memilih kita untuk berdua dengannya saat itu juga, namun kenapa harus terbangun karena mimpi itu? Aku masih menunggu alasan yang ingin Allah tunjukkan kepadaku.
                Aku duduk di atas sajadah, dan kulihat di jendela masih menggambarkan kelamnya awan. Ku lihat sekitar, dua orang temanku masih terbaring di dalam selimut. Aku berdo’a dan seketika teringat pembicaraanku dengan Hadeel.
“Zain, kamu tahu arti namaku?”
Aku menggeleng
“Kamu tahu burung merpati? Aku suaranya.”
»»  Baca Selengkapnya...

Mesra dalam Sunyi


Aku lupa kapan kejadian itu terjadi. Dan entah saat itu sore hari atau malam hari yang sedang menyelimuti pembicaraan kami. Yang pasti obrolan itu terjadi saat musim dingin. Saat itu, aku tinggal di lantai dua, kamar temanku. Karena terlalu jenuh aku mendiami kamar lantai empat. Ingin mengganti suasana.

Aku terduduk di depan laptopku. Laptop aku letakkan di atas kardus mini, karena tak ada meja banyak meja di kamar itu. Dan aku duduk di atas lantai beralaskan kasur kapuk. Kamar ini tak jauh beda dengan kamarku. Berbentuk kubus dan tidak terlalu lebar. Di samping kanan pintu ada lemari yang terbuat dari tembok. Sepertinya temboknya sengaja dilubangi untuk membuat tembok. Di samping kiri ada lemari es, warisan dari generasi sebelumnya. Makanya tak heran jika lemarinya sudah bobrok.

“Jack, sudah lama kamu tidak pergi ke luar. Memang nggak bertemu Mariam lagi?”

Aku hanya menyunggingkan senyum. Iya, saat itu mungkin sudah tiga minggu aku tak bertemu dengannya. Pernah hampir dua bulan aku tak bertemu dengannya. Aku berpikir, dia masih belum halal bagiku, kenapa aku harus sering-sering bertemu dengannya?

Cinta itu tak bertahan lama tanpa kesunyian. Cinta membutuhkan istirahat. Hewan dan manusia pun butuh istirahat untuk bertahan. Tanpa istirahat, seorang anak tak akan bisa mempelajari kehidupan, seorang seniman tak akan bisa mencipta karya, suatu pekerjaan tak akan bisa tumbuh dan berkembang.

Kesunyian bukan karena tidak adanya cinta di dalam hati. Bukan juga karena hilangnya cinta. Namun sebagai pelengkap. Keheningan memberi kita kesempatan untuk berbicara kepada sanubari kita, apa yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan ini. Jika kita tidak pernah sendiri, kita tak akan mengetahui diri kita. Dan jika kita tidak mengetahui diri kita, kita akan mulai takut pada kesendirian.

»»  Baca Selengkapnya...

Dering Pembawa Kehangatan


Selasa, 2 April 2013


Pagi ini aku terbangun agak siang dan tertinggal tuk shalat di masjid. Sebenarnya alarm ponsel temanku sudah berdering saat adzan subuh berkumandang. Namun di dalam hatiku berkata, “Ah, baru adzan. Tidur lima menit lagi.” Dan ini lah hasilnya. Aku harus merugi karena tak melaksanakan ibadahku di masjid. Namun beruntungnya fajar belum meninggalkanku. Aku bergegas keluar kamar dan berwudlu.

Aku memasuki kamar usai membasahi diri dengan air wudlu. Kamarku kecil. Memasuki pintu di samping kanan ada lemari berjejer tiga. Lemarinya terbuat dari tembok, bukan kayu. Di samping kanan ada rak kayu buatan  kita sendiri. Dua tahun lalu kita membeli  bahan kayu dan membuatnya ala kadarnya. Jadilah rak bertingkat lima memanjang. Rak paling atas aku tempati buku berbahasa inggris dan buku berbahasa indonesia. Rak kedua aku penuhi dengan majalah. Mulai majalah berbahasa arab sampai berbahasa inggris. Mulai majalah remaja, politik sampai majalah hijab fashion. Haha aku sengaja beli majalah hijab fashion untuk menunjukkan model berjilbab orang timur tengah kepada mbak, sepupu dan bibiku di Indonesia nanti. Rak ketiga berisikan buku diktat kuliah. Rak keempat buku berbahasa arab. Rak keempat berisi makalah, koran dan arsip-arsip yang pernah ku anggap penting.

Aku gelar sajadah berwarna hijau dan kulaksanakan shalat dengan takzim. Kupanjatkan do’a pelan di dalam sanubari. Lantas berdiri mengambil buku di dalam rak ke tiga di samping kananku. Aku mengambil pensil di dalam tasku, tasku tergelatak di atas kursi samping rak.

Aku mulai duduk di atas lantai dan meletakkan buku diktatku di atas meja kayu bulat berwarna coklat. Aku membuka laptopku yang sedari dulu mendekam di atas meja ini. Aku buka satu dua lembar kemudian tanpa terasa ada suara ponsel berbunyi. Suaranya khas, itu suara ringtone ponselku! Aku mencari tahu asal suara itu, ternyata ponselku tergeletak di belakang laptop. Kulihat kaca ponsel yang pecah separuh itu, tak ada nama yang muncul. Kemungkinan ini nomor baru. Mungkinkah dari keluarga Indonesia. Karena setiap keluarga dari Indonesia menelpon selalu muncul nomor baru.

Aku membuka ponsel itu tanpa ragu, terdengar suara lelaki Mesir bernada tinggi. “Assalamu’alaikum Zain”

Jantungku tiba-tiba berdegup keras dan bertanya di dalam hati, “siapa ini? Kenapa tahu namaku?”
“Ini Abdul Halim.”

Pikiranku mencoba mencari seperti Abdul Halim ini. Karena aku mempunya beberapa teman bernama yang sama. Kemudian, melihat kualitas suara dari si penelpon, rasa cemas itu berubah. Ini Baba!
Kemudian bapak itu melanjutkan, “Ini Papanya Mariam.”

Benar dugaanku, aku langsung bertanya kabar. Namun dipikiranku masih bertanya, ada apa gerangan menelponku sepagi ini. Aku melihat jam di laptop, masih setengah enam pagi.

Ternyata Baba hanya menanyakan kabarku. Setelah mendengar jawabanku, terdengar suara lirih, “Ambil telepon ini, Mariam.”

Kemudian besar Baba berganti suara Mariam yang sangat lembut. “Bagaimana kabarmu, Zain?” aku membayangkan wajah Mariam sedang tersenyum malu-malu di balik telepon itu. “Saya hanya ingin tahu kabarmu.” Ah, hatiku langsung menghangat.

Pagi ini begitu indah, mendapat telepon dari Mariam dan keluarganya. Mungkin ini pertama kalinya mereka menelpon sepagi ini setelah beberapa bulan yang lalu. Mungkin mereka sedang mengujiku apakah aku terbangun di pagi buta, atau masih terlelap di atas kasurnya. Memastikan cocokkah aku menjadi keluarganya.

Aku beruntung ponselku tidak aku silent. Karena aku terbiasa mensilent ponsleku di kuliah dan lupa mengembalikannya pada setting normal. Beruntung juga aku masih terbangun dan melaksanakan sholat subuh sebelum matahari terbit. Semuanya berjalan mulus, seperti sudah disetting oleh Allah. Terima kasih Ya Allah.


»»  Baca Selengkapnya...

SuaraMu


              
  
                Awalnya aku sama sekali tak tertarik dengan lagu ini. Namun saat menyaksikan seorang gadis Mesir menyanyi lagu ini dengan berlinang air mata, aku tertegun. Teman-temanku pun ikut terpukau dengan suara itu. Suara yang keluar dari dalam hatinya.

                Aku pun mencari lirik lagu itu, dan tertegun saat melihat maknanya.
Ketika aku berbalik pada sudut itu . . .
Aku melebur ke dalam kerumunan orang . . .
Dan meleleh kepada kekosongan . . .
Aku kehilangan diriku . . .
Dan tak menemukan kata untuk diucapkan . . .
Namun satu hal yang masih membekas . . .
suaraMu[1] . . .

                aku teringat masa laluku, saat tak ada Allah di hatiku. Aku terlena dengan lingkungan di sekitarku. Terlena dengan orang-orang. Aku kehilangan arah. Tak tahu lagi apa yang seharusnya aku lakukan. Mungkin karena kekecewaanku tak bisa langsung kuliah usai lulus SMA. Kehidupanku hanya ada di dalam rumah dan warung internet. Dua tempat itu yang menjadi tujuanku. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk melegakan hatiku.

                Suara itu selalu muncul di hatiku. Memenuhi kepalaku dan selalu membisikiku kalau perbuatanku ini menghabiskan umurku. Itulah suara Allah, atau yang kita sebut hati nurani. Saat kita berbohong hati kita pasti berontak dan mengatakan, “Berbohong itu salah”. Saat kita menyakiti orang lain hati itu kembali bersuara, “Ini salah”. Saat kita melakukan hal yang tidak ada gunanya di kehidupan kita, suara itu kembali muncul, “Kamu harus keluar dari kebiasaan ini, ini hanya membuang umurmu.”
               
                Suara itu selalu mendengung di kepala dan hatiku saat itu. Aku selalu berontak dan melupakan Allah. Ibadah sehari-hariku hanya formalitas bagiku. Aku tak menghadirkan Allah di dalam hatiku saat itu. Aku jauh dari cahaya. Namun Allah selalu mendekatiku, melalui suara yang Dia bisikkan dari dalam hatiku.

                Berkali-kali aku berontak, namun tetap tidak membawa ketenangan dalam hatiku. Sampai akhirnya aku menyerah dan mengikuti suara itu. Lantas aku bertanya kepada nuraniku, “setelah aku mengikutimu, apa yang seharusnya aku lakukan? Aku masih kehilangan arah. Tak ada jalan pasti yang aku tapaki.

Jika kamu kehilangan jalanmu . . .
Saya akan membimbingmu . . .
Yang harus kamu lakukan, percaya pada dirimu . . .
Jangan takut . . .

Jalan yang kamu tapaki . . .
Akan semakin bersinar[2] . . .

                Dan kesempatan itu datang, kabar ujian ke Mesir terdengar di telinga keluarga kami. Aku ragu dan bertanya kepada diriku, apakah aku masih mampu? Sudah setahun aku tak memegang kembali buku-bukuku. Pelajaranku banyak yang terlupa. Namun aku percaya kepada Allah. Dan Dia membisikiku tuk percaya kepada diriku.

                Dan disinilah aku sekarang . . . setapak yang Allah tunjukkan. SuaraNya selalu membimbingku. Jalan yang semula remang, kini mulai jelas sedikit demi sedikit.

                Dan aku yakin setiap orang mengalami hal ini bukan? Saat hati kita menggelap karena dosa dan kesalahan, suara itu kembali mengingatkan. Tak peduli seberapa jauh kita menjauh dariNya, dengan senang hati Dia mendekat dan terus mendekat kepada kita. Dia menginginkan yang terbaik untuk kita.


[1] Aluto – ‘Michi’ to You All (Soundtrack of Naroto Shippunden)
[2] ibid
»»  Baca Selengkapnya...

Japan Festival 2013


Jum’at, 15 Maret 2013



                Tak terasa seminggu sudah acara ‘Japan Cultural Show’. Aku baru menyadari saat teman berbicara, “Tahun depan aku akan membuat cosplay lebih baik dari Jum’at lalu.” Jum’at lalu? Ah, aku masih merasa acara itu terjadi kemarin. Kesannya masih terasa.

                Beberapa teman Indonesiaku yang hadir bertanya-tanya. Memang orang Mesir ada yang suka kartun Jepang? Mereka lantas terkagum-kagum melihat acara tersebut. Melihat fanatiknya mereka dengan Anime dan Manga. Juga melihat banyaknya orang Mesir yang lancar berbahasa Jepang.

                Awalnya hal itu juga yang terjadi padaku. Setahuku di Mesir yaa linkungan al-Azhar. Lingkungan mereka ya tak jauh dari masjid dan tempat talaqqi[1]. Atau kalau tidak, lingkungan mereka tak jauh dari budaya Amerika dan Perancis.

                Namun setelah diperhatikan lebih dalam. Ternyata ada juga yang suka Jepang. Bahkan banyak pemuda Mesir yang menikah dengan perempuan Jepang di sini.

                Jum’at, 8 Maret 2013 lalu, banyak yang terjadi. Kita berempat mewakili Indonesia untuk menyanyi lagu Jepang. Banyak yang mendaftar namun tim kita yang terpilih dan menjadi salah satu dari 10 finalis.

                beberapa teman-temanku banyak yang ingin ikut. Mereka meminjam peralatan musik dari tempat lain, melakukan beberapa latihan. Namun mereka tidak diterima. Sedangkan kami yang cuma iseng-iseng diterima dan masuk 10 finalis.

                Memang benar apa yang dikatakan suami Asma Nadia dalam bukunya No Excuse!. Terkadang mereka yang berhasil itu mereka yang niatnya iseng-iseng. Karena di dalam hati mereka tak memikirkan kegagalan. Sedangkan mereka yang niat sungguh-sungguh diselimuti rasa takut pada kegagalan. Nah, ketakutan itu yang menyebabkan gagal.

                Karena jika pikiran kita memikirkan kegagalan, secara tidak langsung akan menarik kegagalan itu muncul di dalam kehidupan kita. (lagi-lagi aku ngambil teori The Law of Attraction :p)

                Kami merasa bangga, karena kami satu-satunya orang Indonesia yang tampil di event itu. Meski kami tidak menjadi juara utama. Dan wajah kita muncul di Koran Mesir dan Jepang!

                Dan pemandangan yang tak kutemukan muncul di sana. Beberapa cosplayer yang memakai jilbab. Aku belum menemukan cosplay seperti ini di Indonesia maupun di negara lain. Terlihat oleh mata ini Hyuuga Hinata, Haruno Sakura dan Uchiha Itachi berjilbab.





*******

                Acara terakhir ditutup dengan konser solo Hironobu Kageyama. Awalnya aku tak begitu tertarik mendengarkan atau berfoto dengannya. Karena aku tak mengenalnya sama sekali. Namun saat mendengarkan sekilas. Telingaku menangkap beberapa lagu kenangan masa kecilku. Lagu Dragon Ball Z, One Piece, Maskman, Jetman. Perhatianku langsung teralih. Memori masa kecilku mulai bermunculan. Tiba-tiba . . .

                (Terusin, gak yaa . . . lagi males nulis nie . . . wkwkwkw )


Link Koran Online Mesir :
http://www1.youm7.com/News.asp?NewsID=975333&SecID=89

Link Koran Online Jepang :
http://www.47news.jp/CN/201303/CN2013030901001138.html?fb_action_ids=10151521609655767&fb_action_types=og.likes&fb_source=aggregation&fb_aggregation_id=246965925417366#fb-root



[1] Belajar face to face dengan syaikh di masjid atau tempat khusus.
»»  Baca Selengkapnya...

abcs