Sebuah Nama



Tiga bulan lalu, kita pertama kali bertemu, tepatnya saat cosplay event. Kemudian kita berteman di internet. Namun tak saling sapa. Dan beberapa hari lalu aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.

Dan tak disangka orangnya asyik diajak bicara. Selalu membalas dengan deretan kata yang panjang. Kita sama-sama tak kenal nama, hanya kenal wajah. Dan mulailah kita saling tukar nama. Saat dia menyebutkan namanya Alaa, ada perasaan aneh yang menghinggapiku.

Sebelum keanehanku membuncah. Dia dengan sigap berkata, “Aku sangat bersyukur jika kamu tidak memanggilku nama itu, karena aku benci nama itu.” Dan perasaan aneh itu terjawab sudah.

 Seorang gadis yang terlahir dengan nama lelaki. Sempat aku berpikir dan canggung, “Alaa kan nama lelaki di Mesir, kenapa perempuan ini bernama Alaa?” aku mengerti alasan ketidaksukaannya pada nama itu. Tentu sejak kecil banyak teman yang mengejek. Menyakiti hatinya. Menyayat sanubarinya.

Di kehidupan nyataku, hal itu terjadi. Mulai TK sampai SMA selalu ada hal seperti ini. aku melihat teman perempuan menangis karena menyandang nama lelaki. Bertubi-tubi disakiti teman sebayanya. Begitu juga sebaliknya. Hal serupa terjadi pada teman lelakiku yang menyandang nama perempuan.

Saat itu aku tak bisa berbuat banyak. Aku tak bisa menjadi seseorang sok pahlawan yang ingin menghapus air mata itu. Terkadang membiarkan seseorang sendiri itu hal yang bijak. Aku hanya memandangnya di balik dinding. Mendengarkan isak tangisnya. Saat bibir tak bisa lagi mengeluarkan kata, dengan air matalah kata itu berbicara.

Gadis berbola mata biru itu melanjutkan berbicara,“Lebih buruknya lagi, saat aku membayar kuliah, membayar biaya internet, dan membayar beberapa biaya di masing-masing tempat, yang tertulis di sana adalah ‘Tuan Alaa’.”

“Dan lagi, saat aku melamar pekerjaan, pihak perusahaan menelponku, mendengar suaraku pihak perusahaan berkata,” Apakah Anda istrinya?”
“Tidak, saya belum menikah kok.”
“Kami mencari tuan Alaa yang mengirim surat lamaran.”
“Bukan tuan tapi nyonya. Bukankah tertulis di surat lamaran itu kalau saya seorang perempuan?
“Oh, maaf. Kami kira Anda seseorang lelaki.”
Dan mulai saat itulah, aku sangat membenci nama ini.

Aku sangat mengerti perasaannya, karena melihat sebagian temanku di Indonesia mengalami hal serupa. Aku merasakan sedihnya memiliki nama itu. Mungkin saat itu para orang tua tak berpikir hal ini sangat berdampak besar pada anak mereka.

Dan Seandainya lingkungan lebih mengerti perasaan. Air mata gadis pirang itu mungkin tak akan menetes. Di balik sosok cantik, selalu ada rasa sakit yang tersimpan. Dan kini, aku memanggilnya Juvia. Aku ingin membantunya melupakan nama Alaa yang dibencinya.

Note : Kok aku tahu kalau dia berambut pirang, padahal dia berjilbab? Hayoo . . . eits.. jangan salah paham yaa. Aku melihat foto masa kecilnya. Sosok gadis mungil dengan mata biru dan rambut pirang. Memang keindahan rambut pirangnya tertutupi oleh jilbab, namun dengan itu wajahnya kian bercahaya.


»»  Baca Selengkapnya...

Semut Merah




"Din, tulisanmu masuk di Semut Merah ya? Selamat!"

aku terhenyak melihat sebuah pesan dari temanku itu. "Beneran? memang ada pengumumannya?"

"Ada, coba lihat di websitenya."

seharian ku cari di websitenya, namun tak juga kutemukan pengumuman itu. websitenya tak terurus. menurut berita sih, pemegang akunnya mahasiswa Indonesia di India. di sana jarinan internetnya tak bagus. terlalu sulit untuk online.

esoknya aku telpon temanku, meminta kejelasan. tak lama, dia mengirim daftar final para penulis. dan lagi-lagi aku terhenyak. di Mesir, hanya tulisanku yang diterima. penulis lain, adalah mahasiswa Indonesia di Rusia, Australia, Jepang, Taiwan, Amerika, Perancis, Yaman, Belanda, Pakistan, Sudan, India, Turki dan lain-lain.

aku gemetar melihat namaku tercantum di daftar penulis itu. aku tak bisa menahan perasaanku dan bersujud saat itu juga. sujud syukurku kepadaNya.


*******


sebelumnya aku tak tahu menahu mengenai proyek ini. PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia ingin membuat proyek untuk membangun dan mengharumkan tanah air. membuat buku motivasi. para penulisnya para pelajar yang tersebar di berbagai belahan dunia. yang nantinya buku itu akan diterbitkan dalam tiga bahasa; bahasa Indonesia, Inggris, dan Cina.

berawal dari perilaku "aneh" teman sekamarku. dia duduk di depan komputer membuat sebuah cerita. tanpa mengatakan sepatah kata pun kepadaku. dia adalah ketua Ikatan Jurnalis di Mesir. pangkatnya sudah setinggi langit. namun, jarang aku lihat tulisan-tulisannya.

dia memberitahu informasi proyek Semut Merah ini kepada teman lain, namun kenapa tidak kepadaku, teman sekamarnya?

sejak lama aku mencium rasa irinya kepadaku. aku yang orang biasa sudah membuat buku sendiri di Mesir, namun dia yang ketua Ikatan Jurnalis belum membuat buku. mungkin ada bukunya, namun buku 'keroyokan'.

pernah kekeluargaan Jawa Timur membuat proyek buku, namun dia tak memberitahuku tentang info itu. tahu-tahu, buku itu sudah jadi. sakit hati ini rasanya. padahal dia aktivis kekeluargaan Jawa Timur, dia juga teman kamarku. namun, kenapa tidak memberitahuku?

dan hal ini terulang kembali di proyek buku Semut Merah ini. dia tak mengucapkan sepatah-kata pun. seolah dia ingin menjadikanku sebagai rivalnya. tak ingin tulisanku di muat di buku itu.

mungkin juga karena dia malu karena belum memiliki karya. ingin tulisannya dimuat dan dijadikan buku yang dicetak di Indonesia. beban ketua Ikatan Jurnalis sungguh amat berat.

aku baru mengetahui berita itu saat mendekati deadline. berita dari teman lain tanpa unsur kesengajaan. seolah semuanya diatur oleh Allah dengan begitu indahnya.

aku melihat daftar penulis yang masuk. di antaranya para penulis Jurnal dan pimpinan redaksi buletin nasional (di Mesir) yang sering mengkritik tulisanku. aku minder mendengar nama mereka. bisakah tulisanku menembus mereka? aku hanya bisa memasrahkan diri kepadaNya.


*******


Rabu, 8 Mei 2013 buku kami dilaunchingkan di Auditoruin RRI Jakarta. hanya satu tulisan mahasiswa Indonesia di Mesir yang diterima, tulisanku. dan sedihnya aku tak bisa menghadiri acara launching itu. aku masih ada di Mesir, bersiap menghadapi ujian.

dan akhir Juni 2013 esok, kita berancana memecahkan rekor Muri, buku dengan launching terbanyak di Indonesia, bahkan di dunia. semoga berjalan lancar.

»»  Baca Selengkapnya...

Sebutir Cahaya di Ruang Ujian


Ahad, 12 Mei 2013


"Permisi, tahukah dimana tempat ujian takhalluf?" seorang pria berkulit hitam berkaos putih bertanya. saat itu aku tengah duduk di bawah tangga, bergumul dengan buku diktat kuliahku. aku memberhentikan bacaanku dan menggelengkan kepala pada pemuda itu.

di sinlah aku bersama pelajar lainnya. melaksanakan ujian. yang kami hadapi saat ini bukan ujian formal. namun ujian ulang mata kuliah yang bernilai di bawah standar. tahun kemarin aku tertinggal dua mata kuliah. hampir saja. kalau aku tertinggal tiga mata kuliah, aku harus mengulang di tahun yang sama.

entah apa yang terjadi waktu itu kenapa sampai nilaiku serendah itu. sakitkah? sehingga tak mampu belajar dengan baik. ataukah karena aku terlalu melalaikan waktuku?

di mata kuliah itu, dosenku  hanya memberi kelululusan pada 15% mahasiswanya. keren dan serem bukan? dan akulah salah satu korbannya. dan hanya empat orang mahasiswa Indonesia yang lolos. orang Mesirpun banyak yang tak lulus di mata kuliah itu.

dan di sinilah untuk pertama kalinya berada di tempat ujian takhalluf. sebelumnya aku tak pernah merasakan hal seperti ini. duduk bersama orang-orang yang sama-sama mengalami kegagalan. jika di ujian formal, ruang antara pelajar Mesir dan pelajar asing dipisah. namun kali ini, aku duduk di antara para pelajar Mesir.

dan aku mendapat pengalaman baru saat duduk bersama orang Mesir. saat aku khusyuk mengerjakan ujianku, aku sempat melirik lembar jawaban pelajar yang duduk di samping kiriku. bukan untuk menyontek lho, aku anti dengan menyontek. sejak TK sampai ke bangku kuliah, sekali pun aku tak pernah menyontek. orang tuaku menanamkan paham anti-menyontek itu sejak kecil, sehingga terbawa sampai sekarang.

aku melirik dari jauh lembar jawaban pemuda di sampingku. aku ingin tahu sudah berapa lembar dia mengerjakan soal. karena hal itu bisa memberi motivasi padaku. jika aku merasa tertinggal jauh, otakku akan berpikir semakin cepat untuk tak mau ketinggalan. dan aku terkaget, pemuda itu baru menulis beberapa baris, sementara aku hampir menyelesaikan essay satu halaman besar. aku melirik pelajar Mesir di depanku ternyata lebih parah dari orang di sebelahku. lembar jawabannya diloncati satu baris dengan tulisan besar berjarak renggang. memberi kesan tidak niat menulis dan ingin lembar jawabannya terlihat penuh.

awalnya aku kira, orang Mesir lebih bagus dalam mengerjakan ujian. karena bahasa Arab adalah bahasa mereka sehari-hari. namun ternyata tidak. justru pelajar asing lah yang lebih bagus.

aku kira, para pemuda Mesir begitu baik dalam hal Nahwu Sharaf (ilmu tata bahasa dalam bahasa Arab). namun ternyata tidak. terkadang pertanyataan-pernyataan mudah (tingkat anak SMP di Indo) mereka tak tahu dan bertanya pada dosen. membaca kitab gundul pun mereka masih belepotan (aku juga sih sebenarnya, Ahahaha). para pelajar Mesir malah sering bertanya Nahwu-Sharaf kepada kita.

dan aku kira tulisan orang Mesir begitu bagus karena sudah terbiasa menulis bahasa Arab. ternyata tidak. tulisan mereka seperti cakar ayam. para dosen terkejut melihat tulisan sederhana kami. "Wah! tulisannya bagus sekali? seperti tulisan keyboard komputer!" kami tersenyum.


*******


seorang pemuda berwajah ke-Arab-an masuk. ada seseorang memeganginya. aku terheran. dia selalu memendang ke atas. dia selalu tersenyum.

awalnya dia duduk di belakangku, namun tanpa kau sadari dia sudah duduk di depanku di kursi khusus ditemani seorang pemuda. saat pertama kali, aku tak begitu mempedulikannya, karena perhatianku terfokus pada lembar ujianku. namun di saat terakhir, saat lembar jawabanku hampir semua terisi, aku menyadari bahwa pemuda itu buta. pemuda yang duduk di sampingnya membacakan soal. dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian ditulis oleh si pembaca soal.

pemuda itu memiliki keinginan yang begitu kuat. ingin tetap menghadiri ujian walau dengan keadaan itu. selalu memandang gelap tiap harinya. dan selalu merindukan cahaya. namun tak pernah mengutuk keadaan. dan selalu tersenyum.

»»  Baca Selengkapnya...

Kesetiaan yang Rapuh



Senin, 8 Maret 2013

                Seorang teman datang mengunjungi asrama kami. Wajahnya kini lebih ceria dari biasanya. Tak ada beban berat tergambar di sana. Istrinya telah pulang di Indonesia. Aku dengar istrinya hamil 3 bulan, aku dengar juga karena si istri ingin kuliah di Indonesia, karena di Mesir dia tidak bisa kuliah.
                Saat itu ada tiga orang di kamar. Dengan ringannya dia berbicara kepadaku, “Zai, carikan aku seorang gadis Mesir yang mau dengan orang Indonesia sepertiku.”
                Aku langsung naik pitam,”Terus mau dikemanain istrimu!!!”
                “Itu kan istri pertama, yang Mesir mau aku jadikan istri kedua.”
                Gila, orang seperti dia kenapa harus ada di Mesir! Aku sudah tidak nyaman saat mengetahui seringai serigalanya. Meski dia teman sedaerahku, meski dia teman yang berangkat satu pesawat denganku, aku tak suka dengan sifatnya.
                Aku tahu wajahnya tampan, aku tahu gaya bicaranya begitu pelan dan bijak. Aku tahu orangnya lumayan cerdas. Orang-orang akan jatuh hati saat pertama kali mengobrol dengannya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada seringai serigala yang patut dihindari.
                Aku mengetahui sejak di Indonesia kalau dia sudah menikah. Namun, saat pertama kali tiba di Mesir, dia mendekati dan merayu tiap perempuan yang terlihat cantik di matanya. Matanya berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat kecantikan mereka. Matanya membundar.
                Aku mengatakan kepada teman-teman bahwa dia sudah menikah. Dan dia marah kepadaku sesampainya di rumah. Ya, saat itu kami masih tinggal seatap, “Zai, kenapa kamu bilang ke semua orang aku sudah menikah!!!”
                Ente gak nyadar apa sudah memiliki istri?! Lihat perbuatanmu, seenaknya merayu gadis. Apa ente gak kasihan sama istrimu yang menanti di Indonesia? Dia mempercayai kesetiaanmu!!” dan saat itu juga persahabatan kami merenggang.
                Beberapa bulan setelah kejadian itu, istrinya datang ke Mesir. Entah karena alasan apa. Namun, ada kabar gelagatnya tercium oleh istrinya dan mulai meragukan kesetiaannya. Dan aku lihat wajah temanku hampir tak pernah ceria, seolah ada beban berat menggantung di wajahnya. Aku berprasangka bahwa kini dia sudah dewasa. Menanggung beban rumah tangga memang berat. Namun, saat dia datang kepadaku meminta dikenalin seorang gadis Mesir, ternyata aku terlalu berprasangka baik kepadanya. Ternyata kehadiran istrinya mengekang kebebasannya untuk mendekati perempuan lain. Saat istrinya tinggal kembali di Indonesia, wajahnya kembali ceria, kebebasannya kembali dia dapatkan.
                Wajah indahnya tak mencerminkan hatinya. Dan aku baru menyadarinya, dalam kepanitiaaan dia juga mendekati para gadis Singapore. Pantas, beberapa waktu lalu dia menyebut-nyebut Singapore. Aku baru sadar.
                Aku berdo’a semoga tidak ada perempuan yang jatuh ke tanganmu lagi, sobat. Ini demi kebaikanmu. Juga kebaikan istrimu. Tidakkah kau sadar dia sedang mengandung anakmu kini?
                Untuk para pembaca, jangan langsung terhanyut dengan seorang lulusan al-Azhar. Tidak semuanya memiliki perangai yang baik. Terkadang mereka menggunakan title al-Azhar untuk mendekati perempuan, menggunakan title itu untuk mendapat segala yang dia inginkan. Gelar itu sungguh ujian dari Allah.
»»  Baca Selengkapnya...

Suara Merpati



Selasa, 9 Maret 2013

                Setiap dedaunan yang jatuh memiliki alasan, tiap tetes air hujan yang jatuh pun memiliki alasan, tiap mimpi yang tergambar dan terbangunnya kita di pagi yang buta pun memiliki alasan.
                Pagi ini aku terbangun sebelum subuh, yang sebelumnya aku memimpikan Hadeel (baca:Hadil). Aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi, padahal sebelumnya aku tak memikirkannya, kenapa wajahnya harus muncul dibenakku?
                Pernah sesekali memikirkan wajahnya, namun seolah aku dihimpit rasa dosa, dan sanubariku memaksa untuk beristighfar. Seolah Allah berbicara, “Mariam lebih layak untukmu, Aku memilihkan Mariam untukmu.” Dan saat itu juga, aku tak pernah memikirkan Hadeel.
                Namun, saat aku benar-benar melupakannya, kenapa dia muncul di mimpiku? Bahkan tiga hari yang lalu dia juga hadir dalam mimpiku. Kenapa harus dua kali dalam seminggu ini? Dua kali muncul di mimpi, apakah suatu kebetulan?
                Mimpi adalah rahasia ilahi, dan mimpi yang tergambar memiliki alasan. Dan kini, aku terbangun sebelum subuh karena mimpi itu. Padahal beberapa hari ini aku terbangun saat adzan subuh berkumandang, dan melewatkan tahajjud.
                Saat kita terbangun sebelum fajar, berarti Allah memilih kita untuk berdua dengannya saat itu juga, namun kenapa harus terbangun karena mimpi itu? Aku masih menunggu alasan yang ingin Allah tunjukkan kepadaku.
                Aku duduk di atas sajadah, dan kulihat di jendela masih menggambarkan kelamnya awan. Ku lihat sekitar, dua orang temanku masih terbaring di dalam selimut. Aku berdo’a dan seketika teringat pembicaraanku dengan Hadeel.
“Zain, kamu tahu arti namaku?”
Aku menggeleng
“Kamu tahu burung merpati? Aku suaranya.”
»»  Baca Selengkapnya...

Mesra dalam Sunyi


Aku lupa kapan kejadian itu terjadi. Dan entah saat itu sore hari atau malam hari yang sedang menyelimuti pembicaraan kami. Yang pasti obrolan itu terjadi saat musim dingin. Saat itu, aku tinggal di lantai dua, kamar temanku. Karena terlalu jenuh aku mendiami kamar lantai empat. Ingin mengganti suasana.

Aku terduduk di depan laptopku. Laptop aku letakkan di atas kardus mini, karena tak ada meja banyak meja di kamar itu. Dan aku duduk di atas lantai beralaskan kasur kapuk. Kamar ini tak jauh beda dengan kamarku. Berbentuk kubus dan tidak terlalu lebar. Di samping kanan pintu ada lemari yang terbuat dari tembok. Sepertinya temboknya sengaja dilubangi untuk membuat tembok. Di samping kiri ada lemari es, warisan dari generasi sebelumnya. Makanya tak heran jika lemarinya sudah bobrok.

“Jack, sudah lama kamu tidak pergi ke luar. Memang nggak bertemu Mariam lagi?”

Aku hanya menyunggingkan senyum. Iya, saat itu mungkin sudah tiga minggu aku tak bertemu dengannya. Pernah hampir dua bulan aku tak bertemu dengannya. Aku berpikir, dia masih belum halal bagiku, kenapa aku harus sering-sering bertemu dengannya?

Cinta itu tak bertahan lama tanpa kesunyian. Cinta membutuhkan istirahat. Hewan dan manusia pun butuh istirahat untuk bertahan. Tanpa istirahat, seorang anak tak akan bisa mempelajari kehidupan, seorang seniman tak akan bisa mencipta karya, suatu pekerjaan tak akan bisa tumbuh dan berkembang.

Kesunyian bukan karena tidak adanya cinta di dalam hati. Bukan juga karena hilangnya cinta. Namun sebagai pelengkap. Keheningan memberi kita kesempatan untuk berbicara kepada sanubari kita, apa yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan ini. Jika kita tidak pernah sendiri, kita tak akan mengetahui diri kita. Dan jika kita tidak mengetahui diri kita, kita akan mulai takut pada kesendirian.

»»  Baca Selengkapnya...

Dering Pembawa Kehangatan


Selasa, 2 April 2013


Pagi ini aku terbangun agak siang dan tertinggal tuk shalat di masjid. Sebenarnya alarm ponsel temanku sudah berdering saat adzan subuh berkumandang. Namun di dalam hatiku berkata, “Ah, baru adzan. Tidur lima menit lagi.” Dan ini lah hasilnya. Aku harus merugi karena tak melaksanakan ibadahku di masjid. Namun beruntungnya fajar belum meninggalkanku. Aku bergegas keluar kamar dan berwudlu.

Aku memasuki kamar usai membasahi diri dengan air wudlu. Kamarku kecil. Memasuki pintu di samping kanan ada lemari berjejer tiga. Lemarinya terbuat dari tembok, bukan kayu. Di samping kanan ada rak kayu buatan  kita sendiri. Dua tahun lalu kita membeli  bahan kayu dan membuatnya ala kadarnya. Jadilah rak bertingkat lima memanjang. Rak paling atas aku tempati buku berbahasa inggris dan buku berbahasa indonesia. Rak kedua aku penuhi dengan majalah. Mulai majalah berbahasa arab sampai berbahasa inggris. Mulai majalah remaja, politik sampai majalah hijab fashion. Haha aku sengaja beli majalah hijab fashion untuk menunjukkan model berjilbab orang timur tengah kepada mbak, sepupu dan bibiku di Indonesia nanti. Rak ketiga berisikan buku diktat kuliah. Rak keempat buku berbahasa arab. Rak keempat berisi makalah, koran dan arsip-arsip yang pernah ku anggap penting.

Aku gelar sajadah berwarna hijau dan kulaksanakan shalat dengan takzim. Kupanjatkan do’a pelan di dalam sanubari. Lantas berdiri mengambil buku di dalam rak ke tiga di samping kananku. Aku mengambil pensil di dalam tasku, tasku tergelatak di atas kursi samping rak.

Aku mulai duduk di atas lantai dan meletakkan buku diktatku di atas meja kayu bulat berwarna coklat. Aku membuka laptopku yang sedari dulu mendekam di atas meja ini. Aku buka satu dua lembar kemudian tanpa terasa ada suara ponsel berbunyi. Suaranya khas, itu suara ringtone ponselku! Aku mencari tahu asal suara itu, ternyata ponselku tergeletak di belakang laptop. Kulihat kaca ponsel yang pecah separuh itu, tak ada nama yang muncul. Kemungkinan ini nomor baru. Mungkinkah dari keluarga Indonesia. Karena setiap keluarga dari Indonesia menelpon selalu muncul nomor baru.

Aku membuka ponsel itu tanpa ragu, terdengar suara lelaki Mesir bernada tinggi. “Assalamu’alaikum Zain”

Jantungku tiba-tiba berdegup keras dan bertanya di dalam hati, “siapa ini? Kenapa tahu namaku?”
“Ini Abdul Halim.”

Pikiranku mencoba mencari seperti Abdul Halim ini. Karena aku mempunya beberapa teman bernama yang sama. Kemudian, melihat kualitas suara dari si penelpon, rasa cemas itu berubah. Ini Baba!
Kemudian bapak itu melanjutkan, “Ini Papanya Mariam.”

Benar dugaanku, aku langsung bertanya kabar. Namun dipikiranku masih bertanya, ada apa gerangan menelponku sepagi ini. Aku melihat jam di laptop, masih setengah enam pagi.

Ternyata Baba hanya menanyakan kabarku. Setelah mendengar jawabanku, terdengar suara lirih, “Ambil telepon ini, Mariam.”

Kemudian besar Baba berganti suara Mariam yang sangat lembut. “Bagaimana kabarmu, Zain?” aku membayangkan wajah Mariam sedang tersenyum malu-malu di balik telepon itu. “Saya hanya ingin tahu kabarmu.” Ah, hatiku langsung menghangat.

Pagi ini begitu indah, mendapat telepon dari Mariam dan keluarganya. Mungkin ini pertama kalinya mereka menelpon sepagi ini setelah beberapa bulan yang lalu. Mungkin mereka sedang mengujiku apakah aku terbangun di pagi buta, atau masih terlelap di atas kasurnya. Memastikan cocokkah aku menjadi keluarganya.

Aku beruntung ponselku tidak aku silent. Karena aku terbiasa mensilent ponsleku di kuliah dan lupa mengembalikannya pada setting normal. Beruntung juga aku masih terbangun dan melaksanakan sholat subuh sebelum matahari terbit. Semuanya berjalan mulus, seperti sudah disetting oleh Allah. Terima kasih Ya Allah.


»»  Baca Selengkapnya...

abcs