Qais

“Zain, kami ingin bertemu kamu sebelum Umrah.” dadaku sesak, aku hampir tak bisa mengendalikan nafasku saat membacanya. Aku ingin, ingin sekali melihat mereka. Namun, aku tidak siap. Karena keberangkatan Umrahku belum jelas. Kedutaan Saudi tak kunjung memberikan visa. Ya Allah kenapa malah lebih sulit melaksanakan ibadah Umrah dan Haji dari Mesir.

Sejak beberapa tahun yang lalu, tidak ada lagi mahasiswa Indonesia (yang di Mesir) melaksanakan ibadah haji. Entah alasan pastinya apa. Dikatakan, pemerintah Saudi melarang kita berangkat haji dari sini. Harus dari Indonesia langsung. Maka alternatif lain, banyak mahasiswa yang beralih melaksanakan ibadah Umrah. Dan itu pun masih menjadi kendala. Sejak tahun kemarin, banyak jama’ah Umrah yang  tak berangkat. Padahal mereka sudah membayar dan melengkapi berkas.

Dan kejadian ini terjadi padaku. Tahun ini. Kita rencana berangkat 5 hari atau 7 hari setelah Ramadhan. Namun, sampai sekarang Visa tak kunjung turun. Jika ini cobaan darimu Ya Allah, hamba berusaha untuk menerima. Karena pasti ada hikmah hebat di balik semua ini.

Melihat pesan Mariam, aku kelu untuk menjawabnya. Aku ceritakan permasalahanku. Dan aku mengatakan aku sedang mengurusi masalah Visa dan tidak bisa bertemu dengannya. Padahal itu bukan alasan sebenarnya. Aku tak tahu harus berbicara apa saat berada di depan mereka. Allah aku ingin bertemu mereka Ya Allah. Aku berbohong kepada diriku sendiri. Batinku tersiksa tidak bisa bertemu mereka.

Di hari menjelang Ramadhan, aku memutuskan Tarawih di masjid Al-Azhar, aku berjalan sendirian. Lunglai. Seperti boneka yang tak berjiwa. Yang ada dipikiranku hanyalah Mariam dan keluarga. Kenapa saat Ramadhan rasa cintaku pada mereka kian membesar? Perasaan ini begitu menyiksaku. Aku ingin bertemu mereka untuk mengobati kehampaanku, namun akulah yang memilih untuk menjaga jarak dari mereka. Kenapa denganku?

Dan aku tersadar cintaku kepada mereka begitu besar. Terkadang aku tak lagi merasakan cinta di dadaku. Namun, perasaan itu kembali muncul saat Ramadhan. Begitu terang dan menyilaukan. Membutakan pandanganku sesaat dan membuatku lunglai.

Aku benci menjadi lelaki sok keren yang seolah bisa mengatasi semua hal sendiri. Namun, pada akhirnya jauh di dalam hatiku, aku membutuhkan mereka. Allah dan Mariam. Allah yang memberikan jalan, Mariam yang selalu hadir menguatkanku, saat aku mulai tersungkur.

Aku begitu tenang berada di sampingnya. Seolah, jika ada banyak masalah di benakku yang menyebabkanku tak bisa tidur. Hanya berada di sampingnya aku bisa tidur dengan nyenyak. Perilakunya, tutur katanya, kejernihan hatinya dan apapun sisi yang dutunjukkan Mariam, dia selalu bisa menenangkanku.


Aku masih saja berjalan lemah. Dengan tatapan hampa. Berusaha menemukan Oase tuk mengisi rasa sepiku. Rasa rindu yang begitu besar menggelapkan pandanganku. Kini aku mengerti, kenapa Qais menjadi gila karena merindu Layla.
»»  Baca Selengkapnya...

Usaha

Masih tentang cerita si Anar.

Dia berkata kepadaku, “Kamu sering WorkOut di Gym kan? Saya sering melihatmu.”

Ahahaha, aku terkaget. Padahal kita baru kenal, namun dia mengetahui kalau aku sering pergi ke Gym. Dan hal yang serupa terjadi sebelumnya. Saat di luar asrama, saya bertemu guru Tanzaniaku.

“Hey Zain, Bagaimana kabarmu?”

“Saya tahu kamu sering olah raga di Gym kan?”

Aku terkaget, bagaimana dia tahu. Bagaimana berita ini menyebar. Gak tanggung-tanggung, yang tahu orang-orang non-Indonesia.

Aku melihat sisi lain mahasiswa Al-Azhar di dalam Gym ini, terutama saat ujian. Meski berolah raga, tangan mereka tak lepas dari buku agama atau helaian kertas rangkuman pelajaran.

mereka mengangkat beban, dan istarahat beberapa menit dengan membaca buku agama. Mereka bisa menyeimbangkan antara fisik dan jiwa.

“Muslim yang kuat lebih dicintai Allah daripada muslim yang lemah.” Yup, begitulah sabda Rosul.

Sungguh berbeda dengan kebanyakan ulama di Indonesia. Mereka selalu beribadah tanpa memberikan hak kesehatan bagi tubuhnya. Jarang dan hampir tak pernah berolah raga.

Di akhir, tubuh mereka begitu lemah. Tidak bisa berdakwah dengan maksimal karena tubuhnya saki-sakitan dan mudah capek.

Memang sangat bagus, jika kita terlena dengan kedekatan Allah sampai lupa hal-hal keduaniawian. Tapi, bukankah Tubuh yang kita miliki saat ini juga titipanNya. Bukankan menjadi kewajiban kita merawat “barang titipan” itu yang nantinya akan dikembalikan kepadaNya.

Yup, terkadang hal yang tak terduga terjadi. Seperti munculnya penyakit kronis meski kita sudah berusaha merawat tubuh. Namun, Allah menghargai setiap usaha yang kita kerjakan.

Setiap usaha akan selalu dihargai, yang kita butuhkan adalah percaya.
»»  Baca Selengkapnya...

Kesah Pemuda Berparas Rusia

"Bisakah Kamu menolongku, Orang Indonesia?"

Ucap sesosok pemuda berparas Rusia yang tengah duduk di taman. aku mendekatinya dengan tetap menyeruput susu kotak yang aku genggam.

“Selama saya bisa, Insya Allah.”

Setelah Ramadhan, saya akan terbang ke Malaysia. Melamar kekasihku di Malaysia. Setiap hari kami chatting. Bisakah Kamu datang ke kamarku sekali atau dua kali seminggu untuk membantuku chatting dengannya? Untuk mengecek bahasa Malaysiaku.”

Aku tak tahu aku mempunyai waktu atau tidak. Namun, membantu orang Russia ini untuk melengkapi separuh agamanya sungguh tawaran yang menarik.

Dia melanjutkan, “Biasanya dia online setiap Ashar waktu Kairo, apakah Anda mempunyai waktu? Setiap Ashar kalian memasak yaa?”

Yep, benar sekali. Kami mempunyai jadwal memasak setiap harinya. Dan terkadang tidak setiap hari aku tinggal di asrama. Aku terkadang punya acara di luar.

Aku berkata lirih, “Bagaimana kalau saat dia online, Kamu telepon aku dulu. Memastikan kesenjangan waktuku? “

“Kalau saat itu tidak ada kegiatan, saya akan ke kamarmu.”

Anar namanya. Dia berumur 35 tahun dan kuliah di Al-Azhar. Dia agak terlambat memasuki bangku kuliah. Dia memasuki Al-Azhar di umurnya yang ketiga-puluh.

Bukan pemandangan aneh di sini. Bapak-bapak bahkan kakek-kakek pun masih kuliah S1 di Al-Azhar. Saat itu aku terkaget. Ada seorang yang mungkin seumuran kakekku masih belajar di bangku S1. Kulitnya keriput, badannya ringkih dan giginya sudah ompong. SubhanAllah di usia sesenja itu, semangat belajarnya masih tinggi.

Dan di tahun awal, aku juga menemukan kakek Rusia yang tinggal seatap denganku. Rambutnya memutih dan kulitnya mengkeriput.

Sempat, aku berpikir aku yang paling tua di angkatanku. Dan ternyata Allah Maha Pelipur Lara. Selalu memberikan aku kesempatan kepadaku untuk bersyukur.


*******

Anar bertemu dengan kekasihnya, Naddiya di dunia maya, sebuah situs perjodohan antar muslim. Naddiya tidak bisa berbicara bahasa Arab. Beruntungnya Anar mampu sedikit berbicara bahasa Melayu.

Pemuda Rusia itu sempat cemas, jika tinggal di Malaysia pekerjaan apa yang bisa mencukupi kebutuhannya dan keluarga. Jika Naddiya di bawa ke Azarbeijan (tampangnya memang berparas Rusia namun negara asalnya di Azarbeijan), belum tentu juga dia mendapat pekerjaan yang layak. Karena menurut berita yang aku dapat, kebanyakan penduduk Azarbeijan adalah Syi’ah. Jika tahu kalau ada penduduknya yang kuliah di Al-Azhar, dia pasti dikucilkan.

Saat chatting dengan Naddiya, dia berusaha menguatkan Anar, “Apa Kamu tidak yakin bisa hidup di Malaysia? Insya Allah Kamu bisa!”

Ahaha hebat sekali perempuan ini. Menguatkan pasangannya. Aku turut berbahagia. Dan berdo’a mereka akan langgeng. Jiwa petualang seorang lelaki akan berkobar jika berhadapan dengan perbedaan yang dia temui dalam pernikahan.

Saat mulai bosan, mereka akan selalu menemukan kelebihan yang ada di dalam istrinya, dari sudut manapun. Sebagaimana perkataan Paulo Coelho, perbedaan membuat cinta tetap ada.

Tiba-tiba aku teringat senior Indonesiaku di Asrama. Secara mendadak tanpa ada berita sebelumnya dia menikahi gadis Perancis keturunan Turki. Acara pernikahan dilangsungkan di Mesir. Mereka bertemu di facebook, saling tertarik dan memutuskan untuk menikah.

Dan mereka sudah memili anak sekarang. Kami melihat foto-fotonya saat di Perancis. Ah, mengelilingi dunia bersama si pelengkap separuh agama sungguh menentramkan.
»»  Baca Selengkapnya...

Pink


Sebulan sudah aku cuma mengisi blogku dengan satu tulisan. Ada banyak cerita yang hadir di kepalaku, namun aku tak sempat menumpahkannya melalui tulisan. Pandanganku teralih.

                Sebulan sudah aku saling berbalas pesan dengan Juvia. Bukan hanya pesan singkat, namun pesan panjang dua sampai tiga halaman Microsoft word. Begitu banyak hal yang kami ceritakan. Karena keakraban itu, dia mengganggapku seperti saudara. Dan aku memulai mempercayainya. Menceritakan berbagai hal yang tak kuceritakan kepada orang lain. Dan begitupun sebaliknya.

               Dibalik sosok indah itu, ternyata banyak menyimpan luka. Bola mata birunya menarik perhatian begitu banyak lelaki. Rata-rata bola mata orang Mesir berwarna hitam atau kecoklatan. Orang Mesir berbola mata biru sangat langka hari ini. 

Dia begitu tersiksa, karena orang-orang hanya melihat tampilan fisiknya, bukan apa yang ada di dalam hatinya. Banyak lelaki mendekatinya, sebagian mencoba meminangnya, bahkan mengirim rangkaian bunga ke rumahnya dengan surat lamaran.

Dengan sangat terpaksa, dia memakai cincin ibunya, tangan ibunya patah dan tak bisa lagi memakai incin itu. Dengan cincin itu, dia mengatakan kepada para lelaki yang memingnya kalau dia sudah bertunangan. Menurutnya itu memang sebuah kebohongan, namun dia tidak ingin menyakiti mereka secara terang-terangan dengan mengatakan dia tidak menyukai mereka. Meskipun mereka lelaki yang baik. Namun dia tak bisa menikahi seseorang yang hanya melihat fisiknya.

Terkadang menjadi berbeda begitu menyakitkan. Banyak orang di dunia ini membayar mahal untuk menjadi berbeda. Karena mereka berpikir berbeda itu unik, dan lebih menarik perhatian banyak orang. Namun, menjadi berbeda tak selamanya memberi kebahagiaan.

*******

Tahun depan, mungkin Juvia akan terbang ke Indonesia. Dia ingin bertemu teman baiknya sekaligus berlibur. Dia bertanya kepadaku harga tiket dan sebagainya. Dan bertanya tempat belajar bahasa Indonesia di Mesir.

Saat mengisi kolom pendaftaran, ada sebuah pertanyaan tertulis, “Dari manakah kamu tahu tentang tempat kursus ini?” dia menjawab, “Dari teman Indonesiaku, Zain.” Aku tertawa, begitu polosnya dia. Ini pertama kalinya namaku ditulis orang lain di kolom pendaftaran kursus.

                Dia berkata kepadaku, kalau bertemu denganku adalah suatu “anugerah”. Hhhh . . . tiba-tiba dadaku sesak mendengarnya. Perasaan bahagia mengalir di setiap aliran darahku. Aku senang jika kehadiranku bermanfaat bagi orang lain. Merasa gembira jika menjadi sandaran dan mampu memberikan cahaya wlaupun hanya secercah. Memberikanku sebuah alasan lagi untuk hidup di dunia yang terlalu fana ini.


»»  Baca Selengkapnya...

Sebuah Nama



Tiga bulan lalu, kita pertama kali bertemu, tepatnya saat cosplay event. Kemudian kita berteman di internet. Namun tak saling sapa. Dan beberapa hari lalu aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.

Dan tak disangka orangnya asyik diajak bicara. Selalu membalas dengan deretan kata yang panjang. Kita sama-sama tak kenal nama, hanya kenal wajah. Dan mulailah kita saling tukar nama. Saat dia menyebutkan namanya Alaa, ada perasaan aneh yang menghinggapiku.

Sebelum keanehanku membuncah. Dia dengan sigap berkata, “Aku sangat bersyukur jika kamu tidak memanggilku nama itu, karena aku benci nama itu.” Dan perasaan aneh itu terjawab sudah.

 Seorang gadis yang terlahir dengan nama lelaki. Sempat aku berpikir dan canggung, “Alaa kan nama lelaki di Mesir, kenapa perempuan ini bernama Alaa?” aku mengerti alasan ketidaksukaannya pada nama itu. Tentu sejak kecil banyak teman yang mengejek. Menyakiti hatinya. Menyayat sanubarinya.

Di kehidupan nyataku, hal itu terjadi. Mulai TK sampai SMA selalu ada hal seperti ini. aku melihat teman perempuan menangis karena menyandang nama lelaki. Bertubi-tubi disakiti teman sebayanya. Begitu juga sebaliknya. Hal serupa terjadi pada teman lelakiku yang menyandang nama perempuan.

Saat itu aku tak bisa berbuat banyak. Aku tak bisa menjadi seseorang sok pahlawan yang ingin menghapus air mata itu. Terkadang membiarkan seseorang sendiri itu hal yang bijak. Aku hanya memandangnya di balik dinding. Mendengarkan isak tangisnya. Saat bibir tak bisa lagi mengeluarkan kata, dengan air matalah kata itu berbicara.

Gadis berbola mata biru itu melanjutkan berbicara,“Lebih buruknya lagi, saat aku membayar kuliah, membayar biaya internet, dan membayar beberapa biaya di masing-masing tempat, yang tertulis di sana adalah ‘Tuan Alaa’.”

“Dan lagi, saat aku melamar pekerjaan, pihak perusahaan menelponku, mendengar suaraku pihak perusahaan berkata,” Apakah Anda istrinya?”
“Tidak, saya belum menikah kok.”
“Kami mencari tuan Alaa yang mengirim surat lamaran.”
“Bukan tuan tapi nyonya. Bukankah tertulis di surat lamaran itu kalau saya seorang perempuan?
“Oh, maaf. Kami kira Anda seseorang lelaki.”
Dan mulai saat itulah, aku sangat membenci nama ini.

Aku sangat mengerti perasaannya, karena melihat sebagian temanku di Indonesia mengalami hal serupa. Aku merasakan sedihnya memiliki nama itu. Mungkin saat itu para orang tua tak berpikir hal ini sangat berdampak besar pada anak mereka.

Dan Seandainya lingkungan lebih mengerti perasaan. Air mata gadis pirang itu mungkin tak akan menetes. Di balik sosok cantik, selalu ada rasa sakit yang tersimpan. Dan kini, aku memanggilnya Juvia. Aku ingin membantunya melupakan nama Alaa yang dibencinya.

Note : Kok aku tahu kalau dia berambut pirang, padahal dia berjilbab? Hayoo . . . eits.. jangan salah paham yaa. Aku melihat foto masa kecilnya. Sosok gadis mungil dengan mata biru dan rambut pirang. Memang keindahan rambut pirangnya tertutupi oleh jilbab, namun dengan itu wajahnya kian bercahaya.


»»  Baca Selengkapnya...

Semut Merah




"Din, tulisanmu masuk di Semut Merah ya? Selamat!"

aku terhenyak melihat sebuah pesan dari temanku itu. "Beneran? memang ada pengumumannya?"

"Ada, coba lihat di websitenya."

seharian ku cari di websitenya, namun tak juga kutemukan pengumuman itu. websitenya tak terurus. menurut berita sih, pemegang akunnya mahasiswa Indonesia di India. di sana jarinan internetnya tak bagus. terlalu sulit untuk online.

esoknya aku telpon temanku, meminta kejelasan. tak lama, dia mengirim daftar final para penulis. dan lagi-lagi aku terhenyak. di Mesir, hanya tulisanku yang diterima. penulis lain, adalah mahasiswa Indonesia di Rusia, Australia, Jepang, Taiwan, Amerika, Perancis, Yaman, Belanda, Pakistan, Sudan, India, Turki dan lain-lain.

aku gemetar melihat namaku tercantum di daftar penulis itu. aku tak bisa menahan perasaanku dan bersujud saat itu juga. sujud syukurku kepadaNya.


*******


sebelumnya aku tak tahu menahu mengenai proyek ini. PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia ingin membuat proyek untuk membangun dan mengharumkan tanah air. membuat buku motivasi. para penulisnya para pelajar yang tersebar di berbagai belahan dunia. yang nantinya buku itu akan diterbitkan dalam tiga bahasa; bahasa Indonesia, Inggris, dan Cina.

berawal dari perilaku "aneh" teman sekamarku. dia duduk di depan komputer membuat sebuah cerita. tanpa mengatakan sepatah kata pun kepadaku. dia adalah ketua Ikatan Jurnalis di Mesir. pangkatnya sudah setinggi langit. namun, jarang aku lihat tulisan-tulisannya.

dia memberitahu informasi proyek Semut Merah ini kepada teman lain, namun kenapa tidak kepadaku, teman sekamarnya?

sejak lama aku mencium rasa irinya kepadaku. aku yang orang biasa sudah membuat buku sendiri di Mesir, namun dia yang ketua Ikatan Jurnalis belum membuat buku. mungkin ada bukunya, namun buku 'keroyokan'.

pernah kekeluargaan Jawa Timur membuat proyek buku, namun dia tak memberitahuku tentang info itu. tahu-tahu, buku itu sudah jadi. sakit hati ini rasanya. padahal dia aktivis kekeluargaan Jawa Timur, dia juga teman kamarku. namun, kenapa tidak memberitahuku?

dan hal ini terulang kembali di proyek buku Semut Merah ini. dia tak mengucapkan sepatah-kata pun. seolah dia ingin menjadikanku sebagai rivalnya. tak ingin tulisanku di muat di buku itu.

mungkin juga karena dia malu karena belum memiliki karya. ingin tulisannya dimuat dan dijadikan buku yang dicetak di Indonesia. beban ketua Ikatan Jurnalis sungguh amat berat.

aku baru mengetahui berita itu saat mendekati deadline. berita dari teman lain tanpa unsur kesengajaan. seolah semuanya diatur oleh Allah dengan begitu indahnya.

aku melihat daftar penulis yang masuk. di antaranya para penulis Jurnal dan pimpinan redaksi buletin nasional (di Mesir) yang sering mengkritik tulisanku. aku minder mendengar nama mereka. bisakah tulisanku menembus mereka? aku hanya bisa memasrahkan diri kepadaNya.


*******


Rabu, 8 Mei 2013 buku kami dilaunchingkan di Auditoruin RRI Jakarta. hanya satu tulisan mahasiswa Indonesia di Mesir yang diterima, tulisanku. dan sedihnya aku tak bisa menghadiri acara launching itu. aku masih ada di Mesir, bersiap menghadapi ujian.

dan akhir Juni 2013 esok, kita berancana memecahkan rekor Muri, buku dengan launching terbanyak di Indonesia, bahkan di dunia. semoga berjalan lancar.

»»  Baca Selengkapnya...

Sebutir Cahaya di Ruang Ujian


Ahad, 12 Mei 2013


"Permisi, tahukah dimana tempat ujian takhalluf?" seorang pria berkulit hitam berkaos putih bertanya. saat itu aku tengah duduk di bawah tangga, bergumul dengan buku diktat kuliahku. aku memberhentikan bacaanku dan menggelengkan kepala pada pemuda itu.

di sinlah aku bersama pelajar lainnya. melaksanakan ujian. yang kami hadapi saat ini bukan ujian formal. namun ujian ulang mata kuliah yang bernilai di bawah standar. tahun kemarin aku tertinggal dua mata kuliah. hampir saja. kalau aku tertinggal tiga mata kuliah, aku harus mengulang di tahun yang sama.

entah apa yang terjadi waktu itu kenapa sampai nilaiku serendah itu. sakitkah? sehingga tak mampu belajar dengan baik. ataukah karena aku terlalu melalaikan waktuku?

di mata kuliah itu, dosenku  hanya memberi kelululusan pada 15% mahasiswanya. keren dan serem bukan? dan akulah salah satu korbannya. dan hanya empat orang mahasiswa Indonesia yang lolos. orang Mesirpun banyak yang tak lulus di mata kuliah itu.

dan di sinilah untuk pertama kalinya berada di tempat ujian takhalluf. sebelumnya aku tak pernah merasakan hal seperti ini. duduk bersama orang-orang yang sama-sama mengalami kegagalan. jika di ujian formal, ruang antara pelajar Mesir dan pelajar asing dipisah. namun kali ini, aku duduk di antara para pelajar Mesir.

dan aku mendapat pengalaman baru saat duduk bersama orang Mesir. saat aku khusyuk mengerjakan ujianku, aku sempat melirik lembar jawaban pelajar yang duduk di samping kiriku. bukan untuk menyontek lho, aku anti dengan menyontek. sejak TK sampai ke bangku kuliah, sekali pun aku tak pernah menyontek. orang tuaku menanamkan paham anti-menyontek itu sejak kecil, sehingga terbawa sampai sekarang.

aku melirik dari jauh lembar jawaban pemuda di sampingku. aku ingin tahu sudah berapa lembar dia mengerjakan soal. karena hal itu bisa memberi motivasi padaku. jika aku merasa tertinggal jauh, otakku akan berpikir semakin cepat untuk tak mau ketinggalan. dan aku terkaget, pemuda itu baru menulis beberapa baris, sementara aku hampir menyelesaikan essay satu halaman besar. aku melirik pelajar Mesir di depanku ternyata lebih parah dari orang di sebelahku. lembar jawabannya diloncati satu baris dengan tulisan besar berjarak renggang. memberi kesan tidak niat menulis dan ingin lembar jawabannya terlihat penuh.

awalnya aku kira, orang Mesir lebih bagus dalam mengerjakan ujian. karena bahasa Arab adalah bahasa mereka sehari-hari. namun ternyata tidak. justru pelajar asing lah yang lebih bagus.

aku kira, para pemuda Mesir begitu baik dalam hal Nahwu Sharaf (ilmu tata bahasa dalam bahasa Arab). namun ternyata tidak. terkadang pertanyataan-pernyataan mudah (tingkat anak SMP di Indo) mereka tak tahu dan bertanya pada dosen. membaca kitab gundul pun mereka masih belepotan (aku juga sih sebenarnya, Ahahaha). para pelajar Mesir malah sering bertanya Nahwu-Sharaf kepada kita.

dan aku kira tulisan orang Mesir begitu bagus karena sudah terbiasa menulis bahasa Arab. ternyata tidak. tulisan mereka seperti cakar ayam. para dosen terkejut melihat tulisan sederhana kami. "Wah! tulisannya bagus sekali? seperti tulisan keyboard komputer!" kami tersenyum.


*******


seorang pemuda berwajah ke-Arab-an masuk. ada seseorang memeganginya. aku terheran. dia selalu memendang ke atas. dia selalu tersenyum.

awalnya dia duduk di belakangku, namun tanpa kau sadari dia sudah duduk di depanku di kursi khusus ditemani seorang pemuda. saat pertama kali, aku tak begitu mempedulikannya, karena perhatianku terfokus pada lembar ujianku. namun di saat terakhir, saat lembar jawabanku hampir semua terisi, aku menyadari bahwa pemuda itu buta. pemuda yang duduk di sampingnya membacakan soal. dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian ditulis oleh si pembaca soal.

pemuda itu memiliki keinginan yang begitu kuat. ingin tetap menghadiri ujian walau dengan keadaan itu. selalu memandang gelap tiap harinya. dan selalu merindukan cahaya. namun tak pernah mengutuk keadaan. dan selalu tersenyum.

»»  Baca Selengkapnya...

abcs