Satu Sayap yang Memudar


Sebenarnya, aku ingin menulis ini secepat mungkin saat mendengar berita menyedihkan ini. Namun, entah kenapa tangan dan jiwaku tak kuasa menulis ini. Dan sampai Ramadhan berakhir pun aku sama sekali tak menulisnya, sampai suatu kejadian dating menghampiriku . . .

Hari kedua Idul Fitri, aku menyalakan Radio Indonesia lewat internet. Aku request lagu namun tak juga diputar karena mungkin antriannya banyak. Tak berapa lama, mereka menawarkan untuk mengupload foto kumpul bareng saatIdul Fitri. Aku mengupload foto kita di Piramid tahun lalu. Saat Muhammad masih bersama kita.

Aku menuliskan sesuatu di foto itu, “Kenangan Idul Fitri tahun lalu di Piramida. Sepupu kita, Muhammad meninggal dunia tiga minggu yang lalu.”

Aku tak menyangka Muhammad begitu cepat meninggalkanku. Aku masih tak percaya. Sampai saat ini aku masih bisa merasakan kehadirannya meski dia tak ada lagi di sini, di bumi ini.

Tanpa kusadari di Radio itu menyabut nama Zhie, nama akun twitterku. Aku terbelalak dan cepat-cepat mengeraskan volume speakerku dan menyuruh teman-temanku diam.

“Barusan kita menerima sebuah foto keluarga dari akun yang bernama Zhie. Foto kenangan bersama sepupunya, Muhammad yang meninggal tiga minggu yang lalu. Dia request sebuah lagu beberapa waktu lalu, namun kita belum bisa mengabulkannya karena banyaknya antrian. Kita akan memutar sebuah lagu sebagai ganti. Lagu yang cocok dengan keadaan Zhie saat ini. Lagu untuk mengenang seseorang yang telah pergi. Untuk Zhie, semoga kamu mendengar lagu ini.”

Si penyiar Radio mengatakan kata itu dengan sedikit isak tangis. Aku membayangkan wajahnya saat ini sedang berlinang embun kesedihan. Dari suara paraunya, seakan dia menyesali tidak bisa memutar lagu yang aku pinta di awal.

Saat lagu diputar, tanpa kisadari, dadaku sesak. Seakan udara tak mengizinkan aku tuk bernafas dengan leluasa. Hampir memaksaku untuk mengeluarkan embun duka yang sama. Namun aku coba tahan. Aku tak ingin embun itu keluar dengan leluasa di depan teman-temanku.

Ahad, 21 Juli 2013. Foto profil facebook Mariam, Sundus, Salma dan Aly berubah menjadi foto Muhammad. Begitu juga sepupu mereka yang lain. Kaki dan sebagian tubuhku seakan tak bernyawa saat mengetahui realita kepergian Muhammad. Meninggalkan kita, selamanya.

Aku masih belum tahi secara pasti penyebab meninggalnya. Aku ingin bertanya kepada keluargaku, namun aku tak enak hati. Lidahku kelu dan jemariku lemas saat ingin bertanya kepadanya. Aku tak ingin, pertanyaanku semakin membuat mereka berduka.


Dugaanku, meninggalnya Muhammad ada sangkut pautnya dengan demo besar-besaran yang ada di Mesir. Ratusan orang meninggal. Mungkinkah Muhammad salah satunya? Dan lagi, saat itu dia sedang melaksanakan wajib Militer. Setiap lelaki yang terlahir di Mesir, wajib memasuki dan bertugas sebagai tentara selama satu sampai 3 tahun, atau bahkan lebih. Berbeda dengan Indonesia. Kita diberi kebebasan memilih.

Seperti baru kemarin aku bertemu dengannya. Pergi ke Piramida bersama, tertawa dan berfoto ria bersama. Aku ingat saat kita sholat berjamaah dan aku menjadi imamnya. Aku juga ingat saat-saat dia menolongku dari polisi yang tak tahu diri. Juga saat dia mengantarku pulang larut malam saat semua sudah kecapekan dan terlelap.

Saat dia mengantarku pulang dengan mobilnya, aku melambaikan tangan kepadanya. Tak kusangka itu lambaian terakhir yang aku berikan untuknya. Orang sehangat dan sebaik dia, kenapa pergi begitu cepat.

Beberapa hari status keluargaku berisi tentang kesedihan. Dan selang beberapa waktu mereka mengganti foto profil dengan warna hitam. Tanpa senoktah warna lain. Bisakah aku menghibur mereka Ya Allah? Bisakah aku menjadi pelipur lara bagi mereka?


Lagu yang diputar masih terdengar. Aku berusaha untuk tak menikmatinya, tak ingin terbawa suasana. Namun, usahaku percuma. Jiwaku menolak. Lagu itu memberi bekas padaku. Mengingat memori yang kita lukis, bersama Muhammad.
»»  Baca Selengkapnya...

Sebungkus Indomie di Hari Raya

Kamis, 8 Agustus 2013
                Ini pertama kalinya aku bisa melaksanakan sholat Eid di masjid Al-Azhar. Yaa, pertama kali. Tahun lalu aku melaksanakannya di masjid asrama atau masjid lain.

                Dan Ramadhan ini, aku mengawalinya dengan sholat Tarawih di masjid Al-Azhar, dan mengakhiri Ramadhan tahun ini pun dengan tarawih di sana.  Tiba-tiba aku teringat dua tahun silam. Selama Ramadhan, aku sekalipun tak pernah sholat di masjid Al-Azhar. Karena perhatianku teralihkan dengan masjid-masjid lain. Bagaimana mungkin, aku yang mahasiswa Al-Azhar  tidak pernah sholat Tarawih di masjid Al-Azhar. Tahun itu, aku sangat menyesalinya. Sangat!

                Usai Sholat Eid, terlihat banyak jamaah dari berbagai Negara. Mereka banyak mengambil gambar. Dan ada anak kecil Turki lewat di depan kita, “LuuuccuuuuuUUUU!!* kita tanpa sadar menarik anak itu dan berfoto bersamanya. Orang tuanya tertawa melihat aksi kami, dan ikut mengabadikan momen itu dengan kameranya. Rasa bangga memenuhi dada kami, kita serasa menjadi artis dadakan. Menjadi obyek kamera beberapa orang asing.

                Kami bergegas kembali ke asrama, untuk berganti baju. Karena terlalu asyik berfoto ria, karena sulit juga mencari kendaraan, kami sedikit terlambat sampai di asrama. Kami akan menuju kedutaan Indonesia. Kunjungan rutin yang kami lakukan selama Idul Fitri dan Idul Adha. Kami makan besar di sana. Bersama seluruh masyarakat Indo yang berjumlah lebih dari 4000 orang dan para pejabat kedutaan.

                Bis jemputan menunggu di depan asrama. Aku dan teman sekamarku berjalan pelan menuju gerbang. Aku memakai jubah abu-abu pemberian ibuku tiga tahun silam dengan sorban yang aku lilit di leher. Penampilanku sama persis seperti Raja Iblis Piccolo.

                Tahun ini aku ingin tampil beda. Jika tahun lalu aku berpenampilan layaknya orang kantoran dengan stelan kemeja yang necis. Kini aku ingin muncul di KBRI dengan jubah dan sorban layaknya muslim golongan keras. Aku ingin tahu reaksi teman-teman di sana. Aku yakin mereka tidak akan berhenti tertawa melihat penampilan “sholeh”ku.

                Pintu gerbang sudah mulai terlihat. Gerbang yang semula ramai oleh orang Indonesia, kini terlihat sunyi. Hanya segelintir orang Indonesia yang nampak. Kami tertinggal bis. Bis tidak mampu memuat kami semua. Sopir berjanji akan kembali dan memungut kita yang tersisa.

                Sepuluh menit pertama kita masih sabar menunggu. Sepuluh menit kedua kita mulai kehausan dan pergi ke kios depan membeli minum. Sepuluh menit ke-empat temanku mulai ragu bis jemputan akan datang. Sepulu menit ke-lima beberapa orang memutuskan untuk berangkat sendiri tanpa menunggu bis jemputan. Namun, aku dan teman sekamarku, Fikri memutuskan untuk kembali ke asrama. Kita tidak mempunyai gairah lagi untuk ke KBRI. Karena bisa dipastikan, saat kita datang orang-orang pasti sudah pulang. Percuma bukan, mengunjungi KBRI tanpa bertemu orang yang kita kenal.

                Aku melirik jam di ponsel, masih pukul 8 pagi. Aku dan Fikri membeli Indomie dan sebotol air. dan tanpa kita sadari, bis jemputan sudah ada tepat di depan kita! Orang Indonesia yang tersisa berlarian menuju bis. Kecuali kita.

“Fik, bagaimana? Ikut tidak?”

“Aduh, masa kita ke KBRI membawa mie bungkus seperti ini?”

Yup, kita tidak membawa ransel maupun tas untuk memasukkan mie bungkus dan botol air besar. Kalau kita menaruh barang itu ke kamar juga tidak mungkin, karena kamar kita jauh dari gerbang utama. Dan terletak di lantai enam.

“Bagaimana?” Fikri bertanya kepadaku. Aku pun ragu dan terdiam. Sangat memalukan berkunjung ke tempat para pejabat dengan membawa sebungkus Indomie di tangan. Akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke kamar dan memasak mie instan.


                Saat memasak, kita terbayang teman-teman lain yang bisa memilih aneka makanan yang disediakan KBRI. Kita berdua hanya memasak Indomie di kamar. Sendiri, tak ada keramaian. Tidak ada canda tawa bertemu teman. Tapi . . . mengesankan! Baru pertama kali ini aku cuma makan Indomie saat Idul Fitri. Tanpa dihiasi makanan mewah apapun.
»»  Baca Selengkapnya...

Qais

“Zain, kami ingin bertemu kamu sebelum Umrah.” dadaku sesak, aku hampir tak bisa mengendalikan nafasku saat membacanya. Aku ingin, ingin sekali melihat mereka. Namun, aku tidak siap. Karena keberangkatan Umrahku belum jelas. Kedutaan Saudi tak kunjung memberikan visa. Ya Allah kenapa malah lebih sulit melaksanakan ibadah Umrah dan Haji dari Mesir.

Sejak beberapa tahun yang lalu, tidak ada lagi mahasiswa Indonesia (yang di Mesir) melaksanakan ibadah haji. Entah alasan pastinya apa. Dikatakan, pemerintah Saudi melarang kita berangkat haji dari sini. Harus dari Indonesia langsung. Maka alternatif lain, banyak mahasiswa yang beralih melaksanakan ibadah Umrah. Dan itu pun masih menjadi kendala. Sejak tahun kemarin, banyak jama’ah Umrah yang  tak berangkat. Padahal mereka sudah membayar dan melengkapi berkas.

Dan kejadian ini terjadi padaku. Tahun ini. Kita rencana berangkat 5 hari atau 7 hari setelah Ramadhan. Namun, sampai sekarang Visa tak kunjung turun. Jika ini cobaan darimu Ya Allah, hamba berusaha untuk menerima. Karena pasti ada hikmah hebat di balik semua ini.

Melihat pesan Mariam, aku kelu untuk menjawabnya. Aku ceritakan permasalahanku. Dan aku mengatakan aku sedang mengurusi masalah Visa dan tidak bisa bertemu dengannya. Padahal itu bukan alasan sebenarnya. Aku tak tahu harus berbicara apa saat berada di depan mereka. Allah aku ingin bertemu mereka Ya Allah. Aku berbohong kepada diriku sendiri. Batinku tersiksa tidak bisa bertemu mereka.

Di hari menjelang Ramadhan, aku memutuskan Tarawih di masjid Al-Azhar, aku berjalan sendirian. Lunglai. Seperti boneka yang tak berjiwa. Yang ada dipikiranku hanyalah Mariam dan keluarga. Kenapa saat Ramadhan rasa cintaku pada mereka kian membesar? Perasaan ini begitu menyiksaku. Aku ingin bertemu mereka untuk mengobati kehampaanku, namun akulah yang memilih untuk menjaga jarak dari mereka. Kenapa denganku?

Dan aku tersadar cintaku kepada mereka begitu besar. Terkadang aku tak lagi merasakan cinta di dadaku. Namun, perasaan itu kembali muncul saat Ramadhan. Begitu terang dan menyilaukan. Membutakan pandanganku sesaat dan membuatku lunglai.

Aku benci menjadi lelaki sok keren yang seolah bisa mengatasi semua hal sendiri. Namun, pada akhirnya jauh di dalam hatiku, aku membutuhkan mereka. Allah dan Mariam. Allah yang memberikan jalan, Mariam yang selalu hadir menguatkanku, saat aku mulai tersungkur.

Aku begitu tenang berada di sampingnya. Seolah, jika ada banyak masalah di benakku yang menyebabkanku tak bisa tidur. Hanya berada di sampingnya aku bisa tidur dengan nyenyak. Perilakunya, tutur katanya, kejernihan hatinya dan apapun sisi yang dutunjukkan Mariam, dia selalu bisa menenangkanku.


Aku masih saja berjalan lemah. Dengan tatapan hampa. Berusaha menemukan Oase tuk mengisi rasa sepiku. Rasa rindu yang begitu besar menggelapkan pandanganku. Kini aku mengerti, kenapa Qais menjadi gila karena merindu Layla.
»»  Baca Selengkapnya...

Usaha

Masih tentang cerita si Anar.

Dia berkata kepadaku, “Kamu sering WorkOut di Gym kan? Saya sering melihatmu.”

Ahahaha, aku terkaget. Padahal kita baru kenal, namun dia mengetahui kalau aku sering pergi ke Gym. Dan hal yang serupa terjadi sebelumnya. Saat di luar asrama, saya bertemu guru Tanzaniaku.

“Hey Zain, Bagaimana kabarmu?”

“Saya tahu kamu sering olah raga di Gym kan?”

Aku terkaget, bagaimana dia tahu. Bagaimana berita ini menyebar. Gak tanggung-tanggung, yang tahu orang-orang non-Indonesia.

Aku melihat sisi lain mahasiswa Al-Azhar di dalam Gym ini, terutama saat ujian. Meski berolah raga, tangan mereka tak lepas dari buku agama atau helaian kertas rangkuman pelajaran.

mereka mengangkat beban, dan istarahat beberapa menit dengan membaca buku agama. Mereka bisa menyeimbangkan antara fisik dan jiwa.

“Muslim yang kuat lebih dicintai Allah daripada muslim yang lemah.” Yup, begitulah sabda Rosul.

Sungguh berbeda dengan kebanyakan ulama di Indonesia. Mereka selalu beribadah tanpa memberikan hak kesehatan bagi tubuhnya. Jarang dan hampir tak pernah berolah raga.

Di akhir, tubuh mereka begitu lemah. Tidak bisa berdakwah dengan maksimal karena tubuhnya saki-sakitan dan mudah capek.

Memang sangat bagus, jika kita terlena dengan kedekatan Allah sampai lupa hal-hal keduaniawian. Tapi, bukankah Tubuh yang kita miliki saat ini juga titipanNya. Bukankan menjadi kewajiban kita merawat “barang titipan” itu yang nantinya akan dikembalikan kepadaNya.

Yup, terkadang hal yang tak terduga terjadi. Seperti munculnya penyakit kronis meski kita sudah berusaha merawat tubuh. Namun, Allah menghargai setiap usaha yang kita kerjakan.

Setiap usaha akan selalu dihargai, yang kita butuhkan adalah percaya.
»»  Baca Selengkapnya...

Kesah Pemuda Berparas Rusia

"Bisakah Kamu menolongku, Orang Indonesia?"

Ucap sesosok pemuda berparas Rusia yang tengah duduk di taman. aku mendekatinya dengan tetap menyeruput susu kotak yang aku genggam.

“Selama saya bisa, Insya Allah.”

Setelah Ramadhan, saya akan terbang ke Malaysia. Melamar kekasihku di Malaysia. Setiap hari kami chatting. Bisakah Kamu datang ke kamarku sekali atau dua kali seminggu untuk membantuku chatting dengannya? Untuk mengecek bahasa Malaysiaku.”

Aku tak tahu aku mempunyai waktu atau tidak. Namun, membantu orang Russia ini untuk melengkapi separuh agamanya sungguh tawaran yang menarik.

Dia melanjutkan, “Biasanya dia online setiap Ashar waktu Kairo, apakah Anda mempunyai waktu? Setiap Ashar kalian memasak yaa?”

Yep, benar sekali. Kami mempunyai jadwal memasak setiap harinya. Dan terkadang tidak setiap hari aku tinggal di asrama. Aku terkadang punya acara di luar.

Aku berkata lirih, “Bagaimana kalau saat dia online, Kamu telepon aku dulu. Memastikan kesenjangan waktuku? “

“Kalau saat itu tidak ada kegiatan, saya akan ke kamarmu.”

Anar namanya. Dia berumur 35 tahun dan kuliah di Al-Azhar. Dia agak terlambat memasuki bangku kuliah. Dia memasuki Al-Azhar di umurnya yang ketiga-puluh.

Bukan pemandangan aneh di sini. Bapak-bapak bahkan kakek-kakek pun masih kuliah S1 di Al-Azhar. Saat itu aku terkaget. Ada seorang yang mungkin seumuran kakekku masih belajar di bangku S1. Kulitnya keriput, badannya ringkih dan giginya sudah ompong. SubhanAllah di usia sesenja itu, semangat belajarnya masih tinggi.

Dan di tahun awal, aku juga menemukan kakek Rusia yang tinggal seatap denganku. Rambutnya memutih dan kulitnya mengkeriput.

Sempat, aku berpikir aku yang paling tua di angkatanku. Dan ternyata Allah Maha Pelipur Lara. Selalu memberikan aku kesempatan kepadaku untuk bersyukur.


*******

Anar bertemu dengan kekasihnya, Naddiya di dunia maya, sebuah situs perjodohan antar muslim. Naddiya tidak bisa berbicara bahasa Arab. Beruntungnya Anar mampu sedikit berbicara bahasa Melayu.

Pemuda Rusia itu sempat cemas, jika tinggal di Malaysia pekerjaan apa yang bisa mencukupi kebutuhannya dan keluarga. Jika Naddiya di bawa ke Azarbeijan (tampangnya memang berparas Rusia namun negara asalnya di Azarbeijan), belum tentu juga dia mendapat pekerjaan yang layak. Karena menurut berita yang aku dapat, kebanyakan penduduk Azarbeijan adalah Syi’ah. Jika tahu kalau ada penduduknya yang kuliah di Al-Azhar, dia pasti dikucilkan.

Saat chatting dengan Naddiya, dia berusaha menguatkan Anar, “Apa Kamu tidak yakin bisa hidup di Malaysia? Insya Allah Kamu bisa!”

Ahaha hebat sekali perempuan ini. Menguatkan pasangannya. Aku turut berbahagia. Dan berdo’a mereka akan langgeng. Jiwa petualang seorang lelaki akan berkobar jika berhadapan dengan perbedaan yang dia temui dalam pernikahan.

Saat mulai bosan, mereka akan selalu menemukan kelebihan yang ada di dalam istrinya, dari sudut manapun. Sebagaimana perkataan Paulo Coelho, perbedaan membuat cinta tetap ada.

Tiba-tiba aku teringat senior Indonesiaku di Asrama. Secara mendadak tanpa ada berita sebelumnya dia menikahi gadis Perancis keturunan Turki. Acara pernikahan dilangsungkan di Mesir. Mereka bertemu di facebook, saling tertarik dan memutuskan untuk menikah.

Dan mereka sudah memili anak sekarang. Kami melihat foto-fotonya saat di Perancis. Ah, mengelilingi dunia bersama si pelengkap separuh agama sungguh menentramkan.
»»  Baca Selengkapnya...

Pink


Sebulan sudah aku cuma mengisi blogku dengan satu tulisan. Ada banyak cerita yang hadir di kepalaku, namun aku tak sempat menumpahkannya melalui tulisan. Pandanganku teralih.

                Sebulan sudah aku saling berbalas pesan dengan Juvia. Bukan hanya pesan singkat, namun pesan panjang dua sampai tiga halaman Microsoft word. Begitu banyak hal yang kami ceritakan. Karena keakraban itu, dia mengganggapku seperti saudara. Dan aku memulai mempercayainya. Menceritakan berbagai hal yang tak kuceritakan kepada orang lain. Dan begitupun sebaliknya.

               Dibalik sosok indah itu, ternyata banyak menyimpan luka. Bola mata birunya menarik perhatian begitu banyak lelaki. Rata-rata bola mata orang Mesir berwarna hitam atau kecoklatan. Orang Mesir berbola mata biru sangat langka hari ini. 

Dia begitu tersiksa, karena orang-orang hanya melihat tampilan fisiknya, bukan apa yang ada di dalam hatinya. Banyak lelaki mendekatinya, sebagian mencoba meminangnya, bahkan mengirim rangkaian bunga ke rumahnya dengan surat lamaran.

Dengan sangat terpaksa, dia memakai cincin ibunya, tangan ibunya patah dan tak bisa lagi memakai incin itu. Dengan cincin itu, dia mengatakan kepada para lelaki yang memingnya kalau dia sudah bertunangan. Menurutnya itu memang sebuah kebohongan, namun dia tidak ingin menyakiti mereka secara terang-terangan dengan mengatakan dia tidak menyukai mereka. Meskipun mereka lelaki yang baik. Namun dia tak bisa menikahi seseorang yang hanya melihat fisiknya.

Terkadang menjadi berbeda begitu menyakitkan. Banyak orang di dunia ini membayar mahal untuk menjadi berbeda. Karena mereka berpikir berbeda itu unik, dan lebih menarik perhatian banyak orang. Namun, menjadi berbeda tak selamanya memberi kebahagiaan.

*******

Tahun depan, mungkin Juvia akan terbang ke Indonesia. Dia ingin bertemu teman baiknya sekaligus berlibur. Dia bertanya kepadaku harga tiket dan sebagainya. Dan bertanya tempat belajar bahasa Indonesia di Mesir.

Saat mengisi kolom pendaftaran, ada sebuah pertanyaan tertulis, “Dari manakah kamu tahu tentang tempat kursus ini?” dia menjawab, “Dari teman Indonesiaku, Zain.” Aku tertawa, begitu polosnya dia. Ini pertama kalinya namaku ditulis orang lain di kolom pendaftaran kursus.

                Dia berkata kepadaku, kalau bertemu denganku adalah suatu “anugerah”. Hhhh . . . tiba-tiba dadaku sesak mendengarnya. Perasaan bahagia mengalir di setiap aliran darahku. Aku senang jika kehadiranku bermanfaat bagi orang lain. Merasa gembira jika menjadi sandaran dan mampu memberikan cahaya wlaupun hanya secercah. Memberikanku sebuah alasan lagi untuk hidup di dunia yang terlalu fana ini.


»»  Baca Selengkapnya...

Sebuah Nama



Tiga bulan lalu, kita pertama kali bertemu, tepatnya saat cosplay event. Kemudian kita berteman di internet. Namun tak saling sapa. Dan beberapa hari lalu aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.

Dan tak disangka orangnya asyik diajak bicara. Selalu membalas dengan deretan kata yang panjang. Kita sama-sama tak kenal nama, hanya kenal wajah. Dan mulailah kita saling tukar nama. Saat dia menyebutkan namanya Alaa, ada perasaan aneh yang menghinggapiku.

Sebelum keanehanku membuncah. Dia dengan sigap berkata, “Aku sangat bersyukur jika kamu tidak memanggilku nama itu, karena aku benci nama itu.” Dan perasaan aneh itu terjawab sudah.

 Seorang gadis yang terlahir dengan nama lelaki. Sempat aku berpikir dan canggung, “Alaa kan nama lelaki di Mesir, kenapa perempuan ini bernama Alaa?” aku mengerti alasan ketidaksukaannya pada nama itu. Tentu sejak kecil banyak teman yang mengejek. Menyakiti hatinya. Menyayat sanubarinya.

Di kehidupan nyataku, hal itu terjadi. Mulai TK sampai SMA selalu ada hal seperti ini. aku melihat teman perempuan menangis karena menyandang nama lelaki. Bertubi-tubi disakiti teman sebayanya. Begitu juga sebaliknya. Hal serupa terjadi pada teman lelakiku yang menyandang nama perempuan.

Saat itu aku tak bisa berbuat banyak. Aku tak bisa menjadi seseorang sok pahlawan yang ingin menghapus air mata itu. Terkadang membiarkan seseorang sendiri itu hal yang bijak. Aku hanya memandangnya di balik dinding. Mendengarkan isak tangisnya. Saat bibir tak bisa lagi mengeluarkan kata, dengan air matalah kata itu berbicara.

Gadis berbola mata biru itu melanjutkan berbicara,“Lebih buruknya lagi, saat aku membayar kuliah, membayar biaya internet, dan membayar beberapa biaya di masing-masing tempat, yang tertulis di sana adalah ‘Tuan Alaa’.”

“Dan lagi, saat aku melamar pekerjaan, pihak perusahaan menelponku, mendengar suaraku pihak perusahaan berkata,” Apakah Anda istrinya?”
“Tidak, saya belum menikah kok.”
“Kami mencari tuan Alaa yang mengirim surat lamaran.”
“Bukan tuan tapi nyonya. Bukankah tertulis di surat lamaran itu kalau saya seorang perempuan?
“Oh, maaf. Kami kira Anda seseorang lelaki.”
Dan mulai saat itulah, aku sangat membenci nama ini.

Aku sangat mengerti perasaannya, karena melihat sebagian temanku di Indonesia mengalami hal serupa. Aku merasakan sedihnya memiliki nama itu. Mungkin saat itu para orang tua tak berpikir hal ini sangat berdampak besar pada anak mereka.

Dan Seandainya lingkungan lebih mengerti perasaan. Air mata gadis pirang itu mungkin tak akan menetes. Di balik sosok cantik, selalu ada rasa sakit yang tersimpan. Dan kini, aku memanggilnya Juvia. Aku ingin membantunya melupakan nama Alaa yang dibencinya.

Note : Kok aku tahu kalau dia berambut pirang, padahal dia berjilbab? Hayoo . . . eits.. jangan salah paham yaa. Aku melihat foto masa kecilnya. Sosok gadis mungil dengan mata biru dan rambut pirang. Memang keindahan rambut pirangnya tertutupi oleh jilbab, namun dengan itu wajahnya kian bercahaya.


»»  Baca Selengkapnya...

abcs